Watu Bale Pungangan Pekalongan

Home » Jawa Tengah » Pekalongan Kabupaten » Watu Bale Pungangan Pekalongan
Cari | Share | Tweet | WA | Print!.

Informasi situs Watu Bale Pungangan Pekalongan kami peroleh dari Kedi, saat berbincang di warung miliknya. Karena cukup jauh dari warungnya yang ada di halaman Makam Ki Gede Penatas Angin, Kedi hanya memberi petunjuk arah, dan tanda-tanda di jalan sebagai panduan.

Beberapa saat sebelumnya kami diantar Kedi ke Situs Baron Sekeber, peninggalan Hindu Budha di Desa Rogoselo, dengan menyeberang Kali Nggoromanik. Setelah pamit dan berterima kasih, kami bermobil menelusuri jalan kecil Dukuh Kopeng, Desa Pungangan ke jalan utama.

Yang saya sebut sebagai jalan utama adalah jalan sempit yang hanya bisa dilewati sebuah mobil kecil, membelah lereng perbukitan hutan karet yang dikelola oleh PTPN IX Unit Kerja Kebun Blimbing. Sesampainya di jalan itu kami berbelok ke kiri, mengikuti kelokan jalan naik turun, dengan jurang sangat dalam di sisi sebelah kiri dan sungai di dasarnya.

watu bale pungangan pekalongan
Setelah sekitar 3 km dari tempat Kedi, dengan melewati jalan sempit berkelok yang lumayan mendebarkan itu, sampailah kami ke penanda yang disebut oleh Kedi, yaitu adanya batu besar yang berhadapan di kiri kanan jalan. Ini menjadi penanda bahwa situs Watu Bale Pungangan Pekalongan sudah tidak begitu jauh lagi. Satu hal yang cukup membesarkan hati.

Beberapa saat sebelumnya kami sempat berhenti karena melihat ada sejumlah batu besar yang teronggok di lereng bukit di sebelah kanan. Saya turun dari kendaraan, dan memanjat lereng bukit hingga sampai di dekat rumah sangat sederhana yang bertengger di lereng bukit itu, hanya untuk mengetahui bahwa itu bukan Watu Bale yang tengah kami cari.

watu bale pungangan pekalongan
Setelah sekitar 3,6 km dari Dukuh Kopeng akhirnya sampailah kami ke situs yang disebut sebagai Watu Bale Pungangan Pekalongan. Situs ini masih berada di Desa Pungangan, Kecamatan Doro, namun tampaknya sudah bukan lagi di Dukuh Kopeng karena jaraknya yang sudah lumayan jauh. Sebuah batu raksasa terlihat bertengger di atas dua batu besar lainnya.

Tidak ada tempat parkir atau tempat memutar, sehingga mobil berhenti begitu saja di tengah jalan. Beruntung sepanjang perjalanan ini kami tidak berpapasan dengan satu mobil pun. Berpapasan dengan satu dua sepeda motor pun kami sudah mengalami kesulitan. Seingat saya, di jalan sepanjang 3-4 km itu hanya ada satu atau dua titik yang bisa untuk papasan mobil.

watu bale pungangan pekalongan
Wid bergaya dengan berdiri pada lubang di atas tebing dan kedua tangannya seolah sedang menyangga batu berukuran raksasa yang disebut sebagai Watu Bale Pungangan Pekalongan itu. Lubang di bawah batu raksasa ini cukup tinggi di bagian depannya, dan kemudian semakin ke belakang dan ke samping semakin memendek sehingga orang harus membungkuk.

Di sebelah kanan lubang ini ada lubang lain yang lebih kecil, namun lubang itu lebih tinggi dan aksesnya agak lebih sulit. Di ujung belakang batu raksasa adalah lereng perbukitan, dengan beberapa lubang kecil yang bisa digunakan oleh orang untuk menyelinap naik atau pun turun ke dalam lubang. Ruangan di bawah batu cukup lega untuk menampung beberapa orang.

watu bale pungangan pekalongan
Pandangan dari dalam lubang di bawah batu raksasa di situs Watu Bale Pungangan Pekalongan, memperlihatkan lubang yang ada di sebelah kiri yang lebih sempit, langit-langit lubang berupa bagian bawah batu raksasa yang permukaannya relatif mendatar meskipun berlekuk, serta batu-batu besar penyangga di bagian depan dan di sebelah kanan batu raksasa.

Ukuran batuan gunung yang berada di sisi sebelah kanan, dari tempat saya berdiri saat itu, sebenarnya jauh lebih besar dibandingkan dengan batu raksasa yang disangganya. Meskipun tidak semua sisi batu raksasa di atas itu disangga di sekelilingnya oleh batu lainnya, namun kondisi Watu Bale Pungangan Pekalongan ini terlihat sangat stabil.

watu bale pungangan pekalongan
Pandangan agak dekat ke bagian kanan situs Watu Bale Pungangan Pekalongan, dengan lubang berukuran lebih kecil diantara batu raksasa yang berada di bagian atas, dan batu penyangga yang berada di bawahnya. Selain lebih kecil ukuran lubang masuknya, tidak ada pula pijakan kaki yang enak pada tebing tegak untuk naik ke lubang yang ada di bagian itu.

Batuan raksasa semacam ini umumnya berasal dari magma menyusul erupsi gunung berapi yang kemudian mengalami proses pembekuan. Berdasar tempat pembekuan, batuan beku disebut Batuan Beku Dalam yang membeku jauh di dalam permukaan bumi, Batuan Beku Korok yang membeku di dekat lapisan kerak bumi dan Batuan Beku Luar yang membeku di permukaan bumi.

Batuan raksasa di situs Watu Bale Pungangan Pekalongan tampaknya merupakan jenis Batuan Beku Luar. Yang kurang jelas adalah letusan gunung apa yang membawa magma hingga sampai ke tempat ini, dan apakah Watu Bale itu posisinya terjadi secara alami atau ada campur tangan manusia. Gunung terdekat tampaknya adalah Gunung Rogojembangan, namun tak ada riwayat letusan dari gunung itu.

Agak lebih jauh lagi ada Gunung Petarangan, yang tampaknya juga tidak aktif, serta Gunung Bismo yang cukup besar, namun jaraknya sedikitnya 30 km dari lokasi Watu Bale Pungangan Pekalongan. Bagi saya yang tak kalah menarik adalah jalan sempit cukup menggetarkan untuk menuju ke situs ini. Kami pun harus terus berkendara lebih dari 1 km lagi lewat jalan sempit yang mendebarkan, sebelum menemukan tempat berputar untuk kembali ke Rogoselo.

Watu Bale Pungangan Pekalongan

Alamat: Desa Pungangan, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan. Lokasi GPS: -7.09949, 109.67889. Peta Wisata Pekalongan . Tempat Wisata di Pekalongan . Hotel di Pekalongan.

Share | Tweet | WA | Email | Print! | Tag: , ,

Oleh Bambang Aroengbinang. Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kirim pesan ke BA lewat email, atau lewat WA jika ingin menjadi penulis di Aroengbinang. Diperbaiki 19 Maret 2017.

Lalu «
Baru » »