Waduk Jatiluhur Purwakarta

Diperlukan percik pikir dan sedikit dorongan di hati untuk meminta supir keluar di pintu tol Purwakarta yang membuat saya akhirnya mengunjungi Waduk Jatiluhur Purwakarta. Waduk Ir.H. Juanda, nama resmi bendungan ini, adalah waduk PLTA terbesar dan tertua di wilayah Indonesia yang dibangun mulai 1957 semasa pemerintahan Presidan Soekarno.

Barangkali telah lebih dari ratusan kali saya melewati Jalan Tol Cipularang Purwakarta setelah tidak lagi memakai jalan provinsi selepas tol Cikampek. Namun baru kali ini saya tergerak mengunjungi Waduk Jatiluhur yang hanya beberapa kilometer dari pintu tol keluar Purwakarta. Saya rasa banyak yang belum terpikir untuk melakukan hal yang sama. Setelah keluar dari pintu tol Purwakarta, jalan aspal menuju ke arah Waduk Jatiluhur masih terpelihara dengan baik, dan tidak ada kesulitan mencapai bibir waduk yang sangat luas ini. Selama beberapa waktu, kami berkendara menelusuri jalan sepanjang tepian waduk yang airnya terlihat cukup jernih, hingga di ujung jalan buntu.

Kami pun balik arah dan mencari warung untuk mengisi perut. Ada cukup banyak warung sederhana di tepian Waduk Jatiluhur yang menawarkan ikan air tawar bakar atau goreng sebagai menu utama. Saya mampir ke sebuah warung yang masakannya cukup lezat, dan harganya pun wajar, tidak ngemplang seperti yang saya alami di Pantai Karang Bolong Serang.

waduk jatiluhur purwakarta
Dengan menyewa perahu motor dengan ongkos Rp.130.000 kami menyusuri Waduk Jatiluhur Purwakarta yang sangat luas ini dari sudut ke sudut, yang memakan waktu sekitar satu jam. Perahu berukuran sedang yang mampu mebawa sekitar 50 orang juga tersedia, dengan tiket seharga Rp.10.000 per orang untuk sekitar setengah jam berkeliling.

Ketinggian air di Waduk Jatiluhur ketika saya kunjungi itu masih pada tingkat yang maksimum karena curah hujan masih cukup tinggi di ujung musim penghujan yang memanjang. Pepohonan di tepi waduk yang biasanya berada di tempat yang kering agak jauh dari batas bibir waduk, saat itu terbenam di dalam air waduk yang cukup dalam.

Bersilangan dengan perahu yang saya tumpangi, seorang kakek tua meluncur dengan nyaman di atas perahu dayung sederhana. Waduk Jatiluhur terbentang pada daerah seluas 8.300 ha yang mampu menampung 12,9 miliar m3 air dalam setahunnya, menghasilkan rerata 1 juta KWh listrik per tahun yang dihasilkan dari 6 unit turbin raksasa.

waduk jatiluhur purwakarta
Jajaran gunung dan bukit yang mengelilingi Waduk Jatiluhur menyajikan panorama yang indah bagi para pengunjung yang berperahu di waduk yang elok ini. Di tengah waduk terdapat ‘pulau-pulau’ yang tersebar di beberapa tempat, dimana pengunjung bisa berhenti sejenak untuk menikmati makanan minuman dan pemandangan seputar Waduk Jatiluhur.

Di tengah Waduk Jatiluhur terdapat rumah-rumah apung yang disebut Kampung Air, dengan patok dan jaring untuk pembudidayaan ikan. Beberapa rumah apung terlihat memakai sel-sel matahari sebagai sumber tenaga untuk menyalakan lampu dan pesawat televisi. Maklum di tengah danau tentu tidak akan pernah ada sambungan listrik dari PLN.

Ketika melewati Kampung Air, seorang pria bertopi tampak tengah memberi makan ratusan ikan yang saling berebut menangkap pakan sehingga menimbulkan bunyi kecipak air yang cukup keras. Para peternakan ikan tawar ini memakan tempat yang cukup luas di tengah Waduk Jatiluhur, dan oleh karenanya memang layak disebut sebagai kampung air.

waduk jatiluhur purwakarta
Pemandangan yang terlihat saat kami mendekati kembali tempat dari mana sebelumnya kami berangkat naik perahu, untuk mengakhiri perjalanan. Air mengalun tenang saat perahu melaju di sepanjang perjalanan kami berkeliling Waduk Jatiluhur. Tidak ada angin atau pun gelombang air kuat yang mengganggu jalannya perahu yang kami tumpangi.

Mungkin perbukitan di sekeliling Waduk Jatiluhur telah secara efektif melindungi waduk dari terpaan angin kencang. Menjelang akhir perjalanan kami melipir bendungan memanjang tinggi yang membendung aliran Sungai Citarum dan menciptakan waduk ini. Anak-anak tampak bermain layangan di jalan yang berada di atas bendungan Waduk Jatiluhur itu.

Sayang, kami tidak diijinkan untuk pergi ke atas bendungan itu, sehingga tidak bisa melihat bagian belakang bendungan, sebagaimana yang bisa saya lakukan di Waduk Cirata. Penjaga mengatakan bahwa saat itu Waduk Jatiluhur tengah berada dalam kondisi perbaikan, dan pengunjung memerlukan ijin khusus untuk bisa masuk ke sana.

Pada perjalanan berikutnya melalui tol Cipularang, coba keluar di pintu tol Purwakarta, dan luangkan waktu sekitar 2 jam di Waduk Jatilihur untuk mencicipi hidangan ikan air tawar, lalu berkeliling waduk menumpang perahu untuk menikmati pemandangan perbukitan yang indah, serta melihat suasana Kampung Air yang berada di tengah waduk.

Waduk Jatiluhur Purwakarta

Alamat : Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta. Lokasi GPS : -6.5415328, 107.3914433, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Rujukan : Tempat Wisata di Purwakarta . Peta Wisata Purwakarta . Hotel di Purwakarta. Galeri (14 foto) Waduk Jatiluhur Purwakarta : 1.Perahu motor, 2.Jajaran gunung, 3.Mengalun, 4.Terbenam, 5.Alami 6.Perahu Angsa 7.Meluncur 8.Pakan Ikan 9.Kampung Air … s/d 14.Pintu Air.

Matched content

Bagikan tulisan ini di : Facebook | Twitter | WhatsApp | Email atau Print!
Home » Jawa Barat » Purwakarta » Waduk Jatiluhur Purwakarta
Tag :

Oleh Bambang Aroengbinang.

BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA.

Subscribe via email untuk kabar tulisan terbaru. Diperbarui pada 17 Juli 2017.

Sebelumnya : «
Berikutnya : »
Lihat pula : Sitemap