Upside Down World Bandung

Kunjungan kami ke tempat pelancongan Upside Down World Bandung ini terjadi karena melihat namanya saat sedang mengamati peta lokasi hotel tempat kami hendak menginap. Bunyinya cukup menarik perhatian, dan lokasinya lumayan strategis di daerah sekitar Dago dan Dipati Ukur, tak jauh pula dengan hotel tempat kami menginap, sehingga sudah saya niatkan berkunjung meski belum tahu persis isinya seperti apa.

Hanya yang terbayang di kepala adalah bahwa Upside Down World Bandung ini merupakan tempat hiburan keluarga kekinian seperti halnya Alive Museum yang ada di kawasan Ancol, Jakarta. Saat itu kami pergi ke Bandung bersama Essa, sehingga berharap tempat itu masih sesuai untuk dikunjungi oleh anak-anak seusianya. Beruntung kondisi lalu lintas di Jalan Tol Jakarta – Cikampek pagi itu sangat bersahabat. Lancar jaya. Demikian pula di Jalan Tol Cipularang hingga masuk Kota Bandung.

Menggunakan Waze, jika biasanya dari arah Klender kami diarahkan masuk pintu tol Bintara, namun saat itu kami diarahkan ke tol Pedati. Meski tak ngebut, namun hanya butuh 2 jam dari mulai saat menyalakan mesin mobil hingga sampai di Jl Dago. Itu terjadi mungkin karena hari Jumatnya adalah kebetulan libur nasional, dan kami berangkat hari Sabtu. Jadi mobil tampaknya sudah membanjiri Kota Bandung sehari sebelum kami berangkat.

upside down world bandung
Ini adalah salah satu tempat berfoto yang saya anggap paling baik di Upside Down World Bandung karena penataannya yang rapi dengan hasil foto cukup memukau. Tentu saja pengunjung tak harus jungkir balik untuk mendapatkan foto keren seperti ini. Tidak pula ada ruang hampa yang orang bisa melayang seenaknya. Untuk melihat foto asli Anda hanya perlu memutar komputer 180 derajat. Ada pula spot yang perlu memutar foto 90 derajat saja.

Meski terlihat sederhana, kenyataannya banyak pengunjung harus dibantu untuk difotokan oleh pemandu yang memang disediakan, kami pun tak terkecuali. Para pemandu berpengalaman itu memberi advis dimana poisi berdiri, bagaimana gaya kaki serta tangan terhadap benda-benda yang ada di sana. Mereka juga memutarkan sebagian hasil foto untuk melihat efek yang dihasilkan. Pengunjung tak membayar jasa mereka, hanya ada kotak kayu untuk memasukkan tips.

upside down world bandung
Ruang foto lainnya di Upside Down World Bandung yang tak kalah memikat, dengan warna dominan merah jambu dan pernak-pernik yang khas kamar anak perempuan. Mungkin fotonya akan terlihat lebih mengesankan jika saja dipotret saat meloncat sehingga tampak melayang di udara, namun tentu perlu kamera profesional dengan kecepatan shutter yang tinggi.

Pengunjung sudah melihat segala sesuatu secara terbalik saat mulai masuk ke serambi untuk membayar tiket. Hampir semua tulisan dan poster dibuat dengan posisi terbalik, termasuk tengara loket dan harga yang harus dibayar. Pengunjung yang tak masuk ke dalam area disediakan tempat menunggu dan bisa berfoto di serambi dengan sebuah TV terbalik serta kemudi kapal berukuran kecil.

upside down world bandung
Di Upside Down World Bandung para pengunjung juga bisa bergaya seolah bermain bola billiard sambil mengapung di langit-langit ruangan. Tentu saja bola tak bisa dipukul dan selamanya akan melekat pada meja billiard. Adanya pemandu gaya serta pengambil foto memang sangat membantu. Bagaimana pun pengunjung perlu mendapat pengalaman yang baik setelah membayar ongkos masuk yang cukup mahal.

Kepuasan dan kesan yang baik setelah kunjungan ke tempat pelancongan semacam ini sangat penting sebagai bahan promosi mulut ke mulut untuk survival bisnis. Selain itu tentunya perlu ada perawatan dan pemeliharaan yang baik serta penyegaran dekorasi setiap tahunnya untuk mampu menarik perhatian mereka yang pernah datang ke sana. Usaha kreatif memang hanya bisa bertahan dengan terus selalu kreatif dengan inovasi baru.

upside down world bandung
Salah satu area foto menarik di Upside Down World Bandung dengan pajangan sepeda antik dan kursi rotan serta hasil foto yang mengesankan. Di bagian lain ada ruangan dengan kursi dan meja makan yang diatasnya terdapat piring-piring berisi burger, sandwich, dan beberapa potong roti lainnya, dua gelas es jeruk, segelas juice jambu, dan segelas minuman berwarna hijau.

Lalu ada lemari pajang berisi 24 pasang sepatu wanita serta manekin. Ada pula area kamar mandi berisi bath tub, closet, wastafel dan perlengkapan mandi. Bergaya di sekitar mesin cuci dengan memegang tongkat pel juga menarik. Juga ada kitchen set dengan pintu warna-warni dan poster berbunyi “Home is where happy memories grow”. Lalu ada tempat bergaya di atas refrigerator yang penuh makanan minuman dan sebuah kue tart. Sebagai pelengkat di ujung ruangan ada booth tempat pengunjung berfoto berbingkai Instagram dengan 18,753 Likes.

Untuk berkunjung ke Upside Down World Bandung bisa datang melalui Jalan Dipati Ukur. Jika dari arah Simpang Dago, setelah melintasi Museum Perjuangan Rakyat Jawa Barat sejauh 275 meter ambil belokan ke kiri ke Jl Singaperbangsa dan lalu belok kanan ke Jl Bagusrangin. Jika datang dari Jl Dipati Ukur sebelah bawah (selatan) maka belok kanan sebelum Bank BRI Dipati Ukur / Hotel Puri Gardenia, masuk ke Jl Panatayuda dan lalu belok kiri ke Jl H. Wasid.

Tempat ini sebelumnya digunakan oleh cafe shop Potluck Kitchen yang tutup sekitar setahun lebih sebelum Upside Down World Bandung dibuka. Dengan jumlah area spot foto sekitar lima belasan yang habis difoto sepuasnya selama kurang dari setengah jam, tiket masuk seharga Rp 100.000 untuk dewasa dan harga separuhnya anak-anak memang masih terasa mahal. Namun yang pantas dipuji adalah para pemandu foto yang ramah dan sangat membantu.

Upside Down World Bandung

Alamat : Jl. H. Wasid No.31, Kota Bandung. Lokasi GPS : -6.8963847, 107.6171444, Waze. Jam Buka : 10.00 – 20.00 setiap hari. Harga Tiket Masuk : Rp 100.000, anak-anak Rp 50.000. Rujukan : Tempat Wisata di Bandung . Peta Wisata Bandung . Hotel Murah di Bandung, Hotel di Ciwidey.

Matched content

Bagikan tulisan ini di : Facebook | Twitter | WhatsApp | Email atau Print!
Home » Jawa Barat » Bandung Kota » Upside Down World Bandung
Tag :

Oleh Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email untuk kabar tulisan terbaru. Diperbarui pada 20 September 2017.

Sebelumnya : «
Berikutnya : »
Lihat pula : Sitemap