Tugu Batu Satam Belitung

Home » Bangka Belitung » Belitung » Tugu Batu Satam Belitung
Cari | Share | Tweet | WA | Print!.

Sebuah tugu agak tinggi dengan batu besar berwarna kehitaman di puncaknya, belakangan saya ketahui bernama Tugu Batu Satam Belitung, menarik perhatian saya ketika baru saja turun di depan Mie Belitung Atep, beberapa saat setelah meninggalkan Danau Kaolin. Lokasinya di tengah bundaran di pusat Kota Tanjung Pandan.

Tugu Batu Satam berada di lokasi yang cukup sibuk dengan seliweran sepeda motor dan juga kendaraan roda empat. Sehingga agak sulit atau bahkan hampir mustahil bisa memotret tugu ini tanpa menangkap seliweran motor di sampingnya. Kalau saja ada tripod bisa diakali.

Nama Batu Satam masih terdengar asing di telinga, dan tidak pernah pula terekam di dalam ingatan bahwa ada hubungan antara batu yang bernama aneh itu dengan Pulau Belitung. Belitung di ingatan ya Laskar Pelangi, tambang timah, dan pantai. Belakangan baru saya temui bahwa Belitung ternyata jauh lebih beragam dan menarik ketimbang semua yang telah disebutkan itu.

tugu batu satam belitung
Bundaran dimana Tugu Batu Satam berada, dengan kolam air mancur yang airnya mengucur hidup, dan jalur jalan pedestrian mulus mengelilinginya. Delapan pilar menyangga dudukan Batu Satam yang ukurannya cukup besar.

Sebuah tugu atau monumen dibuat tentu dengan maksud tertentu. Pikiran itulah yang menggerakkan kaki untuk mendekat dan memotretnya, meskipun pemandangan di sekitar bundaran belum begitu mendukung dan perlu untuk ditata ulang.

Rupanya Tugu Batu Satam dibuat selain sebagai tengara kota, juga sekaligus untuk mempromosikan adanya Batu Satam yang terkenal di kalangan para penggemar batu dan perhiasan sebagai cindera mata yang khas dari daerah Belitung.

tugu batu satam belitung
Seliweran pengendara motor di bundaran Tugu Batu Satam. Satam adalah kata jadian yang berasal dari bahasa Tionghoa Sa yang berarti pasir, dan Tam yang berarti empedu. Batu Satam ditemukan berada diantara biji timah oleh para penambang timah darat di Belitung, sehingga seolah menjadi empedu pasir meskipun warnanya hitam mengkilat bukan hijau gelap.

Tidak ditemukan informasi kapan Tugu Batu Satam Belitung ini diresmikan, namun tampaknya baru setahun atau dua tahun sebelum saya memotretnya, jika membaca berita terkait pembuatan tugu ini di beberapa media online.

Batu Satam sendiri telah lama ditemukan, bersamaan dengan kegiatan penambangan Timah di Belitung, yaitu pada paruh kedua abad ke-19. Tercatat pada tahun 1921, ketika datang ke Belitung seorang insinyur berkebangsaan Belanda bernama N. Wing Easton menyebut batu ini dengan nama “Billitonite”, atau batu Belitung.

Secara ekonomi peran Batu Satam tampaknya cukup penting bagi Belitung, sehingga Tugu Batu Satam pun dibuat, dan rupanya cukup efektif. Terbukti saya menjadi tahu tentang Batu Satam dengan melihat tugu ini. Tanpa tugu ini saya tentu sudah duduk manis di warung untuk makan Mie Belitung.

tugu batu satam belitung
Batu di puncak tugu Batus Satam dilihat dari dekat. Batu Satam adalah pecahan meteor yang menubruk Bumi sekitar 780.000 tahun lalu. Dikenal di dunia sebagai tektites (Yunani tektos, leleh) dengan ukuran sebesar kerikil berujud gelas mengkilap alami berwarna hitam, hijau, coklat atau abu-abu yang terbentuk dari puing-puing meteor yang terlontar dan meleleh selama benturan di luar angkasa.

Batu Satam di Belitung nampaknya hanya yang berwarna hitam mengkilap dengan tekstur yang khas. Selain di Belitung, batu sejenis juga telah ditemukan di beberapa tempat di Pulau Jawa, Kalimantan, Filipina, Timur Tengah, Cekoslawakia dan juga di benua Australia.

Di sebelah kanan Tugu Batu Satam terdapat benda cagar budaya gedung eks-Kantor Billiton Mij yang pernah menjadi pengendali semua kegiatan penambangan di wilayah Belitung. Sayang sekali keaslian bangunan ini tidak dipertahankan, termasuk warna cat dan ornamennya yang telah bertambah namun malah merusak nilainya.

Di sekitar Tugu Batu Satam ini pejalan juga bisa menemukan toko-toko perhiasan yang menjual Batu Satam, baik yang masih berupa butiran-butiran sepanjang beberapa cm sampai yang sudah berupa perhiasan, seperti cincin, giwang, bros dan gantungan kalung. Harganya bervariasi dari Rp. 150.000 – Rp. 400.000, bergantung ukuran dan apakah sudah dipoles atau masih asli.

Foto Tugu Batu Satam selengkapnya: 4.Promosi 5.Nilai Ekonomi 6.Hitam

Tugu Batu Satam Belitung

Bundaran Pusat Kota, Tanjung Pandan, Belitung. Peta), Tempat Wisata di Belitung, Hotel di Belitung

Share | Tweet | WA | Email | Print! | Tag:

Oleh Bambang Aroengbinang. Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kirim pesan ke BA lewat email, atau lewat WA jika ingin menjadi penulis di Aroengbinang. Diperbaiki 19 Maret 2017.

Lalu «
Baru » »