Permainan Pikir di Jalan

Jika tinggal di Jakarta, Anda perlu meninggalkan rumah lebih awal untuk menghindari kepadatan lalu lintas di jalan ke kantor atau untuk mengantar anak-anak ke sekolah. Ambil saya sebagai contoh. Biasanya saya bangun di sekitar pukul 04:45, dan segera pergi ke kamar anak-anak untuk membangunkan dan meminta mereka untuk mandi.

Karena setap dari mereka ingin tinggal di tempat tidur sedikit lebih lama, untuk menghindari perdebatan rutin akhirnya kami sepakat dengan pengaturan: Ayu harus mandi pertama pada hari Senin, diikuti oleh Rangga dan Wiwid. Pada hari Selasa, Rangga mengambil giliran pertama diikuti oleh Wiwid dan Ayu, demikian seterusnya.

Sebagai insentif, anak yang mandi pertama bisa menempati kursi depan di dalam mobil. Sejak Ayu tinggal di Depok agar dekat dengan sekolahnya, tinggal dua anak yang tersisa. Tapi tetap kami selalu bangun pada waktu yang sama, dan meninggalkan rumah sebelum jam enam. Itu karena anak-anak sekolah di dua lokasi yang berbeda, dan kantor saya terletak di daerah “three in one”, yang saya tak bisa lalui setelah pukul 07.00 karena hanya sendirian di mobil. Oleh karena itu, saya masih perlu buru-buru pergi ke kantor setelah mengantar Wiwid, jadi bisa duduk di kursi nyaman di kantor saya sebelum jam tujuh.

Selama tahun-tahun itu, di saat-saat ketika saya berjuang melewati lalu lintas jalan yang berat, saya menemukan sesuatu yang menarik tentang perilaku pengemudi mobil yang mungkin mencerminkan pendekatan mereka dalam hidup, karir, dll.

Kami tinggal di Jakarta timur. Ketika semua anak-anak belajar di Labschool Rawamangun, sekitar 7 KM dari rumah, kami melewati jalan padat bernama I Gusti Ngurah Rai.

Angkutan umum seperti Metromini (bus ukuran sedang dengan warna oranye kuat) dan Mikrolet (lebih kecil ukurannya), sering berhenti di jalur kiri untuk mengambil penumpang. Ada juga di beberapa lokasi di mana mobil memasuki jalan utama dari jalan-jalan kecil yang menyebabkan lalu lintas lebih padat di jalur kiri.

Dengan pikiran seperti itu, kebanyakan orang cenderung untuk mengambil jalur kanan dengan harapan bahwa mereka dapat melaju lebih cepat, dan tidak terganggu oleh Metromini atau Mikrolet yang sering berhenti.

Tapi anehnya, banyak mobil yang menggunakan jalur kanan justru cenderung bergerak lebih lambat dibandingkan mereka yang menggunakan yang kiri. Mengapa?

Salah satu kemungkinannya adalah bahwa jumlah pengendara pengambil risiko (PR) jauh lebih sedikit dari orang yang takut resiko (TR). Dengan sejumlah besar mobil TR ada di jalur kanan, selalu ada ruang kosong tersedia di jalur sebelah kiri. Tetapi mengetahui bahwa akan ada risiko berhenti di belakang Metromini atau Mikrolet yang menaikkan penumpang, maka pengendara mobil TR cenderung tetap mengemudi di jalur kanan, dan tidak ingin mengambil risiko untuk pindah ke jalur kiri.

Pengemudai PR, di sisi lain, cenderung mengambil risiko. Sehingga mereka akan dengan cepat memindahkan mobilnya mengisi ruang kosong di jalur kiri. Ketika Metromini berhenti, mereka akan mencoba untuk cepat pindah ke jalur kanan. Sebagian besar orang TR adalah pengemudi lambat, dan orang-orang baik, dan karenanya cenderung membiarkan pengemudi PR memotong jalan mereka. Itu sebabnya lalu lintas jalur kanan cenderung lebih lambat. Tentu saja hal ini tidak mungkin terjadi di kota-kota besar lainnya, tapi ini Jakarta bung!

Jadi bagaimana dengan Anda? Apakah biasanya mengambil jalur kanan atau kiri? Apakah Anda mencoba untuk bergerak maju lebih cepat, atau hanya senang bergerak maju secara lambat tapi pasti. Apakah Anda pengambil risiko atau takut risiko? Mana yang benar-benar baik?

Itu tergantung. Bagi saya, adalah bagaimana Anda melihatnya, dan karena itu merupakan permainan pikiran. Hal yang lebih penting adalah apakah Anda dapat menikmatinya atau tidak. Jika Anda menikmati sensasi dengan menjadi pengambil risiko, kemudian bisa hidup dengan itu dan mampu bermain dengan cukup baik. Sementara itu, adalah lebih baik untuk tidak membuat marah orang dengan memotong jalan mereka saat menuju ke puncak.

Matched content

Bagikan tulisan ini di : Facebook | Twitter | WhatsApp | Email atau Print!
Home » Blog » Renungan » Permainan Pikir di Jalan
Tag :

Oleh Bambang Aroengbinang.

BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA.

Subscribe via email untuk kabar tulisan terbaru. Diperbarui pada 20 Maret 2017.

Sebelumnya : «
Berikutnya : »
Lihat pula : Sitemap