Universitas Bos

Kemarin saya menghadiri pengantar pertemuan dengan manajer senior dari sebuah perusahaan yang berlokasi di Jl TB Simatupang. Orang-orang ini, mereka semua, telah melayani perusahaan selama lebih dari 20 tahun, dua berada di atas 25 tahun, dan CEO sendiri memiliki rekor lebih dari 30 tahun.

Bekerja selama hidup dulunya identik dengan perusahaan Jepang. Sementara banyak perusahaan jepang telah meninggalkan praktek lama itu, sebagian karena persaingan yang sengit, perusahaan Eropa yang saya sebut di atas itu ternyata tidak hanyaampu m bertahan tetapi juga berkembang subur dengan adanya para pegawai lama itu.

Salah satu dari banyak pelajaran yang saya dapatkan ketika saya bekerja di sebuah perusahaan Jepang adalah bahwa bekerja sepanjang hidup juga memiliki sisi gelap. Ketika saya mengunjungi salah satu pusat penelitian perusahaan itu di Tokushima, saya melihat seorang pria berusia lima puluhan tahun tengah melakukan pekerjaan di sudut ruangan.

Mengetahui bahwa saya memperhatikan kepada orang itu, seseorang berbisik bahwa pria itu dulunya orang penting di perusahaan dan memiliki kantor yang sangat besar dan bagus. Karena beberapa alasan ia terdegradasi, mendapat pekerjaan sepele dan diberi meja kecil di sudut ruangan yang terbuka.

Sambil berjalan keluar dari ruangan, saya mengatakan kepada diri sendiri bahwa mungkin lebih baik jika ia dipecat saja daripada dipermalukan seperti itu. Tapi jika Anda kehilangan pekerjaan di Jepang pada waktu itu, hampir tidak mungkin untuk mendapatkan pekerjaan yang baru. Tampaknya memang dia tidak punya pilihan.

Saya mendapat kesempatan yang baik untuk bekerja di 8 perusahaan yang berbeda sejak 1986. Yang terpendek adalah bekerja hanya selam 6 bulan, dan yang terpanjang adalah 7 tahun, sisanya antara 2-3 tahun. Oleh karena itu saya mendapat kesempatan untuk bekerja dengan bos yang berbeda, dan bertemu banyak wajah-wajah baru juga.

Pada suatu waktu saya berpikir bahwa mungkin saya akan menjadi orang yang lebih baik jika bisa belajar sisi baik dan sisi buruk dari semua atasan dan bekas saya. Jika saja saya tahu konsep tacit knowledge lebih awal sehingga aku bisa mengamati perilaku mereka dengan lebih baik, memiliki peluang untuk meniru dan mempraktekannya sementara orangnya masih beredar di sekitar saya. Jika itu terjadi akhirnya saya akan bisa terbebas dan menjadi apa yang saya inginkan.

Bagaimana pun saya masih bisa mengingatnya, meskipun ingatan itu yang hampir hilang, tapi biarkan begitu saya harus mencobanya.

Bos pertama adalah seorang supervisor berusia di awal lima puluhan tahun. Orang ini dihormati terutama karena dia tahu bagaimana menghormati bawahannya.

Bos kedua membangun dan memelihara hubungan dengan para pemegang saham dengan bermain biliar dan golf dengan mereka.

Bos ketiga adalah seorang pria Jepang yang kesetanan kerja. Ia bekerja sangat keras sepanjang hari, cukup aktif dan sering pergi ke lapangan untuk menemui pelanggan dan untuk mendapatkan informasi tangan pertama. Ia menikmati kehidupan malam hari. Orang itulah yang memperkenalkan saya dengan sebuah bar karaoke di kawasan Blok-M. Ia seorang penyanyi dengan suara yang baik.

Bos berikutnya adalah orang yang sangat aktif dalam organisasi profesi untuk meningkatkan posisinya di perusahaan. Saya selalu berkata kepada diri sendiri bahwa dia tidak pintar, tapi dia memanfaatkan apa yang ia punya sampai maksimum. Hasilnya jauh lebih mengesankan dibandingkan dengan mereka yang jauh lebih cerdas.

Berikutnya lagi adalah orang Jepang pintar yang berpendidikan baik dan memiliki perhatian kuat untuk hal-hal detail, dan mendapat hasil kerja dengan merancang dan memperbaiki skema insentif yang agresif, dan mendorong orang sampai batas kemampuan mereka.

Selanjutnya adalah adalah seorang expat warga AS kelahiran Filipina dengan latar belakang keuangan kuat, suaranya lunak, sikap kebapakan, melakukan pertemuan manajemen rutin mingguan, selalu informasi berbagi apa yang terjadi di kantor regional dan kantor pusat, koneksinya sangat baik dengan eksekutif puncak perusahaan, teratur mengundang semua pegawai untuk pesta di apartemennya, mengirim manajer ke berbagai pertemuan di luar negeri dan ke berbagai pelatihan, sering mentraktir makan di restoran eksklusif.

Saya tidak akan memberitahu Anda atasan saya saat ini, belum, mungkin nanti, tapi apa yang saya bisa beritahu Anda sekarang adalah bahwa dia orang yang baik, dan tentu saya belajar sesuatu darinya.

Nah, itu saja, potret sekelebat. Sekarang, saya ingin ikut belajar dari “universitas bos” Anda, jika tidak berkeberatan untuk berbagi.

Matched content

Bagikan tulisan ini di : Facebook | Twitter | WhatsApp | Email atau Print!
Home » Blog » Renungan » Universitas Bos
Tag :

Oleh Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email untuk kabar tulisan terbaru. Diperbarui pada 21 Maret 2017.

Sebelumnya : «
Berikutnya : »
Lihat pula : Sitemap