Taman Suropati Jakarta

Home » Jakarta » Jakarta Pusat » Taman Suropati Jakarta
Cari | Share | Tweet | WA | Print!.

Jika ada taman elok di Jakarta yang pertama saya ketahui dan kunjungi maka itu sudah pasti Taman Suropati Jakarta. Letaknya memang sangat strategis di pertemuan Jl Diponegoro dan Jl Imam Bonjol, di ujung Jl Teuku Umar di sisi Utara serta di ujung jalan simetris Jl Besuki dan Jl Samsurizal di sisi Barat dan Timur.

Taman Suropati Menteng Jakarta

Alamat: Jl. Taman Surapati, Menteng, Jakarta Pusat. Lokasi GPS: -6.199798, 106.832578, Waze. Rujukan: Peta Wisata Jakarta. Tempat Wisata di Jakarta . Hotel di Jakarta Pusat.
Galeri (20 foto): 1.Tengara . 2.Kursi Jokowi . 3.Merpati . 4.Fraternity . 5.Diponegoro . 6.Chandhanaphalin . 7.Keterangan . 8.Kandang . 9.Denah … s/d 23.Bercengkerama.

Di ujung Jl Besuki arah ke Barat  terdapat Taman Menteng, sedangkan Jl Samsurizal arah ke Timur berujung Jl Surabaya yang terkenal sebagai pasar Barang Antik dan Barang Bekas berkelas. Lewat Jl Samsurizal atau Jl Teuku Umar kita juga bisa ke Taman Situ Lembang.

Yang membedakan Taman Suropati dengan Taman Situ Lembang dan Taman Menteng adalah adanya patung-patung artistik yang menghiasi taman warisan Belanda ini, serta adanya gerombolan Burung Merpati yang dilepas bebas dengan rumah panggungnya yang tinggi.

taman suropati menteng jakarta
Tengara Taman Suropati di sisi Jalan Diponegoro. Taman Suropati memang elok sejak jaman kolonial lantaran menjadi pusat kawasan elit Menteng, dan lokasinya belakangan sangat dekat dengan rumah dinas Gubernur DKI Jakarta serta rumah pejabat tinggi negara setingkat wakil presiden. Di sebelah Barat ada kediaman Dubes AS yang karena ketatnya pengamanan kadang membuat dongkol pejalan yang melintas maupun yang ingin memotret Taman Suropati.

Taman in semula bernama Burgemeester Bisschopplein, dan Perancangnya adalah PAJ Mooejen dan FJ Kubatz. Nama taman berasal dari nama Walikota (Burgemeester) Batavia pertama, yaitu G.J. Bisshop (1916-1920). Pieter Adrianss Jacobus Moojen, sang arsitek, tinggal dan bekerja di Indonesia pada 1904 – 1929. Ia berperan besar dalam merancang dan membangun kawasan Nieuw-Gondangdia, nama awal wilayah Menteng. Moojen merancang pola Menteng (pola radial) pada 1910 dan disetujui dewan kota praja pada 1912. Rancangan itu kemudian dikenal sebagai Rencana Moojen.

taman suropati menteng jakarta
Beberapa anak muda tampak tengah berbincang di tepi area terbuka yang luas di sisi Selatan taman, sementara seorang pria muda lainnya tengah duduk di kursi Jokowi sambil menggesek biolanya. Tak jelas lagu apa yang ia mainkan. Saya sempat menyapa pemain biola yang kelihatan masih canggung bermain di tempat itu.

Kabarnya setiap Minggu pagi sampai sore ada komunitas pemain musik yang menamakan diri Taman Suropati Chambers yang bermain dan berlatih di sana. Anggota komunitas ini telah mencapai lebih dari 100 orang yang kebanyakan pemain biola dan gitar. Taman Suropati tampaknya bukan lagi menjadi tempat olah raga dan rekreasi gratis, namun juga menjadi penyalur kegiatan berkesenian warga Jakarta.

Sebuah prasasti di taman menjelaskan keberadaan monumen dan patung yang ada di Taman Suropati, yang disebut sebagai Monumen ASEAN, menampilkan karya pematung dari enam negara yang menjadi pendiri ASEAN. Dari Thailand dengan Fraternity (Persaudaraan), Indonesia Peace (Perdamaian), Singapore Spirit of ASEAN (Semangat ASEAN), Malaysia Peace, Harmony and One, dan Brunei Darussalam Rebirth (Kelahiran kembali). Patung Spirit of ASEAN dibuat oleh Wee Beng Chong dari Singapura. Seniman dan perupa patung terkenal yang lahir di Singapura pada 22 November 1938 ini adalah penerima pertama the Cultural Medallion pada 1979 yang digagas oleh Ong Teng Cheong, Presiden, dan kemudian Menteri Kebudayaan Singapura.

taman suropati menteng jakarta
Dua ibu muda dengan putera-putera lelakinya tampak tengah bercengkerama dengan Burung Merpati di Taman Suropati. Memberi makan burung bisa menjadi tontonan menghibur di Taman Suropati ini, meskipun harus membawa sendiri biji-bijian dari rumah. Tak ada hitungan resmi berapa jumlah merpati yang ada di taman ini. Yang pasti puluhan, tapi tampaknya tak sampai ratusan. Tak jelas apakah masih ada petugas yang secara teratur memberi makan burung-burung itu.

Taman Suropati sekarang sudah jauh lebih nyaman dengan adanya bangku-bangku kayu Jokowi. Sebelum ada bangku Jokowi, ada tempat duduk beton, beberapa bangku, dan deretan pipa besi yang ditekuk menjadi tempat duduk. Taman Suropati mengalami renovasi pada 2009 – 2010 hingga bentuknya seperti terlihat sekarang ini. Sedangkan bangku taman Jokowi baru dipasang tahun 2014. Demikian juga fasilitas wifi gratis berkecepatan tinggi.

Patung Harmony karya Awang Hj Latif Aspar dari Brunei Darussalam terlihat di salah satu bagian taman. Sedangkan patung Rebirth karya Luis E. Yee Jr (Junyee) dari Philippines terletak di pojok taman yang dekat dengan Jl Diponegoro dan Jl Imam Bonjol. Cungkup yang di dalamnya terdapat patung Rebirth merupakan satu-satunya tempat berpeneduh di Taman Suropati, selain Pos Jaga.

Ada denah taman dan keterangan yang cukup rinci terpasang di sisi kanan taman, diantaranya menyebutkan bahwa lahan tanaman hias di taman ini memiliki luas 1.173 m2 dari luas keseluruhan 16.328 m2, dengan 93 pohon pelindung. Jenis vegetasinya adalah Mahoni (Swietania mahagoni), Sawo Kecik (Chrysophiliium sp), Ketapang (Terminalia catappa), Tanjung (Mimusop elengi), Bungur (Lagerstromea loudonii), dan Khaya (Khaya senelaensis L).

taman suropati menteng jakarta
Patung Fraternity karya Nonthivathn Chandhanaphalin. Pematung yang lahir pada 16 October 1946 ini adalah juga dosen di Sculpture Department, Faculty of Painting Sculpture and Graphic Arts, Silpakorn University, Bangkok, Thailand. Ia juga menjadi President of The Thai Sculptor Association sejak tahun 1982. Tulisan berisi keterangan singkat mengenai patung dibuat pada kotak beton berukuran kecil yang bisa dilihat dari jalur pedestrain utama yang membelah Taman Suropati.

Saya pernah beberapa kali mampir pagi-pagi di Taman Suropati untuk jalan pagi sebelum pergi ke kantor, namun belum pernah pergi ke sana pada Sabtu pagi atau Minggu pagi untuk menikmati keramaian. Malam hari pun, terutama Sabtu malam, tampaknya juga menyenangkan untuk berjalan-jalan menikmati suasana taman, atau sekadar duduk-duduk sembari makan jajanan dan berselancar menggunakan wifi gratis.

Di jam sibuk pengendara mobil kini tidak lagi bisa parkir di sekeliling taman. Hanya motor yang diperbolehkan. Pengunjung bisa di Masjid Agung Sunda Kelapa atau di halaman Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Saat saya ke sana kebersihan Taman Suropati tampak terjaga. Seorang petugas kebersihan mengatakan bahwa sedikitnya ada 17 petugas yang menyapu Taman Suropati, dan dalam sehari taman ini dibersihkan 3 – 5 kali.

Share | Tweet | WA | Email | Print! | Tag: , ,

Oleh Bambang Aroengbinang. Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kirim pesan ke BA lewat email, atau lewat WA jika ingin menjadi penulis di Aroengbinang. Diperbaiki 26 Mei 2017.

Lalu «
Baru » »