Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan

Home » Sumatera Barat » Bukittinggi » Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan
Cari | Share | Tweet | WA | Print!.

Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan merupakan sebuah area rekreasi keluarga dan wisata budaya di Kota Bukittinggi yang kami kunjungi dengan berjalan kaki menyeberangi Jembatan Limpapeh, sesaat setelah selesai melihat Benteng Fort de Kock. Memasuki area Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan, akan segera terlihat sebuah kandang Gajah, serta Rumah Adat Baanjuang yang digunakan sebagai museum.

Sayang sekali mungkin karena hari sudah terlalu sore, maka Rumah Adat Baanjuang itu pintunya telah tertutup rapat ketika kami tiba di sana, sehingga hanya bisa memotret bagian luar bangunannya saja.

Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan
Pohon tua dengan jumlah cabang yang tak terhitung banyaknya, dirimbuni oleh tumbuhan lumut dan paku-pakuan, telah menarik perhatian saya ketika memasuki kawasan Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan ini.

Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan
Sebuah Rangkiang, lumbung padi khas suku Minangkabau, serta patung beberapa orang gadis yang tengah menumbuk padi, terdapat di depan Museum Rumah Adat Baanjuang .

Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan
Bangunan Museum Rumah Adat Baanjuang di Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan, dilihat dari sisi sebelah kanan, dengan tiang-tiang kayu tinggi penyangga bangunan rumah panggung, yang dinding luarnya dipenuhi dengan detail ornamen indah, serta bentuk atap meruncing tinggi menusuk langit.

Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan
Pintu masuk ke dalam Museum Rumah Adat Baanjuang. Museum ini didirikan pada 1 Juli 1935 dengan nama Mondelar, dan kemudian mengalami perubahan nama beberapa kali menjadi Museum Baanjuang, Museum Bundo Kanduang dan baru pada tahun 2005 berubah namanya manjadi Museum Rumah Adat Baanjuang.

Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan
Sebuah bangunan adat kecil di sebelah kanan Museum Rumah Adat Baanjuang telah menarik perhatian saya untuk mendekatinya. Sebuah benda bulat ada di tengahnya yang dari jauh tampak seperti terbuat dari logam.

Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan
Apa yang tampak seperti logam di mata saya, ternyata bulatan kulit lembu yang menjadi ujung sebuah bedug berukuran sangat panjang, yang baru pernah saya lihat di Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan ini.

Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan
Dua buah rangkiang yang berada di depan Museum Rumah Adat Baanjuang di Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan itu bernama Sibayau-Bayang dan Sitinjau Lauik. Jika ingin masuk ke museum ini pengunjung cukup membayar Rp. 1.000 untuk melihat koleksi museum yang dibagi ke dalam kelompok etnografi, numismatik, dan biologi.

Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan
Dua ekor gajah yang keduanya dirantai kakinya dengan ketat. Gajah-gajah ini kabarnya memang tidak begitu jinak, dan kadang menyerang petugas pembersih sampai menimbulkan luka yang cukup serius.

Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan
Sekelompok Rusa Totol koleksi Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan.

Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan
Jenis Rusa Totol berbulu dan bertanduk indah ini jumlahnya cukup banyak di Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan.

Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan
Binatang gurun pasir pun bisa dijumpai di Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan ini.

Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan
Seekor anak kijang, dan seekor binatang lain yang tidak diketahui namanya.

Kompleks ini dibangun tahun 1900 oleh Controleur Strom Van Govent sebagai kebun bunga yang dinamai Kebun Bunga “Strom Park”. Pada tahun 1929 area ini dijadikan kebun binatang oleh Dr. J. Hock, seorang dokter hewan, dan menjadi satu-satunya kebun binatang di Sumatera Barat.

Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan
Gerbang masuk ke dalam Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan yang diakses melalui Jalan Cindur Mato, Pasar Atas, dan sekaligus sebagai gerbang keluar jika kita masuk melalui kawasan Benteng Fort de Kock.

Jika kita memiliki cukup banyak waktu, Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan ini cocok untuk dinikmati sambil berjalan santai di pagi atau sore hari, sambil menikmati pemandangan Kota Bukittinggi di pagi dan senja hari, dengan silir hawa perbukitan yang sejuk dingin.

Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan

Alamat: Bukit Cubadak Bungkuak, Jalan Cindur Mato, Pasar Atas, Bukittinggi, Sumatera Barat. Tempat Wisata di Bukittinggi, Hotel di Bukittinggi, Peta Wisata Bukittinggi

Share | Tweet | WA | Email | Print! | Tag: , ,

Oleh Bambang Aroengbinang. Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kirim pesan ke BA lewat email, atau lewat WA jika ingin menjadi penulis di Aroengbinang. Diperbaiki 19 Maret 2017.

Lalu «
Baru » »