Taman Fatahillah Jakarta

Adalah karena melihat poster tentang diselenggarakannya pagelaran kolosal oleh Museum Sejarah Jakarta berjudul “Rekonstruksi Sejarah Penyerangan Sultan Agung ke Batavia 1628 – 1629” maka kunjungan ke Taman Fatahillah Jakarta itu terjadi. Pagelaran itu berlangsung pada 16 – 17 November pada pukul 10.00 – 14.00.

Kami berjalan kaki ke Jl I Gusti Ngurah Rai, menumpang Metromini dan turun di Halte Tugas dekat Kawasan Industri Pulogadung (sekarang ada buswa dari Pulo Gebang ke Pulo Gadung). Setelah naik Bus TransJakarta Pulogadung – Dukuh Atas itu kami turun di Halte Dukuh Atas untuk transit ke Bus TransJakarta jurusan Blok M – Kota. Turun di Halte Kota TransJakarta, lalu menyeberang lewat lorong bawah tanah, keluar di Jalan Pintu Besar Selatan. Kami mencoba naik ojek sepeda dengan membayar Rp. 5.000 untuk ke Taman Fatahillah, meskipun jaraknya dekat saja.

Ada sensasi tersendiri ketika dibawa berputar naik sepeda lewat Jl Kalibesar Timur di tepi Kali Krukut. Pada kunjungan berikutnya ke Taman Fatahillah saya naik angkot ke Stasiun KA Buaran, dan lalu menumpang KRL jurusan Bekasi – Kota. Turun di Kota, tinggal jalan kaki menyeberang jalan di depan Stasiun Kota ke Taman Fatahillah. Lebih cepat dan nyaman. Bisa mampir dulu ke Museum Bank Mandiri dan Museum Bank Indonesia, yang letaknya bersebelahan.

taman fatahillah jakarta
Pemandangan pada Taman Fatahillah dengan latar belakang Museum Fatahillah (Museum Sejarah Jakarta). Di sebelah kanan adalah gedung Museum Wayang. Di sisi kanan ada Cafe Batavia dan Gedung Kantor Pos, dan di belakang saya ada Museum Seni Rupa dan Keramik. Sekali datang ada banyak tempat yang bisa dikunjungi.

Meskipun namanya taman, namun tak ada pepohonan atau pun tanaman rimbun. Tak ada pula tanah. Semuanya area sudah dipasang dengan semacam batu potong atau keramik. Nyaman dan gersang. Tinggal ada bekas pokok pohon mati yang dibiarkan merana. Semerana meriam lapangan yang dipasang di depan gedung museum. Di Taman Fatahillah biasanya bisa dijumpai Ondel-ondel, yang biasanya dibuat dari anyaman bambu. Topeng Ondel pria biasanya dicat merah dan berkumis, sedangkan topeng wanitanya putih. Diduga Ondel-ondel telah ada sebelum Islam menyebar di Jawa. Pertunjukan Ondel-ondel sering diiringi musik tanjidor, namun ada pula yang diiringi Pencak Betawi, dan bunyian peralatan musik lain seperti Bende, Kemes, Ningnong dan Rebana ketimpring.

taman fatahillah jakarta
Para pemeran pasukan Sultan Agung bergerak meninggalkan tengah Taman Fatahillah setelah melakukan sebuah adegan pada pagelaran kolosal waktu itu. Perhatikan Bendera Kesultanan Mataram yang dibawa seorang prajurit. Bendera berdasar warna merah itu bergambar bulan sabit berwarna putih dan sepasang keris telanjang menyilang bergagang putih dan warna bilah biru.

Bulan sabit jelas menunjukkan pengaruh Islam, kemungkinan Kesultanan Ottoman, sedangkan keris adalah senjata tradisional utama orang Jawa ketika berperang tanding. Tak jelas apakah kedua keris itu melambangkan Keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten yang selalu berpasangan dan menjadi perlambang bersatunya kawula dengan gusti (rakyat raja), atau simbol bersatunya manusia dengan Tuhan (manunggaling kawula Gusti). Sultan Agung mengirim pasukan dua kali untuk menyereng Belanda di Batavia. Serangan pertama berlangsung Agustus – Oktober 1628, dan serangan kedua Mei – Juni 1629. Kedua serangan gagal karena kekalahan intelijen, logistik, strategi perang, serta persenjataan. Pada serangan kedua, pasukan Sultan Agung membendung dan mengotori Sungai Ciliwung yang mengakibatkan timbulnya wabah kolera di Batavia, dan Gubernur Jenderal VOC J.P. Coen meninggal karena wabah itu.

patung manusia taman fatahillah
Sepeda sewa dengan cat warna-warni mencorong yang dulu hanya beberapa buah, kini terlihat berjejer di Taman Fatahillah dalam jumlah banyak. Sepeda menjadi pilihan untuk berkeliling di Kota Tua karena luas dan cukup banyak yang bisa dilihat. Berfoto di samping atau di atas sadel sepeda dengan mengenakan topi kuno berlatar belakang bangunan dari jaman kolonial juga akan menjadi kenangan tersendiri.

Di Taman Fatahillah pengunjung akan melihat penampilan dari kelompok yang menamakan diri mereka Manusia Levitasi Indonesia. Salah satu yang saya lihat waktu itu berpakaian dan bersikap menyerupai patung hidup Panglima Besar Jenderal Sudirman. Pejalan bisa berfoto dengan mereka dan lalu meletakkan uang sesukanya di kotak penampung derma.

ondel-ondel taman fatahillah
Air Mancur di tengah Taman Fatahillah ini direkonstruksi berdasar lukisan pegawai VOC asal Denmark bernama Johannes Rach. Airnya dari Pancoran Glodok yang dialirkan dengan pipa ke stadhuiplein, nama Taman Fatahillah di jaman kolonial. Pada 1972 dilakukan penggalian di tempat ini dan berhasil ditemukan pondasi air mancurnya, lengkap dengan pipa-pipanya.

Tontonan lain di taman ini adalah boneka joged. Lumayan menghibur seperti tampak pada video di atas. Sebelum pulang, saat hujan masih rintik, kami sempatkan mampir di Kedai Seni Djakarta di sisi Barat Taman Fatahillah, sejajar dengan Museum Wayang, untuk menyeruput teh hangat, dan mengudap pisang bakar keju serta kentang goreng. Makanan di sini lumayan sedap dan lebih murah dibanding Cafe Batavia.

Taman Fatahillah adalah tempat yang orang bakal tak pernah bosan untuk berkunjung berkali-kali ke sana, lantaran ada banyak hal yang bisa dilakukan. Ada banyak tontonan, dan tak perlu mengeluarkan uang banyak. Warung kaki lima tersedia, pedagang kaki lima juga banyak, hingga restoran kelas atas pun tersedia. Dijamin gak rugi.

Akses: Bus TransJakarta Koridor 1 Blok M – Kota turun di Halte Kota lanjut jalan kaki, masuk ke terowongan, mampir dulu ke Museum Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia, dan Museum Wayang. Kereta Komuter Jurusan Bogor-Kota, Depok-Kota, Bekasi-Kota, Tanjung Priok – Kota, Tanah Abang-Kota turun di Stasiun Jakarta Kota, lanjut jalan kaki menyeberang jalan.

Taman Fatahillah Jakarta

Alamat : Jl Taman Fatahillah, Kota, Jakarta Barat. Lokasi GPS : -6.134664, 106.813242, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam buka : sepanjang waktu. Harga tiket masuk : gratis. Rujukan : Peta Wisata Jakarta, Tempat Wisata di Jakarta, Hotel di Jakarta Barat. Galeri (15 foto) Taman Fatahillah Jakarta : video . 1.Taman . 2.Pagelaran . 3.Sepeda . 4.Air Mancur . 5.Levitasi . 6.Warung . 7.Mataram . 8.Kumpeni . 9.Pitung … s/d 15.Sejarah.

Share | Tweet | WA | Email | Print!
Home » Jakarta » Jakarta Barat » Taman Fatahillah Jakarta

Oleh Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email. Diperbaiki 16 Juli 2017. Tag: , ,