Taman Budaya Jawa Timur Surabaya

Home » Jawa Timur » Surabaya » Taman Budaya Jawa Timur Surabaya
Cari | Share | Tweet | WA | Print!.

Taman Budaya Jawa Timur terletak persis bersebelahan dengan Gedung Balai Sahabat di Jl Genteng Kali, Surabaya. Bangunan Cagar Budaya yang berada di atas tanah seluas 10.400 m2 ini menjadi salah satu tempat berkreasi, bergaul dan berembug para seniman Surabaya, dan mereka yang datang dari tempat lainnya.

Selain bangunan kuno yang masih tetap dipelihara, di kompleks Taman Budaya Jawa Timur juga telah didirikan bangunan baru untuk memenuhi kebutuhan berkesenian para penggiat maupun penikmatnya.

taman budaya jawa timurTaman Budaya Jawa Timur dengan sebuah bis surat di pinggir jalan di depan gedung, yang mengingatkan saya pada sebuah bis surat kuno di teras depan Kantor Pos Surabaya.

taman budaya jawa timur taman budaya jawa timurTaman Budaya Jawa Timur menghadap Sungai Kalimas yang terletak hanya beberapa meter di seberang jalan. Di sana ada sebuah jembatan lengkung tanpa penopang unik, dihias dengan susunan bambu mengerucut ke atas yang sempat menarik perhatian saya.

taman budaya jawa timurTaman Budaya Jawa Timur dengan Pendopo Jayengrono beratap limasan tumpang, khas bangunan Jawa. Gedung induk, yang dibangun pada 1915 dan sebelumnya digunakan sebagai Kantor Kabupaten dan rumah dinas Bupati, berada di belakangnya.

Nama Jayengrono berasal dari nama Adipati Jayengrono yang ditunjuk Raden Wijaya untuk memimpin wilayah ini setelah berhasil mengusir tentara Tartar. Adipati Jayengrono konon memiliki kesaktian menguasai ilmu Buaya, yang membuat kadipatennya semakin kuat dan menjadi ancaman bagi Majapahit.

Raden Wijaya pun mengutus Sawunggaling yang memiliki kesaktian tinggi dan menguasai ilmu Sura. Terjadilah adu ilmu kedigdayaan yang berlangsung tujuh hari tujuh malam di pinggir Sungai Kalimas di dekat Paneleh yang berakhir sampyuh, keduanya meninggal akibat kehabisan tenaga. Legenda ini merupakan salah satu versi asal muasal nama Surabaya. Karenanya di Taman Budaya Jawa Timur juga terdapat sebuah ruangan yang disebut Sawunggaling Hall.

taman budaya jawa timurTaman Budaya Jawa Timur memiliki sebuah gedung teater tertutup yang dibangun pada 1976. Gedung ini mampu menampung 500 orang dan dinamakan Gedung Cak Durasim yang patungnya tampak pada foto di atas.

Di bawah patung dada Cak Durasim terdapat prasasti berbunyi “Begupon omahe doro, melok Nippon tambah soro”, sebuah parikan buatannya yang dilarang Jepang namun dilantunkannya juga pada sebuah pementasan ludruk di Desa Mojorojo, Jombang pada 1943. Akibatnya Cak Durasim ditangkap dan disiksa oleh tentara Jepang yang membawa pada kematiannya pada 7 Agustus 1944.

Pada tahun 1930 Cak Gondo Durasim, nama lengkap Cak Durasim, membentuk kelompok ludruk Surabaya dan mulai 1937 ia memperkenalkan cerita-cerita legenda Rakyat Surabaya dalam bentuk drama. Penamaan Gedung Cak Durasim, karenanya, diharapkan menjadi inspirasi bagi pelestarian dan pengembangan kesenian ludruk khas Surabaya ini.

taman budaya jawa timurTaman Budaya Jawa Timur dengan papan pengumuman yang memperlihatkan berbagai kegiatan berkesenian yang dilakukan di tempat ini, dari yang tradisional seperti ludruk, tari dan kentrung sampai yang kontemporer.

taman budaya jawa timurTaman Budaya Jawa Timur ini juga dilengkapi dengan Wisma Seniman Sawungrono, Ruang Gamelan Sawungsari, dan Musholla Al-Jamal.

taman budaya jawa timur taman budaya jawa timurTaman Budaya Jawa Timur menjadi tempat bagi anak-anak untuk belajar menari yang dilakukan di Pendopo Jayengrono.

taman budaya jawa timurTaman Budaya Jawa Timur bisa menjadi bagian dari roh Kota Surabaya, yang tanpanya Surabaya akan menjadi sebuah kota miskin jiwa dan tidak berbeda dengan kota-kota besar sejenis yang dijejali dengan mal serta tempat-tempat hiburan modern lainnya.

Taman Budaya Jawa Timur

Alamat: Jl Genteng Kali 85, Surabaya. Lokasi GPS: -7.25625, 112.73970. Tempat Wisata di Surabaya, Peta Wisata Surabaya, dan Hotel di Surabaya.

Share | Tweet | WA | Email | Print! | Tag:

Oleh Bambang Aroengbinang. Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kirim pesan ke BA lewat email, atau lewat WA jika ingin menjadi penulis di Aroengbinang. Diperbaiki 19 Maret 2017.

Lalu «
Baru » »