Sungai Serayu Banyumas Dari Tepianmu

Sudah cukup lama saya memendam keinginan untuk berhenti di tepian Sungai Serayu Banyumas untuk sejenak menikmati suasana dan melihat kegiatan penduduk, seperti aktivitas para penambang pasir dengan perahu-perahu tradisional mereka, serta melihat kegiatan para penjala ikan. Keinginan itu terkabul beberapa bulan lalu.

Beratus kali saya melintasi Sungai Serayu Banyumas. Itu karena saya numpang lahir di Mersi, Purwokerto, ketika kami tinggal di Purwonegoro. Jadi ketika di kandungan pun saya sudah melewatinya, juga Kali Klawing yang berujung di Sungai Serayu. Saat masih di SD, ibu sering mengajak saya menemaninya naik bus ke Klampok dan Purwonegoro, berdagang kain, melintasi Sungai Serayu. Pada masa itu setiap bus selalu ada tulisan “Dilarang berbicara dengan supir”, dan “Dilarang mengeluarkan anggauta badan”. Sering ketika setiba di Klampok, kami mampir ke warung pertigaan Klampok dan memesan seporsi gulai kambing. Enaknya masih terkenang … :)

Sejak lama Sungai Serayu telah menjadi bagian penting masyarakat, mulai dari Wonosobo dimana sungai berawal, juga di Banjarnegara, Banyumas, Purbalingga, Kebumen, dan Cilacap dimana sungai berakhir di Laut Selatan. Sungai Serayu dan Kayu Mas menginspirasi R. Joko Kaiman untuk memberi nama Banyumas pada daerah yang baru dibangunnya.

sungai serayu banyumas
Sekelompok penambang pasir di atas perahu sederhana yang ditambat statis ketika mengeruk pasir dari dasar Sungai Serayu Banyumas. Meskipun skalanya kecil, namun para penambang pasir ini ‘dituduh’ menjadi salah satu sebab keruhnya air Sungai Serayu, selain karena pencemaran air yang berasal dari buangan rumah tangga, industri, dan bangunan publik lainnya.

Penambang pasir juga ‘dituduh’ menjadi penyebab runtuhnya jembatan bersejarah rancangan Presiden Soekarno sepanjang 250 meter di perbatasan Desa Cindaga dan Desa Rawalo yang terjadi pada 27 Juni 2011. Bagaimana pun mereka butuh uang untuk hidup, dan pengarahan, agar menambang pasir di lokasi sungai yang tepat. Melihat mereka beraksi di sungai pun merupakan pemandangan yang menghibur.

Sampan bermotor dengan dua gunungan pasir tampak diangkut ke tepian Sungai Serayu. Motor bisa dipindah-pindahkan ke sampan yang telah terisi penuh pasir untuk dibawa ke tepian. Pada akhir tahun 60-an sampai awal 70-an saya masih mendengar adanya buaya di Sungai Serayu ini, meskipun belum pernah melihatnya, dan belum pernah mendengar kabar ada buaya yang ditangkap.

Tidak terlalu salah jika penambang pasir dituduh merusak Sungai Serayu, karena semua kegiatan penambangan cenderung merusak. Setidaknya penambang pasir itu bisa mengurangi laju pendangkalan sungai jika dilakukan di lokasi tepat, tidak seperti penambang modern yang melenyapkan gunung untuk mengeduk biji emas dan logam berharga lainnya. Namun Sungai Serayu sepanjang 3719 km ini bukan hanya menjadi sumber penghidupan penambang pasir, ia juga menjadi sandaran hidup ribuan petani di wilayah yang dilaluinya.

sungai serayu banyumas
Sebuah jembatan kecil di Patikraja yang melintang di atas Sungai Serayu. Jembatan ini sebelumnya merupakan jembatan kereta api yang dibangun Belanda. Seiring membanjirnya mobil dan motor Jepang, mundurnya perkebunan gula, serta ditelantarkannya angkutan massal berbasis rel oleh pemerintah, banyak rel kereta api dibongkar atau ditutup aspal, dan jembatan kereta api di Patikraja ini pun disulap menjadi jembatan jalan raya pada awal tahun 70-an.

Saya sempat mampir di pinggiran sungai yang menjadi pertemuan Sungai Serayu dan Kali Logawa. Tempat ini keluar sejauh 70 meter dari tepi Jalan Raya Notog, menuruni jalan tanah yang diperkeras. Saya sempat duduk cukup lama di gubug sederhana di pinggir sungai yang entah dibuat oleh siapa, menikmati suasana di tengah deru angin, dan mengamati seorang pria di atas rakit yang tengah menggebuki sungai dengan galah bambunya.

Nama Sungai Serayu konon berasal dari kata ‘sirah’ (kepala) dan ‘ayu’, sebuah ucapan yang keluar dari Sunan Kalijaga ketika dalam pengembaraannya suatu hari ia tiba di tepi sungai besar ini, dan tiba-tiba muncul dari dalam air sebuah kepala milik seorang perempuan yang cantik.

Pada awal abad ke-20, Belanda membendung Sungai Serayu dengan proyek raksasa Bandjar Tjahjana, membuat saluran irigasi dari Banjarnegara ke Cahyana di Bukateja, dan membuat sifon yang konstruksinya sangat mengesankan bagi siapapun yang pernah melihatnya. Tulisan dan foto lawas tentang proyek ini bisa dibaca di sini.

sungai serayu banyumas
Selama beberapa waktu, pria di atas rakit bambu itu hilir mudik menggerakkan rakitnya dan memukul-mukul permukaan air di pertemuan Sungai Serayu dan Kali Logawa ini. Selama beberapa waktu itu saya belum bisa menebak apa yang dilakukannya itu. Jika pun menangkap ikan, tidak pula saya bisa menduga alat apa yang ia gunakan di bawah air sana.

Jawabannya muncul setelah sabar menunggu selama beberapa menit di gubuk, ketika ia mulai menarik tali yang semula tak terlihat oleh saya, sedepa demi sedepa, sampai terlihatlah jala ikan yang rupanya telah ditebarkannya terlebih dahulu ke sungai. Tidak ada kegiatan lain yang saya lihat di lokasi yang cantik ini, yang mestinya bisa dikembangkan menjadi sebuah wisata air yang menawan.

Selain sebagai sumber penghidupan, Sungai Serayu juga lekat dengan banjir tahunan yang sering melanda wilayah di tepiannya, termasuk wilayah Banyumas. Banjir besar yang tercatat dalam sejarah terjadi tahun 1582 ketika air Sungai Serayu meluap, konon sampai setinggi pohon kelapa.

Aliran Sungai Serayu dibendung pada jaman orde baru dengan membuat Waduk Mrica pada 1988 untuk menggerakkan turbin PLTA Mrica. Waduk yang usianya diperkirakan mencapai 50 tahun itu tampaknya akan habis 10-15 tahun lebih cepat karena pendangkalan dahsyat yang terjadi akibat rusaknya hutan di Dataran Tinggi Dieng, tempat dimana hulu Serayu yang bernama Tuk Bima Lukar berada. Sayangnya juga, Waduk Mrica ikut menenggelamkan sifon buatan Belanda yang hebat itu.

Sejak 1940-an nama Sungai Serayu sering terdengar di radio lewat lagu kroncong ‘Di Tepinya Sungai Serayu’ ciptaan R. Soetedja Poerwodibroto (1909 – 1960), komponis kelahiran Banyumas yang juga mencipta lagu ‘Tidurlah Intan’ dan ‘Kopral Jono’. Ratusan partitur lagu ciptaannya yang tersimpan di RRI Pusat Jakarta musnah saat terjadi kebakaran pada 1950-an. Adalah Jack Lesmana yang secara kebetulan menyelamatkan sekitar 70-an karya R. Soetedja itu.

Pemerintah orba kemudian juga membangun Bendung Gerak Serayu Banyumas yang pengerjaannya mulai dilakukan pada tahun 1993 dan diresmikan oleh Presiden Suharto pada 20 November 1996. Lepas dari manipulasi terhadap Sungai Serayu ini, semoga saja kesadaran pemerintah dan masyarakat bisa terus ditumbuhkan agar anak cucu kembali bisa menyaksikan air Sungai Serayu yang mengalir jernih berkilauan, sebagaimana syair lagu R. Soetedja itu.

Sungai Serayu Banyumas

Alamat : Banyumas, Jawa Tengah. Lokasi GPS : -7.495736, 109.216834, Waze.Galeri : 18 foto. Rujukan : Peta Wisata Banyumas . Tempat Wisata di Banyumas . Hotel di Purwokerto. Galeri (18 foto) Sungai Serayu Banyumas : 1.Penambang pasir, 2.Jembatan kecil, 3.Rakit bambu, 4.Tradisional, 5.Kantung Kasa 6.Menunggu Muatan 7.Pasir Hitam 8.Pelestarian 9.Berkelompok … s/d 18.Angin Kuat.

Matched content

Bagikan tulisan ini di : Facebook | Twitter | WhatsApp | Email atau Print!
Home » Jawa Tengah » Banyumas » Sungai Serayu Banyumas Dari Tepianmu
Tag :

Oleh Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email untuk kabar tulisan terbaru. Diperbarui pada 16 Juli 2017.

Sebelumnya : «
Berikutnya : »
Lihat pula : Sitemap