Situs Surocolo Bantul Jogja

Home » Yogyakarta » Bantul » Situs Surocolo Bantul Jogja
Cari | Share | Tweet | WA | Print!.

Dari tempat parkir Gua Cerme, perjalanan kami lanjutkan menuju ke Situs Surocolo Bantul mengambil arah ke Barat sejauh 3,6 Km sampai mentok di sebuah pertigaan, lalu berbelok ke kiri mengarah ke Selatan sejauh 6 Km lagi, nyaris sejajar dengan aliran Kali Opak, dengan berbelok ke kiri lagi sekitar 1 Km sebelum Kretek.

Situs Surocolo Bantul terdiri dari Gua Surocolo, yang juga disebut sebagai Gua Sunan Mas, serta Sendang Surocolo atau Sumber Surocolo. Selain itu kabarnya ada juga Gua Kendil, Gua Penek, dan Gua Siluman di sekitar Gua Surocolo, yang saya tak sempat saya kunjungi.

Setelah di perjalanan sempat bertanya arah kepada beberapa orang penduduk, kami pun akhirnya melihat sebuah tengara di kanan jalan bertuliskan “Gua Sunan Mas”. Tidak ada tempat parkir khusus di sana, sehingga mobil pun diparkir di tepian jalan desa yang relatif sepi.

Situs Surocolo
Jalan setapak menuju Situs Surocolo berada di samping kiri kolam penampungan Sendang Surocolo, di bawah pohon besar tua dengan tekstur menarik. Sementara seorang ibu tengah merapikan gendongannya yang berisi kayu bakar dan kebutuhan sehari-hari lainnya di sebelah tengara “Gua Sunan Mas”.

Situs Surocolo
Selain pohon besar yang tua, satu-satunya yang menarik perhatian saya di sekitar kolam penampungan Sendang Surocolo di Situs Surocolo yang airnya berwarna kehijauan ini adalah sebuah truk rongsokan yang teronggok di samping kolam.

Situs Surocolo
Setelah berjalan menyusur jalan setapak lebih dalam lagi, baru terlihat kolam utama Sendang Surocolo di Situs Surocolo ini, dengan sebuah Jaladwara di sisi hulunya. Mungkin karena kurangnya perhatian perangkat desa dan dinas terkait, Sendang Surocolo ini bukannya dijaga kebersihannya malah digunakan sebagai tempat mencuci sepeda motor. Tidak heran jika air di kolam penampungan Sendang Surocolo itu terlihat hijau keruh.

Situs Surocolo
Jaladwara di Situs Surocolo dilihat dari jarak lebih dekat. Jaladwara adalah jalan air peninggalan budaya Hindu Jawa yang juga berfungsi sebagai hiasan dengan bentuk yang bermacam-macam.

Sulit bagi saya untuk mengenali bentuk Jaladwara di Situs Surocolo ini. Mungkin saja berbentuk kepala gajah, karena ada semacam belalai di bagian depan, lalau sepasang gading mencuat ke atas di kiri-kanannya, dan ada semacam mata dan telinga lebar di bagian samping. Seharusnya ada satu lagi Jaladwara namun keberadaannya baru saya ketahui belakangan.

Kami pun kemudian berjalan menyusur jalan setapak, mendaki perbukitan, lalu di sebuah persimpangan berbelok ke kiri menyusur lereng, dan terlihatlah mulut Gua Surocolo atau Gua Sunan Mas di sebelah kanan.

Situs Surocolo
Tatanan batu yang menuju ke mulut Gua Sunan Mas di Situs Surocolo. Di sebelah kiri adalah catatan yang dibuat oleh mahasiswa UGM tentang legenda Sumber Surocolo dan Gua Sunan Mas, dan di sebelahnya adalah peringatan bagi pejalan agar menjaga Benda Cagar Budaya situs ini.

Konon ada wanita bernama Nyi Glenggang Jati, yang dikembalikan oleh suaminya, seorang ksatria dari keraton Mataram, kepada orang tuanya di Girijati, padahal saat itu Nyi Glenggang tengah hamil.

Karena merasa malu, Nyi Glenggang Jati pergi dan tinggal di Mrangi, sebuah wilayah yang gersang, dan kemudian ia dikenal sebagai Nyi Rondo. Ketika merasa akan melahirkan, Nyi Rondo pun berdoa agar tersedia cukup air sehingga ia bisa melahirkan dengan selamat. Doanya dikabulkan, dan sebuah mata air jernih pun muncul di Putat di dekat Nyi Rondo melahirkan si bayi yang diberinya nama Umar.

Ketika Umar beranjak dewasa, Mataram tengah bergolak. Amangkurat III, atau Sunan Mas, yang terancam oleh pasukan Pangeran Puger, meninggalkan Keraton Kartasura ke arah Selatan dan sampai di daerah Surocolo diiringi para abdi keraton yang setia kepadanya.

Sunan Mas kemudian memerintahkan para abdi dalem untuk membuat gua, yang ternyata tidak mudah karena kerasnya batu cadas yang harus digempur. Melihat kesulitan yang dihadapi abdi dalem, Umar pun datang membantu menyelesaikan pembuatan gua dengan hanya menggunakan tempurung kelapa untuk menggali lubang. Melihat kesaktian pemuda itu, Sunan Mas timbul rasa sayangnya kepada Umar.

Tidak diketahui bagaimana kelanjutan kisah Umar dan Sunan Mas. Namun Sunan Mas terusir dari Keraton Kartosuro oleh pasukan Pangeran Puger (Pakubuwana I), dan lari ke Ponorogo, selanjutnya ke Madiun, Malang, Blitar, Kediri, dan akhirnya menyerah di Surabaya pada 1708. Sunan Mas dibuang oleh VOC ke Sri Lanka dan wafat di sana pada 1734.

Situs Surocolo
Sebuah ceruk besar terlihat di sebelah kanan Gua Sunan Mas di Situs Surocolo.

Situs Surocolo
Ceruk Situs Surocolo dari sudut pandang berbeda, dimana terlihat bentuk seperti bale batu memanjang di bawah ceruk. Mengamati papan tengara di sebelah kiri adalah Pak Agus (087739187935), supir rental mobil di Yogya yang setia menemani dan membantu membawa gembolan kamera.

Situs Surocolo
Gua Sunan Mas di Situs Surocolo ini sangat gelap, sehingga foto diambil dengan menggunakan kecepatan shutter rendah, dan kamera diletakkan di atas tembok rendah di kiri depan gua sebagai pengganti tripod.

Meskipun tidak ada orang yang bisa ditanya mengenai Situs Surocolo ini, namun catatan yang dibuat oleh Mahasiswa UGM itu cukup membantu. Sebuah kesadaran dan inisitaif yang baik dan patut dipuji, sekaligus sebagai sentilan untuk dinas terkait agar lebih rajin berkunjung ke situs-situs semacam ini dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melakukan perbaikan dan peningkatan fasilitas bagi kenyamanan pejalan.

Situs Surocolo

Alamat: Dusun Poyahan, Kalurahan Seloharjo, Kecamatan Pundong, Bantul, Yogyakarta. Lokasi GPS: -7.99240, 110.32662. Tempat Wisata di Bantul lainnya, Peta Wisata Bantul, Hotel di Yogyakarta.

Share | Tweet | WA | Email | Print! | Tag:

Oleh Bambang Aroengbinang. Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kirim pesan ke BA lewat email, atau lewat WA jika ingin menjadi penulis di Aroengbinang. Diperbaiki 19 Maret 2017.

Lalu «
Baru » »