Situs Cibalay, Warisan Megalitikum di Tenjolaya

Cari, kirim ke FB | Tweet | WA | Print!.

Bebeberapa hari lalu bersama Chandra, seorang karib lama, kami berkunjung ke Situs Cibalay Tenjolaya, sebuah situs megalitikum besar yang sangat mengesankan. Situs Cibalay berada di perbukitan di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, tepatnya di Desa Cibalay, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor.

Kami bertemu jam 9 pagi di Cibubur, dan kemudian meluncur bersama di Jalan Tol Jagorawi arah ke Kota Bogor. Keluar Bogor kami belok kanan di pertigaan Baranangsiang, memutari Kebun Raya Bogor hingga sampai di ujung Jl Ir H Juanda dan belok kanan ke Jl Empang.

Belok kanan lagi di pertigaan, lanjut ke Jl Pancasan melewati Pabrik Gong Pancasan, lanjut Jl Cikaret dan Jl Raya Ciapus. Arah yang kami tempuh melewati belokan ke Pura Parahyangan Agung Jagatkartta, dan Curug Nangka. Sebelumnya kami sempat belok ke arah Situs Punden Berundak Cilobak namun batal berkunjung setelah bertemu kuncen.

Itu lantaran butuh 2 jam jalan kaki dari rumah kuncen sampai ke lokasi. Selewat tanjakan tajam setelah Curug Luhur, terlihat tengara di kiri jalan yang menyebut Situs Arca Domas, Pasir Manggis, Situs Batu Bergores, Punden Endong Kasang, Punden Jami Piciing, dan jarak sejauh 2 km. Lantaran lapar kami terus melewati tengara itu sampai ke mini market, dan membeli makanan ringan serta minuman.

Kami lalu berbalik arah dan masuk gang di samping tengara situs yang hanya cukup untuk satu mobil. Semakin ke dalam semakin menyempit jalannya, dan akhirnya mobil tidak bisa maju lagi. Beruntung ada kantung jalan di sebelah kiri untuk kendaraan memutar balik, sekaligus sebagai tempat parkir. Chandra bertanya arah ke penduduk, dan berdasar informasi itu kami berjalan lurus lalu belok ke kiri menyusuri jalan setapak.

Di sebelah kiri terlihat lembah persawahan. Di sebelah kanan dan jauh di depan adalah pegunungan. Setelah sepuluh menit berjalan kami berpapasan dengan beberapa orang penduduk. Wanita yang di depan menggumam bahwa situsnya agak jauh, namun si pria mengatakan tak jauh lagi, sekitar seperempat jam. Titik hujan mulai turun. Di atas gunung sana kabut hujan sudah terlihat. Namun ada tempat berteduh di sana, kata si pria.

situs cibalay tenjolaya bogor
Saya keluarkan bandana. Satu saya berikan ke Chandra, dan satu saya pakai sendiri. Lumayan untuk menutupi kepala dari gerimis kecil. Saya tak terlalu khawatir dengan kamera dan lensa karena semuanya tersimpan baik di dalam ransel. Melanjutkan perjalanan dengan lebih cepat, akhirnya kami melihat undakan semen pada foto di atas. Di ujung atas undakan itu terdapat tanah lapang dengan hamparan rumput hijau dimana terdapat sejumlah galian arkeologis yang memperlihatkan menhir dan batu megalitikum lainnya.

Ada sekitar tujuh menhir, dua diantaranya berukuran besar, serta ada beberapa buah dolmen berukuran kecil sedang. Kami melanjutkan perjalanan melewati dataran ini, lalu menuruni undakan dan sesaat kemudian terlihat gerbang sederhana dengan undakan lagi di belakangnya.

Sebuah sepeda motor yang diparkir di samping gerbang membuat kami lega. Ada manusia di sana. Syukur hujan masih tetap rintik. Mungkin karena saya berjalan bersama orang yang shalatnya selalu tepat waktu. Kami dikelilingi gerumbul pepohonan, serta pegunungan tinggi di depan sana, menciptakan suasana alami menyegarkan.

Sesaat berikutnya sampailah kami ke Situs Cibalay, dan apa yang terpampang di depan mata membuat saya takjub. Sebuah bukit hijau dengan serakan batu peninggalan zaman purba dalam kondisi sangat baik dan terpelihara.

situs cibalay tenjolaya bogor
Jika saya takjub melihat pemandangan seperti ini, maka karib saya itu belum mafhum bagaimana mungkin serakan batu-batu polos seperti itu bisa membuat saya menjawab “ya” ketika ia tanya apakah saya “orgasme” melihatnya.

Bagaimana saya tidak takjub melihat begitu banyak batu tua serta serta punden berundak yang berasal dari jaman Megalitikum, jaman manusia Indonesia purba yang hidup pada 2500 – 1500 SM. Dan ini di Bogor, hanya beberapa kilometer dari Jakarta.

Melihat sepotong umpak batu Situs Kerto peninggalan Keraton Mataram jaman Sultan Agung pun saya sudah sangat senang. Kisah bersejarah di balik batu itulah yang sangat menarik buat saya. Bahwa bangsa Indonesia memiliki akar budaya tua, besar, dan kuat, yang tersebar di banyak tempat di hampir semua pulau.

Agak jauh di sebelah kiri terdapat papan tengara “Situs Cibalay”, lalu tengara berbunyi “Situs Arca Domas”, sedangkan tengara satu lagi sudah berkarat dan tulisannya sama sekali tidak bisa dibaca. Lantaran tidak ada arca di situs ini, oleh sementara kalangan penamaan Situs Arca Domas dianggap tidak tepat.

Ada tatanan batu dengan beberapa buah menhir berukuran kecil, dan serakan batu, yang mengarah ke puncak bukit di atas sana. Lekukan di atas rumput pada lereng bukit sebelah kanan adalah lintasan yang saya jejaki untuk naik ke puncak bukit. Pengunjung juga bisa lewat sisi kiri bukit, lintasan yang kami lewati saat pulang.

Wikipedia menyebut bahwa menhir adalah monolith (batu tunggal) yang berdiri tegak di atas tanah, berasal dari periode Neolitikum (6000/4000 SM – 2000 SM). Istilah menhir diambil dari bahasa Keltik dari kata men = batu dan hir = panjang.

Bahasa Keltik adalah bahasa yang digunakan kaum kuno yang bermukim di Wales, Irlandia, Skotlandia, Cornwall, Pulau Man, Bretagne dan beberapa bagian Eropa lainnya. Konon Bangsa Keltik adalah Cimmerians yg berasal dari Pulau Defrobani, negeri musim panas dan tanah orang-orang Cimmeria.

Karena sebutan negeri musim panas itulah Pulau Defrobani diduga merujuk pada Pulau Taprobani, surga dunia tempat turunnya Nabi Adam yang tidak lain adalah Pulau Sumatra (Paparan Sunda), tapak Atlantis yang hilang. Takjub lagi.

situs cibalay tenjolaya bogor
Pemandangan yang tak kalah elok di puncak perbukitan Situs Cibalay sesaat setelah saya menjejakkan kaki di atasnya. Chandra menyusul naik, setelah sempat sejenak ragu. Foto di atas diambil dengan membalikkan badan ke arah kedatangan.

Selain lintasan memanjang tatanan batu datar pipih dengan menhir di kiri kanannya, ada pula tatanan batu melingkari area yang terlihat di ujung kanan foto. Seperti kita ketahui, tak ada budaya tulis pada jaman Megalitikum, sehingga arkeolog hanya bisa menduga fungsi dari semua peninggalan purba ini.

Diantara pertanyaan yang muncul adalah, seberapa banyak jumlah kaum purba yang ada ketika itu untuk membuat tatahan batu dalam jumlah yang sangat banyak ini. Lalu, di manakah mereka tinggal. Gubug kah, atau gua kah. Namun saya belum pernah mendengar ada gua di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Selanjutnya adalah bagaimana mereka memecah batu besar dan menatahnya hingga berbentuk seperti itu, sementara logam belum lagi ditemukan.

Saya bisa mengerti jika orang tua lebih suka membawa anaknya ke mal, kolam renang, Ancol, TMII, atau ke JungleLand, sebagai ‘tempat wisata’. Namun saya kira anak-anak perlu dibawa ke tempat seperti ini dan diperkenalkan dengan peninggalan dan sejarah nenek moyang mereka. Dengan memahami akar sejarah dan budayanya, mereka akan memiliki pijakan kuat dalam kancah pergaulan dan pergumulan inteletual-budaya antar bangsa.

Agak ke ujung terdapat tumpukan batu paling besar di puncak Situs Cibalay, dengan menhir berukuran cukup besar di atasnya. Agak aneh juga melihat ada sebuah jerigen plastik warna putih di dekat sebuah menhir. Belakangan saya ketahui bahwa ada orang yang menggunakan tempat ini sebagai tempat tirakat, bukan hanya sehari dua, namun bisa sampai 40 hari menginap di lokasi ini.

Sebuah dolmen, meja batu, berukuran paling besar di Situs Cibalay, berada di ujung area puncak bukit. Beberapa saat kemudian kami bertemu dengan Kusnadi, salah satu dari tiga penjaga Situs Cibalay. Bersamanya kemudian kami melangkah menuju salah satu dari tiga saung yang ada di Situs Cibalay.

situs cibalay tenjolaya bogor
Di sebelah kiri adalah dolmen yang saya lihat tadi, sementara di lereng bukit di sebelah kanan tampak seorang ibu tengah menyapu dedaun kering yang jatuh. Situs ini ada yang merawat. Setapak di sebelah kanan adalah jalan yang kami lalui ketika pulang.

Tiang pagar besi dan kawat berduri yang mengelilingi puncak perbukitan ini terlihat tak rapi lagi dan telah berkarat. Sudah saatnya diganti dengan pagar kawat baru yang lebih tahan cuaca, mengingat curah hujan yang tinggi di kawasan Gunung Salak ini.

Saung tempat kami duduk berbincang dengan Kusnadi sudah terlihat tua, dan compang-camping. Belakangan bergabung penjaga lain bernama Wahyudin. Sempat melihat Deni, penjaga ketiga. Mereka masih berkerabat. Dua saung lainnya tidak lebih baik kondisinya, nyaris bobrok. Kedua saung itu bertiang kayu kecil, berdinding bambu, dan beratap genting, sedangkan saung tempat kami berbincang beratapkan daun rumbia.

Kusnadi yang pendidikannya tak sampai lulus SD dan paling dulu sebagai penjaga, sudah hampir 20 tahun merawat Situs Cibalay ini. Dua puluh tahun, dan saya baru tahu saja tentang situs ini. Itu pun setelah saya dikirimi foto tengara situs oleh Lita Jonathans lewat BBM, lantaran ia sering melihatnya saat mondar-mandir ke Villa LaLita miliknya.

Masing-masing penjaga bertugas selama tiga hari dalam seminggu, bergilir, sehingga setiap saat selalu ada dua penjaga di Situs Cibalay. Namun jika banyak pengunjung, mereka bisa datang semua ke tempat ini.

Kusnadi dan Wahyudin bertutur bahwa penggalian dan penataan situs ini terakhir dilakukan pada 2012 lalu, oleh 8 orang selama sekitar 10 hari di 3 lokasi. Mereka dari Balai Arkeologi Bandung, Serang, dan Pusat Arkeologi, dan selama ekskavasi menginap di saung ini. Penggalian sebelumnya dilakukan oleh mahasiswa Universitas Indonesia pada 1992.

Setidaknya ada tiga lokasi lagi di sekitar Situs Cibalay yang disarankan Kusnadi, namun hanya satu yang sempat saya kunjungi bersama Wahyudin, yaitu Situs Punden Jami Piciing yang saya ceritakan pada tulisan berikutnya.

Dengan akses jalan yang sempit, akan lebih baik jika disediakan lahan parkir mobil di tepian jalan utama, lalu disediakan ojek motor, atau ojek sepeda jika ingin lebih ramah lingkungan. Tak bisa saya bayangkan repotnya jika ada lebih dari tiga mobil berkunjung ke tempat ini dalam waktu yang bersamaan.

Galeri (22 foto): 1.Undakan, 1.Takjub, 3.Bukit Batu, 4.Dolmen, 5.Lapang, 6.Artefak, 7.Gerbang, 8.Trap, 9.Arca Domas … s/d 22.Lembah.

Situs Cibalay Tenjolaya Bogor

Desa Cibalay, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor. Lokasi GPS: -6.67139, 106.70989, Waze. Tempat Wisata di Bogor, Peta Wisata Bogor, Hotel di Bogor.



Kirim ke FB | Tweet | WA | Email | Print!

Home » Jawa Barat » Bogor Kabupaten » Situs Cibalay, Warisan Megalitikum di Tenjolaya
Tag: ,

Oleh Bambang Aroengbinang. Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kirim pesan ke BA lewat email, atau lewat WA jika ingin menjadi penulis di Aroengbinang. Diperbaiki 27 Maret 2017.

Lalu «
Baru » »