Situs Carangandul Karanglewas Banyumas

Situs Carangandul Karanglewas adalah salah satu tempat yang saya kunjungi paling akhir di wilayah Banyumas beberapa bulan lalu, namun ditulis selang cukup jauh. Sebabnya adalah tulisan yang saya buat tentang situs ini secara tak sengaja terhapus ketika BB tiba-tiba mati beberapa saat setelah meninggalkan lokasi.

Tulisan yang hilang itu berisi keterangan yang diberikan anak perempuan atau cucu kuncen Situs Carangandul. Seingat saya kuncennya sudah meninggal, dan belum ada penggantinya, maka wanita yang masih relatif muda itulah yang melayani jika ada tamu berkunjung ke situs. Lokasi rumah kuncen ada pada gang yang sama dengan gang yang menuju ke situs. Lantaran rencana berkunjung kembali ke Situs Carangandul belum juga terlaksana, maka tulisan ini diterbitkan berdasar ingatan dan sedikit informasi tambahan yang tersedia.

Waktu itu hari sudah menjelang sore ketika kami tiba di Desa Tamansari, Karanglewas, di Barat Kota Purwokerto. Untuk menuju ke Desa Tamansari kami belok ke kiri sekitar 600 meter setelah melewati Jembatan Kali Mengaji di jalan utama Purwokerto – Ajibarang. Masuk ke dalamnya sekitar 2 km, melewati jalan aspal yang cukup baik kondisinya. Kami sempat bertanya ke beberapa orang sebelum akhirnya menemukan rumah kuncen. Setelah berbincang dengan si mBak cucu kuncen dan catatannya lenyap itu, si mBak lalu mengambil kunci dan mengantar kami ke lokasi situs yang berjarak hanya beberapa puluh langkah dari depan rumahnya.

situs carangandul karanglewas
Si mBak yang namanya pun ikut lenyap bersama catatan saya itu terlihat tengah berada di depan pintu cungkup Situs Carangandul yang berada di bawah sebuah pohon sangat besar dan tinggi. Pagar kawat berduri berpintu pelat besi tipis membatasi pekarangan dengan jalan kampung di depannya.

Di halaman situs terdapat beton segi empat rendah dengan prasasti di permukaannya bertuliskan “Berkat rahmat Tuhan Yang Mahaesa telah direhab komplek Situs Carangandul Desa Tamansari Kecamatan Karanglewas, 18 Juli 2008. Kepala Disparbud Kabupaten Banyumas Drs. H. Slamet Sudiro MM”, lengkap dengan pangkat dan NIP-nya.

situs carangandul karanglewas
Tri berjongkok di depan satu-satunya benda menarik di dalam cungkup Situs Carangandul, yaitu berupa batu lumpang atau batu gentong karena tengahnya membulat, dengan relief seperti wajah babi di bagian depannya. Terlihat seperti babi karena hidungnya besar dan tanpa tanduk.

Bentuk babi sebenarnya banyak dijumpai pada celengan keramik, dan belum pernah saya lihat relief babi pada lumpang selain di tempat ini, jika pembuatnya memang bermaksud membuat muka babi.

Tak ada catatan atau prasasti yang bisa menjelaskan keberadaan Situs Carangandul ini, selain kisah legenda yang berkembang di tengah masyarakat sekitar situs. Nama Carangandul pun tampaknya diambil dari nama desa dimana situs berada.

situs carangandul karanglewas
Dari atas terlihat bahwa lubang batu di Situs Carangandul itu ternyata dangkal, dan agak mengecil ke bawah, sehingga memang lebih tepat disebut lumpang ketimbang gentong atau tempayan.

Lumpang batu banyak disebut sebagai peninggalan kebudayaan dari jaman megalitik, bersama dengan dolmen, menhir, kubur batu, dan batu dakon. Fungsi lumpang batu pada masa itu tak beda dengan yang sekarang masih bisa dijumpai di pedesaan, yaitu untuk menumbuk dan menghaluskan biji-bijian sebagai bahan dimakan.

Hanya saja lumpang batu Situs Carangandul ini oleh masyarakat dikaitkan dengan kisah peng-Islaman wilayah Pasir Luhur pada jaman Kesultanan Demak di abad 15-16 M. Patih Kadipaten Pasir Luhur yang menolak menerima Islam konon dipancung oleh pasukan Demak. Kepalanya berubah menjadi batu lumpang, setelah badannya dibawa menyeberang Kali Logawa untuk dipisahkan selama-lamanya. Jika tak dipisahkan, badan sang patih bisa menyatu dengan kepalanya dan hidup kembali, karena ia memiliki Aji Pancasona.

Wilayah Kadipaten Pasir Luhur sekarang ada di Karanglewas, di kecamatan dimana situs ini berada. Tradisi Jawa di wilayah Banyumas memang tampaknya sangat kuat waktu itu sehingga wajar jika ada penolakan, meski kemudian wilayah Kadipaten Pasir Luhur berhasil diislamkan oleh tokoh ulama Demak bernama Syech Makdum Wali.

Begitupun tradisi budaya Jawa Kuno ternyata masih tetap hidup di wilayah Banyumas. Diantaranya bisa dilihat pada ritual yang dilakukan setiap tahun di kalangan pengikut adat Bonokeling. Bonokeling, yang makamnya ada di Kecamatan Jatilawang Banyumas, dipercayai sebagai tokoh spiritual dari jaman Kadipaten Pasir Luhur.

Situs Carangandul Karanglewas Banyumas

Alamat : Dukuh Carang, Desa Tamansari, Kecamatan Karanglewas, Banyumas. Galeri : 8 foto. Rujukan : Peta Wisata Banyumas . Tempat Wisata di Banyumas . Hotel di Purwokerto. Galeri (8 foto) Situs Carangandul Karanglewas Banyumas : 1.Pintu cungkup, 2.Batu lumpang, 3.Lubang batu, 4.Kebudayaan Megalitik, 5.Belakang Batu 6.Batu Dupa 7.Prasasti 8.Pohon Besar.

Matched content

Bagikan tulisan ini di : Facebook | Twitter | WhatsApp | Email atau Print!
Home » Jawa Tengah » Banyumas » Situs Carangandul Karanglewas Banyumas
Tag : ,

Oleh Bambang Aroengbinang.

BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA.

Subscribe via email untuk kabar tulisan terbaru. Diperbarui pada 16 Juli 2017.

Sebelumnya : «
Berikutnya : »
Lihat pula : Sitemap