Situs Candi Ebeg

Home » Jawa Tengah » Banyumas » Situs Candi Ebeg
Cari | Share | Tweet | WA | Print!.

Situs Candi Ebeg Banyumas saya ‘temukan’ setelah terlebih dahulu berkunjung ke Situs Candi Ronggeng, yang sayangnya hanya untuk mengetahui bahwa arca yang ada di Candi Ronggeng telah lama digondol orang. Tak ada yang tahu siapa penggondol arca itu, dan dimana pula sekarang rimbanya. Entah lenyap, atau dilenyapkan.

Situs Candi Ebeg Sumbang

Alamat: Desa Gandatapa, Kecamatan Sumbang, Banyumas. Lokasi GPS: -7.34056, 109.2644, Waze. Rujukan: Peta Wisata Banyumas . Tempat Wisata di Banyumas . Hotel di Purwokerto

Tidak puas menemukan kebun kosong bekas Situs Candi Ronggeng (GPS -7.33789, 109.26628), saya bertanya kepada beberapa orang tentang situs itu, namun tidak memperoleh jawaban memuaskan. Namun salah satu orang itu yang memberitahu keberadaan Situs Candi Ebeg.

Berasa sedikit terhibur, kami pun meninggalkan Situs Candi Ronggeng. Setelah sekitar 400 meter turun dari lokasi Situs Candi Ronggeng, kami sampai di pertigaan dimana terdapat tanah lapang di sebelah kanan, dan sebuah gerumbul di sisi kiri. Setelah parkir kendaraan, kami melangkahkan kaki menuju ke gerumbul.

situs candi ebeg
Di pinggir gerumbul kami menjumpai pagar bambu, dengan pintu bambu yang bisa diselarak, dipindahkan ke samping untuk orang bisa masuk.

Lantaran tidak melihat ada penjaga, kami pun membuka pintu bambu itu, dan melangkah masuk ke dalam gerumbul yang terlihat agak wingit. Ada banyak batuan dengan sebuah pohon besar menjulang tinggi tegak di hadapan kami.

situs-candi-ebeg-08
Pohon besar itu, dikelilingi pohon-pohon kecil dan tumbuhan sejenis pakis atau pohon salak, yang membuat suasana gerumbul menjadi teduh, namun juga agak seram.

Keberadaan pohon sangat besar, dari jenis apa pun, menjadi semacam pemberi otoritas mistik bagi sebuah tempat, setidaknya memberi indikasi akan usia tempat itu, dan lazimnya ada saja cerita yang hidup di sekitarnya. Jika tidak mistik, kecil kemungkinan pohon besar itu bisa terus bertahan hidup. Bertahan dari mata lapar para pemburu kayu besar tua, dijadikan uang yang jumlahnya bisa sangat menggiurkan.

Selang beberapa saat kemudian, ada orang datang memasuki gerumbul. Seorang pria sepuh. Rupanya ia adalah penjaga tempat ini yang tidak selalu datang setiap hari, sehingga saya menjadi merasa cukup beruntung bisa bertemu dengannya. Sayangnya lupa mencatat nama.

situs candi ebeg
Bapak sepuh penjaga Situs Candi Ebeg, duduk berhadapan dengan Tri yang tampak tercenung saat mendengar si babak berkisah tentang situs ini.

Dari Bapak itulah saya ketahui bahwa nama gerumbul ini disebut sebagai Candi Ebeg, lantaran konon orang yang memiliki usaha ebeg (bahasa Banyumasan untuk menyebut kuda lumping) akan datang ke tempat ini, meminta berkah agar usaha ebeg-nya laku.

Di belakang kedua orang itu, di bawah pohon besar, terlihat sebuah batu tegak tidak begitu besar dengan sisa bakaran dupa berwarna hitam di depannya. Batu yang menyerupai bentuk ebeg itulah yang memberi nama pada situs ini.

situs candi ebeg
Pada pojok sebuah sisi di Situs Candi Ebeg ini juga terdapat sisa-sisa bakaran dupa, di depan sebuah susunan batu yang terlihat menyerupai kubur.

Ada banyak tatanan batu berukuran sedang di sekeliling pohon di Situs Candi Ebeg ini. Bisa jadi dahulu kala batu itu merupakan sebuah Cromlech, struktur megalitikum yang dibuat dari sekelompok menhir, disusun dalam bentuk lingkaran atau semi lingkaran.

situs candi ebeg
Sisi pandang lain ke arah Pohon Besar Situs Candi Ebeg, memperlihatkan kontur tanah berundak, sebagian susunan batu yang jumlahnya terbilang banyak, serta bergelayutannya akar pohon tua.

Tatanan batu serta kontur tanah memberi indikasi bahwa tempat ini merupakan punden berundak yang berasal dari jaman kepercayaan kuno. Kepercayaan tua memang tidak mati, meskipun diserbu bertubi oleh kedatangan kepercayaan Hindu, Budha, Kristen, dan Islam, dengan berbagai variasinya. Kepercayaan turun temurun itu selalu menemukan ruang hidup diantara para penganut kepercayaan baru, sehingga keberadaannya pun tidak mudah lenyap.

situs candi ebeg
Di latar depan terdapat sebuah batu tegak lainnya yang berada tidak jauh dari batu Candi Ebeg, pada sisi pohon berlawanan. Jelas ini buatan manusia, yang lazimnya berasal dari jaman dan kepercayaan purba. Orang Barat menyebutnya sebagai jaman Megalitikum, jaman batu besar.

Jaman itu orang secara berkelompok memilih suatu tempat di sebuah ketinggian, menyusun batu dengan bentuk khas, menghadap arah tertentu yang dipercaya sebagai kiblat bersemayamnya para leluhur, dan menjadikan tempat itu sebagai pemujaan bersama pada waktu-waktu tertentu.

situs candi ebeg
Ketinggian Situs Candi Ebeg ini bisa diperkirakan dari dalamnya lembah persawahan yang terlihat ada di belakang gerumbul pohon pada foto di atas.

Jalan menuju tempat ini memang mendaki. Lintasan jalan yang menuju ke bekas situs Candi Ronggeng juga masih mendaki.

situs candi ebeg
Di latar depan terdapat dua buah batu tegak yang letaknya berdekatan, nyaris seperti nisan kubur bayi. Batu tegak bisa juga merupakan batu sandar di sebuah area yang menjadi tempat pertemuan masyarakat purba.

Bagian akar pohon besar terlihat menyembul dari dalam tanah di banyak tempat, yang kadang bisa membentuk huruf tertentu yang dianggap memiliki makna mistik.

situs-candi-ebeg-09
Berbincang dengan bapak sepuh itu tidak begitu mudah, lantaran bahasanya yang tercampur baur serta pengucapannya yang kadang sulit ditangkap. Belum lagi kemampuan mencatat saya yang sering belepotan. Padahal di ransel ada perekam suara.

Cerita yang masih tertangkap adalah bahwa Situs Candi Ebeg itu konon pernah menjadi tempat pertapaan Gandakesuma, seorang priyayi asal Solo. Ia ditugaskan mencari jejak Raden Patah yang lama tidak pulang.

Menurut kisah si bapak, Raden Patah rupanya sempat tinggal di Desa Sirapan. Dalam pencarian itu Gandakesuma bersama Mangkubumi tiba di Desa Gandatapa, desa dimana Situs Candi Ebeg ini berada. Saat itu desa ini masih sepi. Hanya ada tiga rumah yang penghuninya hidup dengan membuat gula kelapa.

Lantaran sudah tiga bulan tidak makan nasi, Gandakesuma memintanya ke seorang ibu di salah satu rumah. Namun karena anaknya belum makan, maka si ibu berbohong dengan mengatakan bahwa ia belum menanak nasi. Setelah Gandakesuma pergi, nasi yang sebenarnya ada itu tiba-tiba jatuh terduduki dan tidak bisa dimakan lagi. Konon karena kejadian itu orang yang hidup di Desa Gandatapa tidak ada yang bisa kaya.

Menelusuri nama Gandakusuma, tercatat ada nama Pangeran Gandakusuma yang menjadi Adipati Kendal. Ia hidup satu jaman ketika Raden Patah menjadi Adipati Demak. Catatan tentang itu saya temukan dalam Suluk Abdul Jalil yang menceritakan perjalanan ruhani Syekh Siti Jenar. Entah apakah Adipati Kendal itu orang yang sama dengan orang yang diceritakan oleh bapak tua di Situs Candi Ebeg ini. Wallahua’lam.

Share | Tweet | WA | Email | Print! | Tag: ,

Oleh Bambang Aroengbinang. Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kirim pesan ke BA lewat email, atau lewat WA jika ingin menjadi penulis di Aroengbinang. Diperbaiki 28 Mei 2017.

Lalu «
Baru » »