Situs Bawong dan Kali Opak Bantul Jogja

Home » Yogyakarta » Bantul » Situs Bawong dan Kali Opak Bantul Jogja
Cari | Share | Tweet | WA | Print!.

Situs Batu Panah dan Petilasan Kuda Sembrani adalah dua dari sekian Situs Bawong di Desa Trimulyo, Kecamatan Jetis, Bantul, Yogyakarta yang berhasil saya datangi. Situs lainnya seperti Banyu Tetes, Batu Cungkup, Batu Amben, Batu Payung, Gua Permoni, dan Gua Sleman tidak saya kunjungi, padahal letaknya sangat berdekatan.

Sebenarnya beberapa mungkin sudah terlihat mata, namun ketiadaan tengara, serta tidak adanya penduduk setempat yang bisa memberi konfirmasi membuat saya kesulitan untuk mengenalinya.

Jarak dari Makam Cepokosari, yang saya kunjungi sebelumnya, menuju Situs Batu Panah serta Petilasan Kuda Sembrani di Dusun Bawong ini sekitar 4,7 km, arah ke timur. Setelah menyeberangi Kali Opak, belok kanan di perempatan, arah ke Selatan, lalu ke Barat sejajar dengan aliran Kali Opak.

Pak Agus (rental mobil) sempat berhenti beberapa kali untuk menanyakan arah, dan salah satunya di warung yang terletak beberapa puluh meter dari sebuah jembatan gantung, melayang di atas Kali Opak. Ketika Pak Agus tengah bertanya kepada penjaga warung, saya berjalan mendekati jembatan, lantaran teringat ramainya pembicaraan tentang jembatan-jembatan gantung yang roboh, dan para siswa sekolah berjibaku untuk melewatinya, serta kisah tentang Kali Opak.

Situs Batu Panah Kuda Sembrani Bantul Yogyakarta
Jembatan Karanggayam, itulah barangkali nama jembatan gantungnya, karena berada di Dusun Karanggayam, sekitar 450 m dari Situs Batu Panah dan Petilasan Kuda Sembrani. Suara berisik terdengar setiap kali motor lewat di atasnya, dan bilah-bilah kayu pun bergoyang-goyang.

Situs Batu Panah Kuda Sembrani Bantul Yogyakarta
Jika tiang-tiang besi dan kawat baja-nya terlihat masih cukup kokoh, maka bantalan Jembatan Karang Gayam ini kondisinya tampaknya tinggal sekitar 60%.

Situs Batu Panah Kuda Sembrani Bantul Yogyakarta
Jika melihat citra satelit di Google Map, peran Jembatan Karanggayam ini tampaknya cukup penting sebagai penghubung dua desa padat penduduk yang dipisahkan oleh Kali Opak.

Nama Kali Opak terkenal karena di sungai ini Sutawijaya konon pernah tapa ngeli (bertapa sambil menghanyutkan diri di aliran sungai). Di tepian Kali Opak pula terjadi perang tanding antara Sutawijaya melawan Arya Penangsang, Adipati Jipang Panolan.

Alkisah Raden Patah, pendiri Kerajaan Demak, memiliki putera sulung bernama Pati Unus yang kemudian menggantikannya menjadi Raja Demak ke-2. Pati Unus dikenal sebagai Pangeran Sabrang Lor karena memimpin armada menyebrang Laut Jawa menuju Malaka untuk mengusir Portugis, namun ia gugur dalam pertempuran itu.

Sepeninggal Pati Unus, terjadi perebutan tahta antara Raden Trenggana, adik kandung Pati Unus yang lahir dari permaisuri, dan Raden Kikin yang lahir dari garwa ampeyan, putri Adipati Jipang. Dalam perseteruan itu, Raden Kikin dibunuh di tepi kali seusai sembahyang Jumat oleh Ki Surayata dengan menggunakan Keris Kiai Setan Kober. Ki Surayata adalah orang suruhan Raden Mukmin, putera sulung Raden Trenggana. Raden Kikin kemudian dikenal sebagai Pangeran Sekar Seda Lepen, karena meninggal di tepi kali.

Sultan Trenggana memerintah Demak tahun 1521 – 1546. Pada masanya muncul tokoh Jaka Tingkir, yang kemudian menikahi puteri Trenggana bernama Ratu Mas Cempaka, dan Sultan Trenggana lalu mengangkat Jaka Tingkir menjadi Adipati Pajang bergelar Adipati Hadiwijaya.

Sepeninggal Sultan Trenggana, Raden Mukmin menjadi Raja Demak dan memindahkan pusat kerajaan dari Bintoro ke perbukitan Prawoto, sehingga dikenal sebagai Sunan Prawoto. Namun belum lama memerintah, putera Pangeran Sekar Seda Lepen yang bernama Arya Penangsang, membalas dendam atas kematian ayahnya dengan mengutus orang bernama Rangkud ke Prawoto pada tahun 1549, dan berhasil membunuh Sunan Prawoto di kamar tidurnya.

Selanjutnya terjadi perebutan kekuasaan antara Arya Penangsang dengan Adipati Hadiwijaya, yang mendapat dukungan dari Ratu Kalinyamat (adik Sunan Prawoto, yang suaminya juga dibunuh oleh Arya Penangsang) dan Arya Pangiri, putera Sunan Prawoto.

Namun karena Arya Penangsang dan Hadiwijaya sama-sama murid Sunan Kudus, Hadiwijaya segan memeranginya langsung, sehingga membuat sayembara untuk membunuh Arya Penangsang. Ki Gede Pemanahan dan Ki Penjawi mengikuti sayembara itu. Dalam pertempuran Pajang melawan Jipang, Ki Gede Pemanahan menugaskan Sutawijaya, anaknya, untuk menghadapi Arya Penangsang. Sutawijaya pun dibekali oleh Adipati Hadiwijaya dengan tombak pusaka Kyai Plered yang sangat ampuh.

Singkat cerita, Arya Penangsang tewas saat kerisnya yang bernama Kyai Setan Kober ditarik dari wrangka olehnya dengan maksud menghabisi Sutawijaya, namun justru memotong ususnya sendiri yang terburai terkena tusukan tombak Kyai Plered Sutawijaya. Tewasnya Arya Penangsang konon karena menyeberang Kali Opak, pantangan yang seharusnya tidak dilakukannya sesuai pesan Sunan Kudus, yang mengakibatkan ilmu kebalnya luntur.

Adalah Ki Juru Martani, kakak ipar Ki Gede Pemanahan, yang mengatur taktik agar dalam pertempuran itu Sutawijaya naik kuda betina, sehingga kuda jantan Arya Penangsang yang bernama Gagak Rimang menjadi berahi, tidak terkendali, dan membawa Arya Penangsang menyeberangi Kali Opak.

Sebagai penghargaan atas terbunuhnya Arya Penangsang, Adipati Hadiwijaya yang kemudian menjadi Sultan Pajang, menghadiahkan Pati kepada Ki Penjawi, dan Alas Mentaok kepada Ki Gede Pemanahan, dimana kemudian berdiri Kerajaan Mataram.

Situs Batu Panah Kuda Sembrani Bantul Yogyakarta
Inilah Situs Batu Panah, yang berada di tepian jalan, di lereng perbukitan. Sesungguhnya ketika memotret saya hanya menduga-duga saja, karena melihat bentuk batunya yang menarik. Goresan memanjang pada batu konon merupakan bekas anak panah yang dilepaskan oleh Sultan Agung. Seperti diketahui, Sultan Agung adalah cucu Sutawijaya atau Panembahan Senopati.

Situs Batu Panah Kuda Sembrani Bantul Yogyakarta
Petilasan Kuda Sembrani, yang berada hanya beberapa meter dari Situs Batu Panah, konon merupakan landasan Kuda Sembrani milik permaisuri Sultan Agung ketika akan terbang. Kisah tentang Kuda Sembrani ini bisa dibaca di tulisan Ki Bodho.

Pak Agus sebenarnya mendapatkan informasi bahwa situs yang lain berada di perbukitan, di atas kedua situs yang saya temui itu. Namun karena informasinya kurang jelas, saya memutuskan untuk meninggalkan tempat itu menuju ke sasaran berikutnya. Semoga dinas terkait, dan komunitas wisata setempat, bisa memberi perhatian terhadap Situs Bawong ini agar memudahkan para pejalan ketika mengunjunginya.

Situs Bawong

Alamat: Dusun Bawong, Desa Trimulyo, Kecamatan Jetis, Bantul, Yogyakarta. Lokasi GPS: -7.87921, 110.39779 (Jembatan Karanggayam), -7.87950, 110.39499 (petilasan Kuda Sembrani). Tempat Wisata di Bantul lainnya, Peta Wisata Bantul, Hotel di Yogyakarta.

Share | Tweet | WA | Email | Print! | Tag:

Oleh Bambang Aroengbinang. Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kirim pesan ke BA lewat email, atau lewat WA jika ingin menjadi penulis di Aroengbinang. Diperbaiki 19 Maret 2017.

Lalu «
Baru » »