Selat Lembeh Bitung

Selesai mengunjungi Monumen Trikora di Pulau Lembeh Bitung, Sulawesi Utara, kami kembali naik ke atas perahu motor dan menyusuri Selat Lembeh ke arah utara, di perairan sepanjang tepian Pulau Lembeh, memunggungi matahari. Langit di atas Selat Lembeh yang sekitar satu setengah jam sebelumnya sempat diguyur hujan deras, terlihat berwarna biru jernih dengan serakan awan putih di sana sini.

Selat Lembeh sepanjang 12 km ini memisahkan Pulau Lembeh dari Bitung yang berada di daratan Pulau Sulawesi bagian utara, dengan jarak bentang 1 – 2 km. Perairan Selat Lembeh yang tenang, membuat wisata di perairan Selat Lembeh bisa dinikmati dengan nyaman dan menyenangkan, khususnya jika duduk di bagian depan kapal dengan pandangan luas ke depan. Panas matahari pun tidak begitu terasa membakar, tersapu oleh angin Selat Lembeh.

Selat Lembeh
Kapal-kapal penumpang dan kapal barang, serta perahu-perahu kecil yang berlalu lalang menjadi pemandangan yang asik untuk dilihat selama menyusur Selat Lembeh yang airnya berwana kebiruan.

Selat Lembeh
Masyarakat yang tinggal di Pulau Lembeh terkena pula demam pertandingan sepak bola Piala Dunia yang tengah berlangsung ketika itu, dengan memasang bendera negara tim kesayangannya. Ketika tim yang mereka dukung kalah bertanding, pagi-pagi sekali mereka akan dengan sukarela menurunkan benderanya.

Selat Lembeh
Deretan kapal patroli Angkatan Laut berwarna abu-abu terlihat tengah sandar di tepian Pulau Lembeh.

Selat Lembeh
Pengemudi perahu membawa kami mendekati sebuah bangkai kapal yang dalam posisi terbalik dan sudah berkarat di tepian Selat Lembeh, yang menurutnya adalah sebuah kapal berbendera Korea.

Selat Lembeh
Seorang anak dan mungkin bapaknya tengah melintas Selet Lembeh di atas perahu dayung yang sederhana. Perairan Selat Lembeh dilewati sejumlah besar kapal-kapal perang dan yacht yang ikut dalam acara International Fleet Review di Sail Bunaken 2009.

Selat Lembeh
Sebuah perahu cadik yang cantik mungil berwarna kuning orange melintas cepat di depan perahu yang kami tumpangi.

Selat Lembeh
Beberapa buah kapal besar yang tampaknya tengah menjalani perbaikan, dipotret dari lubang jendela kecil di dinding atap perahu yang rendah.

Selat Lembeh
Sebuah kapal layar motor berbendera Indonesia bercat biru yang terlihat indah tengah melintas di Selat Lembeh. Kecepatan angin di atas Selat Lembeh yang rendah, membuat kapal tidak membentangkan layarnya.

Selat Lembeh
Sebuah kapal yang jika melihat tulisan di buritannya tampaknya berasal dari Jakarta. Kapal-kapal penumpang dan kapal barang dari kota-kota besar di Indonesia menaik-turunkan penumpang dan kargo di Pelabuhan Bitung, di perairan Selat Lembeh.

Selat Lembeh
Kapal-kapal yang tengah sandar di sekitar Bitung, dengan latar belakang sebuah bukit yang dipotong sampai ke bagian tengahnya, entah untuk keperluan apa.

Jika berada di Bitung, luangkan waktu menyewa perahu dari Dermaga Ruko Pateten untuk menyusuri Selat Lembeh, sambil menikmati pemandangan berbagai jenis kapal yang melintas atau pun tengah sandar di sepanjang perairan Selat Lembeh yang tenang. Pemandangan ke arah bagian selatan Pulau Lembeh juga tampaknya indah, namun saya belum punya kesempatan untuk menyusurinya.

Selat Lembeh

Memisahkan Bitung dengan Pulau Lembeh sepanjang 12 km, dengan kedalaman 8 – 10 m, dan lebar 1 – 2 km. Tempat Wisata di Bitung, Peta Wisata Bitung, Hotel di Bitung

Matched content

Bagikan tulisan ini di : Facebook | Twitter | WhatsApp | Email atau Print!
Home » Sulawesi Utara » Bitung » Selat Lembeh Bitung
Tag :

Oleh Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email untuk kabar tulisan terbaru. Diperbarui pada 19 Maret 2017.

Sebelumnya : «
Berikutnya : »
Lihat pula : Sitemap