Rawa Pening Semarang

Nama Rawa Pening telah terekam dalam ingatan sejak saya masih anak-anak. Itu karena ayah saya bekerja sebagai Wedana di Jatinom, Klaten, sampai tahun 1966, dan cukup sering mengajak bepergian ke beberapa tempat di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Rawa Pening adalah salah satu tempat mengesankan yang kami kunjungi itu.

Beberapa minggu lalu, setelah lebih dari 40 tahun, saya memiliki kesempatan berkunjung lagi ke tempat itu. Meskipun sudah sangat lama tak ke tempat ini, namun ingatan tentang keindahannya masih terpatri kuat. Apa yang pernah tersimpan mestinya tak pernah hilang atau terhapus, hanya saja semakin tua kenangan lama semakin terpendam jauh di kerak ingatan.

Pada awal tahun 60-an, satu-satunya alat transportasi di Rawa Pening yang tersedia bagi pengunjung yang ingin menjelajahi rawa yang luas ini adalah menggunakan getek atau rakit. Meskipun mereka telah lenyap ditelan jaman digantikan perahu motor, namun kenangan naik getek di atas Rawa Pening itu tetap tersimpan rapi di dalam ingatan.

Rawa Pening
Rawa Pening dengan Patung Naga di pintu masuk. Tidak pernah masuk ke dalam ingatan saya bahwa daerah berbukit setelah pintu masuk ke Rawa Pening itu bernama Bukit Cinta.

Pening
Salah satu koleksi yang anda akan lihat ketika masuk ke dalam mulut patung naga, seekor belut besar.

Mereka yang membaca cerita Nagasasra Sabuk Inten, sebuah buku silat Jawa terkenal berlatar belakang sejarah karangan almarhum SH Mintardja, tentu akan ingat tokoh yang bernama Sepasang Uling Rawa Pening yang bersenjatakan cemeti besar sebagai senjata yang mematikan. Uling Putih dan Uling Kuning adalah murid dari si kepala besar Sura Sarunggi yang kemudian terbunuh oleh Anggara, salah satu murid Pasingsingan tua dalam sebuah duel. Ilmu sakti tertinggi Sura Sarunggi yang bernama Uler Kilan tidak sangggup melawan ilmu pamungkas Anggara yang bernama Naga Angkasa.

Pening
Sayangnya Rawa Pening tidak lagi menyediakan getek, dan saya menyewa sebuah perahu motor dengan ongkos Rp.60.000 untuk satu jam berkeliling Rawa yang sangat luas ini.

Pemandangan diseputar Rawa Pening sungguh membawa kedamaian pikir dan hati. Sekali-sekali pengemudi perahu mematikan mesin motor dan membiarkan perahu mengambang dalam kesunyian, dan tidak ada bebunyian terdengar kecuali desau angin.

Rawa Pening
Seorang pria baru saja memanen Eceng gondok (Eichhornia crassipes) yang tumbuh dalam wilayah yang sangat luas di atas Rawa.

Tanaman mengambang yang tumbuh menyebar sangat cepat dan sebelumnya sempat dianggap sebagai gangguan yang membahayakan lingkungan itu kini menjadi sumber pendapatan yang baik bagi penduduk setempat yang mengolahnya menjadi bahan baku berbagai benda kerajinan tangan.

Rawa PeningRawa Pening dengan hiasan Bunga ungu Eceng gondok di permukaan airnya.

Rawa PeningRawa Pening ketika sebuah perahu dayung yang penuh berisi hasil panen eceng gondok melintas di depan kami, dengan latar pegunungan hijau biru di kejauhan dan Rawa yang tenang.

Rawa PeningRawa Pening saat seorang wanita dengan senyum mengembang tengah memanen batang Eceng gondok di tengah Rawa.

Rawa PeningRawa Pening menjadi menarik ketika melihat cara unik dan sederhana untuk menangkap ikan dengan jala, yang bisa dilihat di banyak tempat di tengah Rawa.

Rawa PeningRawa Pening dengan perbukitan Telomoyo yang terkenal, yang konon diselimuti oleh awan hampir di sepanjang waktu. Rawa Pening ini berada di lereng Gunung Merbabu, Pegunungan Telomoyo, dan Pegunungan Ungaran.

Rawa PeningRawa Pening adalah bagian dari Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Dengan luas wilayah 2.670 hektar, Rawa Pening secara bersama dimiliki oleh kota-kota Ambarawa, Bawen, Tuntang, dan juga Banyubiru.

Bagi anda penggemar cerita Nagasasra dan Sabuk Inten, nama Banyubiru pasti membawa kenangan manis pada beberapa nama, seperi Arya Salaka yang kemudian menjadi Ki Gede Banyubiru, dan ayahnya Ki Ageng Gajah Sora.

Sungguh sangat menyenangkan bisa berkunjung kembali ke tempat yang telah memberi berbagai warna dalam kehidupan ketika kita masih kecil. Semoga saja saya memiliki kesempatan lain untuk berkunjung ke Jatinom, di daerah Klaten, tempat saya tinggal sampai berumur 7 tahun, dan menyegarkan kembali ingatan saya tentang Kali mBelan dengan airnya yang jernih, pohon beringin besar di tebing sungai, gua bawah air, sungai kecil jernih yang mengalir di sepanjang tebing Kali mBelan, serta melihat kembali ritual tebar Apem di acara tahunan Yaqowiyu untuk memperingati Ki Ageng Gribig.

Rawa Pening Banyubiru Semarang

Alamat : Bukit Cinta Desa Kebondowo, Kecamatan Banyubiru, Semarang. Lokasi GPS : -7.295725, 110.415859, Waze. Rujukan : Tempat Wisata di Semarang, Hotel Semarang, Peta Wisata Semarang.

Share | Tweet | WA | Email | Print!
Home » Jawa Tengah » Semarang Kabupaten » Rawa Pening Semarang

By Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email untuk kabar tulisan terbaru. Diperbarui pada 14 Juli 2017. Tag: