Ranu Pane di Kaki Gunung Semeru

Ranu Pane di Kaki Gunung Semeru adalah tempat yang kami singgahi beberapa waktu lalu. Libur lebaran tahun ini cukup panjang karena dibarengi dengan libur hari Raya Kemerdekaan, jadi sempat agak bingung mau kemana. Mau keluar Jawa harga tiket pesawat sudah melambung, mau naik kapal laut waktunya sedikit tanggung.

Akhirnya coba-coba cari tiket kereta, ternyata di kelas ekonomi AC tujuan Malang masih tersisa 4 bangku kosong di tanggal 17 Agustus. Tanpa pikir panjang saya ambil semua tiket yang tersedia dengan asumsi ada beberapa teman yang mau diajak berpetualang ke Malang. Namun setelah tiket pp Jakarta – Malang berada ditangan, ternyata hanya ada dua teman yang mau diajak berpetualang, Valen & Metty. Tujuan pun disepakati, yaitu ke Ranu Kumbolo di pinggang Gunung Semeru. Namun sekarang saya hanya bercerita tentang Ranu Pane (Pani), desa kecil di kaki Gunung Semeru yang dilewati dalam perjalanan ke Ranu Kumbolo. Kami bertiga berangkat dari Jakarta menumpang kereta api Ekonomi AC MATARMAJA dengan harga tiket Rp. 155,000/orang sekali jalan. Kereta api berangkat dari Stasiun Senen tepat jam 2 siang.

Sedikit terkejut, ternyata PT KAI sudah menerapkan boarding system seperti di penerbangan. Jadi meski saat itu H-2 puncaknya arus mudik, kami tidak merasakan kekacauan seperti tahun-tahun lalu. Penumpang masuk stasiun dengan tertib dan rapih. Semoga sistem seperti ini dapat dipertahankan terus dan makin ditingkatkan sehingga sebagai rakyat kecilpun kami dapat merasakan pelayan yang baik dari pemerintah. Bravo PT KAI. Kami masuk Stasiun Malang tepat jam 9 pagi. Dari stasiun kami menyewa angkot menuju Tumpang, dan dari Tumpang biasanya banyak truk untuk mengangkut para pendaki sampai di Lumajang dengan membayar Rp. 20.000 – Rp. 30.000 per-orang. Tapi hari itu kami tiba terlambat, truk terakhir sudah berangkat ke Lumajang jam 7 pagi tadi. Jadi kami harus menyewa truk kepunyaan Pak Tohir seharga Rp. 300.000.

ranu pane lumajang
Rumah penduduk di Desa Ranu Pane. Lumajang memiliki cukup banyak tempat wisata, serta dikelilingi Gunung Semeru, Bromo, dan Lamongan. Selain itu juga terdapat beberapa danau (ranu). Tiga diantaranya di Kecamatan Sendoro, yaitu Ranu Klakah, Ranu Pane dan Ranu Kumbolo, dan nama Ranu Pane juga menjadi nama desa yang saya ceritakan ini.Ranu Pane termasuk salah satu desa tertinggi di Indonesia, berada di ketinggian 2100 mdpl. Masuk wilayah Kabupaten Lumajang, Kecamatan Senduro, desa ini merupakan desa terakhir sebagai tempat pemeriksaan dan melapor para pendaki sebelum dan sesudah naik Gunung Semeru (3676 mdpl).

Penduduk Kabupaten Lumajang umumnya suku Jawa dan Madura. Namun di Kecamatan Senduro, terutama Ranu Pane, masih banyak masyarakat Tengger beragama Hindu dan memiliki bahasa khas sendiri. Penduduk desa kecil ini hanya berjumlah 99 Kepala Keluarga saja, dan bentuk bangunan rumah penduduk sudah banyak yang terbuat dari Batu Bata. Awalnya kami ingin langsung naik ke Ranu Kumbolo, tapi ternyata keriaan malam takbiran di desa kecil ini lebih menarik untuk dinikmati, daripada harus berjalan ditengah malam dengan angin dingin yang sudah terasa semenjak kami melapor di pos jaga pendakian. Malam itu kami menginap di rumah porter bernama Rian yang akan menemani kami naik ke Ranu kumbolo. Rumah keluarga ini berlantai tanah, namun terasa hangat dengan keramahan tuan rumahnya. Keluarga ini sudah memeluk agama Islam dari sejak lahir, tapi aksen mereka agak sedikit aneh di telinga, dengan dialek antara Jawa Timuran dan Bali.

ranu pane lumajang
Suasana Desa Ranu Pane. Memang tepat keputusan kami untuk menginap di Ranu Pane ini, karena selain bisa sebagai tempat penyesuaian suhu udara buat Metty dan Valen yang baru kali ini naik gunung, kami juga bisa melihat keindahan desa ini lebih dekat serta merasakan keramahan penduduk desa.

Pekerjaan Rian selain menjadi Porter juga petani. Ladangnya terletak di lereng bukit tepat dibelakang rumahnya. Memang mata pencaharian sebagian penduduk desa ini adalah bertani. Tapi tidak semua tanaman tumbuh dengan baik dikarenakan suhu udara yang lumayan dingin, dengan temperatur antara 4-24 derajat Celcius. Tanaman yang dapat bertahan dengan baik adalah kubis dan daun bawang. Iklim disini juga agak basah dengan curah hujan lebih dari 100 mm per bulan. Jumlah bulan kering atau kemaraunya rata-rata kurang dari tiga bulan pertahun yaitu dibulan Juli, Agustus dan September, sisanya musim penghujan.

Tidak jauh dari danau agak ke atas sedikit terdapat pura kecil (Pedanyangan) bernama Rondo Kuning yang menjadi tempat peribadatan dan tempat upacara perayaan hari raya oleh para penduduk Tengger yang masih memeluk agama Hindu. Jika tidak sedang digunakan, pura ini dijadikan tempat pariwisata.

ranu pane lumajang
Pura Rondo Kuning yang terletak di atas Ranu Pane. Pura Rondo Kuning dibangun pada 1996 dan direhabilitasi 2001 oleh Pengelola Pura Mandara Giri Semeru Agung – Senduro, bersama umat Hindu di Ranu Pane. Rangkaian ritual Hindu di Ranu Pane berbeda dengan kasada di Gunung Bromo. Namun salah satu sumber air suci untuk upacara Kasadahan adalah Danau Ranu Pane ini.

Selain pura dan danau ada lagi yang istimewa di Desa Ranu Pane. Setiap tahun, sehari atau dua hari menjelang hari Raya Idul Fitri, para tetangga saling mengantar penganan ke tetangga sebelahnya. Uniknya kalau di Jakarta hantarannya itu berupa ketupat, sedangkan di sini hantarannya berupa nasi, lauk dan beberapa kue aneka warna.

Penduduk desa kecil ini juga selalu mengadakan lomba 17 Agustus-an seperti Panjat Pinang, pertunjukan Wayang, Jaranan atau Kuda Lumping dan kembang api di malam takbiran. Meski kami hanya kebagian melihat Jaranan yang ditampilkan Kelompok Putra Jaya Manunggal – Ranu Pani, hal itu tidak membuat kami kecewa.

Jaranan disini agak berbeda dengan permainan kuda lumping yang pernah saya lihat di Jakarta. Di Jakarta Kuda Lumping selalu identik dengan makan beling, sedangkan di sini Kuda Lumpingnya hanya makan bunga dan beras yang diletakkan didalam baskom air.

Permainan dipimpin Tetua desa untuk menjaga agar para pemain tetap aman. Sebelum pertunjukan dimulai biasanya mereka mengadakan upacara kecil agar tidak ada roh jahat yang mengganggu jalannya pertunjukan. Ketika kami tiba, pertunjukan sudah ½ jalan. Lucu juga melihat orang yang tidak sadar menari di arena, seperti banyolan dan unik.

Danau Ranu Pane yang luasnya hanya 4 hektar dan dikelilingi pepohonan rimbun hijau biasanya juga dijadikan tempat bermalam oleh para pendaki Gunung Semeru dengan membangun tenda disekitar danau sambil mereka mempersiapkan perbekalan untuk mendaki.

Desa Ranu Pane ini memiliki atmosfer menyegarkan dan bisa dijadikan sebagai tempat pengusir penat setelah berlelah mencari nafkah di Ibu kota Jakarta. Penduduk yang ramah, pemandangan yang cantik akan selalu memanggil saya untuk kembali kesini.

Jika ingin melipir ke Ranu Pane, dari Jakarta ke Surabaya bisa menggunakan Citilink, Sriwijaya, Lion dan Garuda, dengan harga tiket Rp. 300.000 – Rp. 1.000.000 sekali jalan. Dari Surabaya menuju Probolinggo bisa menggunakan bus dari terminal Bungurasih, lanjut naik Elf ke Bromo.

Pejalan juga bisa naik pesawat atau kereta api Executive Gajayana Jakarta-Malang atau kereta api ekonomi Matarmaja, dan dari Malang sewa Jip langsung ke Ranu Pane melalui Bromo, atau naik Elf sampai di Bromo, lanjut naik jip/hardtop dari Bromo ke Ranu Pane, dengan sewa Rp. 300.000 – 500.000 / jip, muat 6 – 8 orang. Dari Malang juga bisa naik angkot ke Tumpang dengan ongkos Rp. 10.000, lanjut naik truk dengan ongkos Rp. 20.000 – Rp. 30.000 sampai di Ranu Pane, berangkat jam 7-9 pagi.

Ranu Pane Lumajang

Alamat : Kecamatan Senduro, Lumajang, Jawa Timur.
Lokasi GPS : -8.0140215, 112.9457563, Waze. Rujukan : Tempat Wisata di Lumajang, Hotel di Lumajang. Galeri (13 foto) Ranu Pane Lumajang : 1.Rumah penduduk, 2.Suasana Desa, 3.Pura Rondo Kuning, 4.Suasana Stasiun, 5.Semeru 6.Kebun Kol 7.Rumah Kebun 8.Memantrai 9.Warna-Warni … s/d 13.Pinggir Danau.

Matched content

Bagikan tulisan ini di : Facebook | Twitter | WhatsApp | Email atau Print!
Home » Jawa Timur » Lumajang » Ranu Pane di Kaki Gunung Semeru
Tag :

Oleh Decyca Saune.

Suka jalan kaki, yg demen pake rok dan gelang tangan, sedikit cerdas, suka membaca, senang berada di ketinggian, tapi suka juga melaut, yg cinta sangat dengan Indonesianya. (Decy wafat pada 13 Agustus 2016 dan dimakamkan di pekuburan yg tenang di Depok. R.I.P.).

Subscribe via email untuk kabar tulisan terbaru. Diperbarui pada 3 Agustus 2017.

Sebelumnya : «
Berikutnya : »
Lihat pula : Sitemap