Pondok Pesantren Al Kahfi Somalangu Kebumen

Hal yang membuat saya tertarik berkunjung ke Pondok Pesantren Al Kahfi Somalangu Kebumen adalah karena kabarnya di sana ada sebuah prasasti kuno dari batu Zamrud Siberia yang menengarai tahun berdirinya pondok ini, yaitu pada 25 Sya’ban 879 H atau 4 Januari 1475 M. Ini pondok pesantren pertama yang pernah saya kunjungi sejauh ini.

Pondok Pesantren Al Kahfi Somalangu sangat tua, lebih dari 500 tahun. Sesudah dari Makam Bulupitu, kembali ke jalan utama kami belok kanan. Setelah 4 km belok kanan di pertigaan Kedung Bener, 50 m sebelum Ringroad , menyeberangi rel dan 1 km kemudian belok kanan di pertigaan. Sekitar 450 meter dari pertigaan itu kami masuk gang ke kanan, mentok gang belok kanan lagi, dan sampailah kami di halaman Masjid Al Kahfi Somalangu.

Pondok bertingkat para santri dan kantor pengurus pondok ada di sebelah kiri. Tempat wudlu di sebelah kanan, bersebelahan dengan pondok panggung yang asli di pesantren Al Kahfi. Hal pertama yang saya lakukan ketika turun dari kendaraan adalah menanyakan kepada beberapa orang santri Pondok Pesantren Al Kahfi Somalangu tentang dimana lokasi prasasti. Sayangnya tak satu pun dari mereka yang tahu. Namun salah satunya membantu memanggil pengurus pondok yang kemudian saya temui setelah selesai shalat.

pondok al kahfi somalangu
Serambi Masjid Al Kahfi ditopang tiang-tiang kayu jati tua dengan umpak beton. Ada tiga pintu masuk ke ruang utama masjid, yang tengah berdaun pintu empat dan yang samping berdaun pintu dua. Pengurus Pondok Pesantren Al Kahfi Somalangu bernama Rahmat Amiruddin kemudian saya temui di kantornya yang berada sebelah depan kanan masjid.

Rahmat yang berasal dari Telogosari itu menjadi santri sejak 2000, dan kemudian mengajar di sana. Sayangnya ia juga tidak tahu letak prasasti itu. Namun Rahmat memberikan fotokopi makalah berisi riwayat Pondok Pesantren Somalangu yang ditulis KH Afifuddin bin Chanif Al Hasani, yang menjadi pemimpin pondok pesantren ini sejak 1992.

Makalah itu dibawakan pada 18 November 2006 di Focus Group Discussion sebagai persiapan status Cagar Budaya Masjid Somalangu. Pendiri Pondok Pesantren Somalangu adalah Syekh Muhammad ‘Ishom Al-Hasani asal Syihr, Hadramaut, Yaman. Ia disebut Abdul Kahfi oleh gurunya, Ja’far bin Hasan dari ‘Inath, karena gemar menyendiri beribadah di dalam gua.

Pada 1448 M saat berusia 24 tahun Syekh Abdul Kahfi datang ke Pulau Jawa dan mendarat di Pantai Karang Bolong, Kebumen. Di Kebumen ia berhasil mengislamkan Desa Candi, Candiwulan, dan Candimulyo. Penduduk ketiga desa itu sebelumnya beragama Hindu yang masing-masing dipimpin Resi Dara Pundi, Resi Candra Tirto, dan Resi Dhanu Tirto.

Syekh Abdul Kahfi bermujahadah di hutan dekat ketiga desa agar kelak membangun lembaga pendidikan Islam di sana. Syekh Abdul Kahfi kemudian pergi ke Ampel, Surabaya, untuk membantu dakwah Sunan Ampel. Tiga tahun kemudian ia pindah ke Sayung, Demak, dan mendirikan pesantren. Beberapa tahun di sana, Syekh Abdul Kahfi pindah lagi ke Kudus.

Di Kudus ia diminta Sunan Ampel untuk mendidik puteranya, Ja’far As-Shadiq, yang kelak menjadi Sunan Kudus. Syekh Abdul Kahfi juga mendatangkan sahabatnya Abu ‘Amrin dari Hadramaut untuk membantu Sultan Demak Raden Fatah di bidang ketatanegaraan. Pada usia 45 tahun Syekh Abdul Kahfi menikah dengan puteri sulung Raden Fatah bernama Nur Thayyibah.

pondok al kahfi somalangu
Langit bagian dalam Masjid Al Kahfi dengan ornamen ukir silang. Atap masjid berbentuk limasan tumpang, dengan mustaka terakota yang masih asli. Pada 24 Sya’ban 879 H (1475 M), setelah 20 tahun lebih berdakwah di pesisir utara Pulau Jawa, bersama istri dan anakanya yang masih kecil Syekh Abdul Kahfi berangkat menuju Somalangu, Kebumen.

Mereka sampai di Somalangu menjelang maghrib esok harinya. Setelah maghrib ia mendirikan masjid 9 x 9 meter sebagai awal pesantren. Setelah itu dibangun rumah tinggal sederhana di sebelah utara masjid. Prasasti yang menandai berdirinya Pondok Pesantren Al Kahfi Somalangu adalah lempeng batu berukir lapis kuning bertanda 25 Sya’ban 879 H.

Juga ada pahatan Bulus berkaki tiga pada batu pondasi dan candra sengkala berbunyi “Bumi Pitu Ina”. Meskipun sudah mencari, namun lempeng batu dan ukiran bulus itu tak saya temukan. Dalam riwayat disebutkan bahwa setelah Syekh Siti Jenar dihukum mati oleh Dewan Majelis Ulama Demak, pendapat para ulama terbelah dua tentang nasib para pengikutnya.

Sebagian berpendapat para pengikut Syekh Siti Jenar cukup dibina saja, sebagian lagi berpendapat mereka juga harus ikut dibinasakan. Pada muktamar yang digelar oleh Raden Fatah untuk menghindari konflik diantara pengikut kedua kubu, Syekh Abdul Kahfi mengusulkan agar para ulama memakai solusi hakekat, bukan hanya syariat.

Dengan cara yang diusulkan Syekh Abdul Kahfi akhirnya keluar keputusan bahwa para pengikut Syekh Siti Jenar cukup dibina. Sebagai ungkapan terima kasih telah berhasil meredam konflik, Raden Fatah memberi hadiah berupa status tanah perdikan untuk wilayah yang digunakan oleh Syekh Abdul Kahfi untuk berdakwah, yaitu wilayah Somalangu.

pondok al kahfi somalangu
Bagian atas kayu Mimbar Masjid Al Kahfi. Jika diperhatikan, di bagian tengah kayu terdapat bagian tanpa ukir. Di tempat itu sebelumnya ada kepala kerbau atau Nandi yang dibuang karena mungkin berbau Hindu. Hanya tinggal bekas kepala dan telinga yang terlihat. Di mimbar juga konon ada tulisan angka 1000 H, namun saya tak menemukannya.

Sejak didirikan, Pondok Pesantren Al Kahfi Somalangu telah mengalami pergantian pimpinan sebanyak 16 kali. Diantaranya adalah generasi ke-12 Syekh Ibrahim Al Hasani atau Syekh Abdul Kahfi II. Pada jamannya, banyak alumni menjadi tokoh terkenal seperti Kya Abbas Buntet Cirebon, Kyai Dalhar Watu Congol Muntilan, dan Kyai Dahlan Jampes.

Lalu pada generasi ke-14 pemimpin Pondok Pesantren Al Kahfi Somalangu dipegang Syekh Mahfudz Al Hasani, yang dimasanya pesantren mengalami kejayaan. Saat itu ada santri yang berasal dari Gujarat India, Malaysia, Singapura, dan Arab Saudi. Namun pada masanya pesantren juga mengalami kevakuman karena pergolakan politik di jaman revolusi.

Jumlah santri dan murid di pondok pesantren Al Kahfi Somalangu kini sekitar 700 orang. Setiap Minggu Wage di pesantren diadakah pengajian rutin, sedangkan wirid biasa dilakukan sehabis setiap shalat. Selain itu ada pula kegiatan ekstra berupa kelompok Hadrah dan Marawis yang berlatih setiap malam Senin, malam Jumat, malam Minggu.

Syekh Abdul Kahfi wafat pada Jumat 15 Sya’ban 1018 H ( 15 November 1605) dalam usia 185 tahun dan dimakamkan di pemakaman Lemah Lanang yang berjarak lumayan jauh dari Somalangu. Rahmat menjelaskan bahwa di Pondok Pesantren Al Kahfi Somalangi biasa diadakan acara Khol setahun dua kali, yaitu pada tanggal 25 bulan Ruwah dan pada tanggal 25 bulan Mulud.

Pondok Pesantren Al Kahfi Somalangu Kebumen

Alamat : Desa Sumberadi, Kecamatan Kebumen, Kebumen. Lokasi GPS : -7.68207, 109.6956, Waze. Galeri : 11 foto. Rujukan : Peta Wisata Kebumen, Tempat Wisata di Kebumen, Hotel di Kebumen, Sewa Mobil di Kebumen. Galeri (11 foto) Pondok Pesantren Al Kahfi Somalangu Kebumen : 1.Serambi, 2.Ornamen ukir, 3.Mimbar, 4.Mihrab, 5.Kitab, 6.Santri, 7.Wudlu 8.Seng, 9.Terakota … s/d 11.Mustaka.

Matched content

Bagikan tulisan ini di : Facebook | Twitter | WhatsApp | Email atau Print!
Home » Jawa Tengah » Kebumen » Pondok Pesantren Al Kahfi Somalangu Kebumen
Tag :

Oleh Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email untuk kabar tulisan terbaru. Diperbarui pada 16 Juli 2017.

Sebelumnya : «
Berikutnya : »
Lihat pula : Sitemap