Pesona Segoro Anakan Pulau Sempu

Home » Jawa Timur » Malang Kabupaten » Pesona Segoro Anakan Pulau Sempu
Cari | Share | Tweet | WA | Print!.

The Hidden Paradise…, memang ada? Ada, di Pulau Sempu, pulau seluas 877 ha di Selatan Pulau Jawa, yang masuk wilayah Malang, Jawa Timur. Lalu dimana surganya? Di Segoro Anakan. Segoro Anakan memang sangat tepat untuk mendapat julukan itu, dan tempat ini pula yang menjadi tujuan treking saya beberapa waktu lalu.

Dengan berbekal pengetahuan rute seadanya, saya memberanikan diri membuat trip ke sana. Saya menghubungi dua orang teman, satu orang Surabaya (Mas Mirza) dan satu lagi orang Malang (Mas Agus), hanya 2 hari sebelum berangkat ke Malang, tempat meeting point kami.

Karuan saja mereka kaget setengah mati karena diajak mbolang, istilah gaul untuk mbocah petualang, atau mbocah ilang… :). Tiket kereta api Gajayana Jakarta-Malang sudah ditangan dan saat mbolang pun tiba. Berangkat dari Jakarta pukul 17.30 dan perkiraan sampai di Malang pukul 08.43 keesokan harinya. Rasa bosan tiba-tiba datang setelah 3 jam perjalanan dari Stasiun Gambir, dan tidur adalah solusi terbaik kalau sudah seperti ini.

Malang, I’m Coming

Segoro Anakan Pulau Sempu
Suasana Stasiun Malang di pagi hari yang terlihat belum begitu ramai.

Setelah sempat menunggu sekitar setengah jam, datanglah Mas Agus dengan sepeda motornya, dan ia pun langsung mengantar ke hotel tempat saya menginap.

Waktunya untuk membicarakan persiapan menuju Pulau Sempu esok hari. Tenda dan peralatan berkemah disiapkan Mas Mirza yang tiba di Malang pukul 22.00 dengan mobil lossback kesayangannya. Cek peralatan selesai, semua lengkap. Nah, untuk masalah logistik, kami persiapkan keesokan harinya dalam perjalanan. Istirahat malam pertama di Malang.

Perjalanan Malang – Sendang Biru

Pagi Malang…. Menikmati pagi yang tenang di Kota Malang sangatlah berbeda dengan suasana pagi di Jakarta. Udara masih sejuk, tak ada kemacetan parah, dan tentu saja ada sarapan ala tradisional.

Setelah sarapan, saya pun bergegas check out dari hotel. Mas Mirza sudah mempersiapkan lossback kesayangannya, merapikan tenda dan peralatan lainnya di belakang, sedangkan Mas Agus membeli beberapa cemilan gorengan untuk teman perjalanan. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB saat Mas Mirza menginjak pedal gas membawa mobil keluar dari area hotel.

Dalam perjalanan kami asik ngobrol ngalor ngidul, dan Mas Mirza menceramahi saya habis-habisan, “Kamu itu Dim, mbok ya jangan selalu mendadak kalau ingin mbolang. Aku dan Mas Agus kan sudah berkeluarga toh”, kata Mas Mirza. Jawabku, “Lah, piye toh mas. Kalau ndak ndadak seperti ini, pasti ujung-ujungnya gagal”. Mas Agus membenarkan dengan anggukan kepala berulang-ulang, “Betul-betul itu Dim” lugasnya.

Sekitar jam 12 siang sampailah kami di Pasar Kepanjen. Saatnya mempersiapkan logistik. Saya dan Mas Mirza mencari peralatan masak, panci, parafin, dan lain-lainnya. Mas Agus memisahkan diri mencari logistik. Mudah saja logistik yang dia bawa yaitu, INDOMIE, heheheeeeee…

Owh ya, Mas Agus ini adalah orang Malang asli, tapi belum pernah treking ke Pulau Sempu, dan meskipun rute ke Sendang Biru katanya ia tahu, namun tetap saja saya harus menggunakan GPS saat salah belok di pertigaan terakhir. Ya, begitulah Mas Agus (baca: faktor U).

Setelah perjalanan 3 jam yang lumayan melelahkan, ditambah jalan berkelok-kelok naik turun, tibalah kami di daerah Sendang Biru. Daerah terpencil dengan jejeran kapal nelayan ini sangatlah indah pemandangannya. Bau amisnya tercium sangat hebat. Hilir mudik nelayan menurunkan ikan-ikan hasil tangkapannya, dan membawanya ke tempat pelelangan.

Setelah memakirkan mobil tepat di depan kantor Polhut (Polisi Hutan), kami mengisi perut dulu. Terlihat beberapa kelompok pejalan yang baru saja pulang dari Pulau Sempu. Meskipun wajah-wajahnya terlihat lelah, tapi mereka pasti baru saja mendapatkan pengalaman hebat disana.

Pulau Sempu adalah pulau konservasi, jadi memang tidak dibuka untuk umum, dan di dalamnya juga masih sangat alami. Flora dan fauna-nya sangatlah dijaga. Ada beberapa Polhut yang mengawasinya, dan sebelum menyeberang ke Pulau Sempu kita harus mendapatkan izin dari mereka. Satu hal lagi, bila baru pertama kali ke sana maka disarankan untuk menyewa guide, dengan ongkos per hari Rp.100.000. Ada batas waktu untuk tinggal di Pulau Sempu, yaitu hanya 2 malam.

Waktu itu masih bulan Februari, sehingga curah hujan masih sangat tinggi, dan medannya berupa tanah liat dan karang. Jadi kami diharuskan menyewa sepatu treking terbuat dari karet agar tidak terlalu menghambat perjalanan.

Izin sudah didapat, perut kenyang, sepatu siap, dan Pak Parman Samin (guide) pun sudah menyiapkan perahu untuk menyeberang. Harga sewa perahu untuk menyeberang Rp.80 – 100 ribu PP. Hanya 15 menit perjalanan dari Sendang Biru ke mulut Pulau Sempu, dan karang-karang pantai langsung menyambut kedatangan kami.

Segoro Anakan Pulau Sempu
Perjalanan dimulai dari sini.

Sebelum mencapai Segoro Anakan, kami harus berjalan kaki kurang lebih 3 Km, tapi menurut saya jarak itu seolah bertambah menjadi 13 Km karena trek yang begitu berat, didominasi batu karang yang tertutup tanah liat dan lumpur. Belum lagi pohon tumbang yang menutup jalan, lorong karang, gua-gua kecil yang harus dilewati, ditambah beban di punggung yang tak kurang dari 30 Kg.

Tapi diantara kesengsaraan itu selalu timbul kebahagiaan, dan seperti inilah saya menciptakan sebuah kebahagian, yang hanya mencari susah menurut orang, namun saya lakukan dengan hati. Melihat panorama alam yang menakjubkan, pohon-pohon besar, jamur-jamur kayu, akar-akar yang menjalar menyerupai ular, kupu-kupu yang hinggap di tas punggung saya, dan monyet-monyet hitam yang terus menemani sepanjang perjalanan kami. Sesuatu yang tidak akan bisa saya peroleh di kota besar seperti Jakarta.

Segoro Anakan Pulau Sempu

Segoro Anakan Pulau Sempu
The hidden paradise, Segoro Anakan, Pulau Sempu, Malang Selatan, yang langsung saya gagahi sesaat setelah menginjakan kaki di sana. Padahal kondisi tubuh sangatlah lelah setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2,5 jam, tapi kenyataannya saya berhasil mengejakulasi perasaan secara berulang-ulang. Mensyukuri karunia Tuhan YME, dan takjub bagaimana Beliau menciptakannya.

Saya tanggalkan tas backpack di tepian pantai berpasir putih, lalu berlari sekuat tenaga menceburkan tubuh ke laut, menikmati air jernih segar yang disajikan-NYA. Oh ya, saat itu saya sudah lupa bagaimana caranya bisa sampai di situ. Semangat memuncak kembali seperti habis minum obat kuat.

Seperti itulah kehidupan ini, dapat diringkas menjadi satu perjalanan yang kita sendiri tidak pernah tahu apa yang ada dan akan terjadi nantinya. Untuk menciptakan sebuah kebahagiaan tidak lah mudah. Tapi pasti bisa dengan kegigihan dan doa. Kebahagiaan itu adalah kumpulan-kumpulan kesenangan kecil yang tercipta. Kesenangan-kesenangan kecil yang berada di kesengsaraan atau kesedihan hidup. Suatu pencapaian kebahagian yang terkadang orang lain tidak melihatnya.

Namun kegiatan di senja hari itu sangatlah cepat berlalu lantaran matahari sudah mulai turun ke peraduannya.

Malam Pertama di Pulau Sempu

Ketika malam turun, Pak Parman pun bergegas menyiapkan ranting dan dahan jatuh untuk dijadikan api unggun. Saya dan Mas Mirza menyiapkan makan malam, Indomie rebus dan kopi.

Setelah unggun menyala, saya pun mempersiapkan indomie-nya. Namun tiba-tiba Mas Mirza berteriak “Yaakkkssss…, air mineral kita menipis. Sepertinya tidak akan cukup untuk membuat mie rebus, paling hanya cukup untuk ngopi-ngopi”. “Owh God“, batin saya.

Sepertinya kami terlalu banyak minum saat perjalan tadi sore, dan dengan medan yang cukup berat memang air mineral sangatlah dibutuhkan. Lalu dengan mudahnya Mas Agus berkata “Sudahlaahhhh, buat saja mie rebusnya pakai air Segoro Anakan”.

Apa boleh buat, karena kami masih akan sangat membutuhkan air mineral itu sampai besok kembali ke Sendang Biru. Secepatnya, gagasan Mas Agus saya lakukan. Merebus mie dengan air Segoro Anakan (dibaca: air laut), dan hasilnya…waaallllaaaa, mie rebus ala chef Dimas menggunakan air laut! Silahkan mencicipi saudara-saudara.

Heheheeeee, komentar pertama adalah, muntahan-muntahan kecil dari Mas Mirza saat mencicipinya. “Aaasssiiinnnnnn bangeeettttttttttttt” teriaknya. Aku, Mas Agus dan Pak Parman pun tertawa terpingkal-pingkal. Ya iyalah, sudah tahu dimasak dengan air laut. Mas Mirza menambahkan pula bumbu-bumbu mie rebus itu. Makin asin sajalah mie yang dia makan. “Tau begini kenapa tadi ndak beli kail dan benang pancing saja sih”, lanjut teriakan Mas Mirza.

Segoro Anakan Pulau Sempu
Tak banyak kegiatan yang kami dilakukan di malam hari, selain bersenda gurau, bercerita, menikmati malam di alam terbuka dan yang pasti tidak ada sinyal HP. Jadi no internet connection before going to sleep, yeaahhh…

Hanya saja, Pak Parman kok masih sibuk wara-wiri di semak-semak. Ternyata ia sedang mencari keong. “Untuk apa keong itu pak???”, tanyaku. “Untuk dimakan lah mas…”, jawab cepat Pak Parman. “Haahhhh…”, saya kaget. “Lumayan nih klomang-klomang untuk buah tangan anak-anakku”, celetuk Mas Agus. Pantesan dia sangat getol mencari, klomang (sejenis keong) buat souvenir memang bagus juga sih.

Akhirnya kami bertiga pun ikut mencari klomang diantara semak-semak, karena malam hari adalah waktunya mereka keluar dari tempat persembunyiannya. Gara-gara tragedi INDOMIE, dimakanlah klomang-klomang yang sudah dikumpulkan itu. Enak juga rasanya, apalagi disaat perut lapar dan sudah terkontaminasi pula dengan indomie gagal tadi.

Segoro Anakan Pulau Sempu

Segoro Anakan Pulau Sempu
Suasana pagi hari di Segoro Anakan. Pagi yang sangat segar. Bangun tidur langsung nyemplung….

Eh iya, itu bukannya foto tarzan loh….Itu foto saya, yang dapat tugas dari Mas Mirza untuk menombak ikan di Segoro Anakan buat sarapan. Apa daya, sejam berlalu ikan pun tak kunjung dapat. Sarapan sisa-sisa roti dan cemilan-cemilan yang ada saja akhirnya.

Segoro Anakan Pulau Sempu
Selain berenang-berenang di Segoro Anakan, kami pun sempat menikmati pemandangan samudera dari atas tebing karang yang curam. Kata Pak Parman Samin, di bulan-bulan tertentu pejalan bisa menyaksikan lumba-lumba dari tebing ini. Benar-benar pemandangan yang sangat luar biasa.

Segoro Anakan

Pulau Sempu, Sendang Biru, Malang Selatan, Jawa Timur. Lokasi GPS: -8.4563217, 112.6899514. Tempat Wisata di Malang, Peta Wisata Malang, Hotel di Malang

Share | Tweet | WA | Email | Print! | Tag: ,

Oleh Dimas Koencoro. Bujangan yang tinggal di Jakarta, mengambil sekolah di kota Purwokerto, Jawa Tengah, sempat tinggal di kota lainnya juga, pejalan yang sederhana saja, menyukai alam dan tantangannya, kadang mbolang secara tiba-tiba dengan perencanaan sekenanya. Kirim pesan ke BA lewat email, atau lewat WA jika ingin menjadi penulis di Aroengbinang. Diperbaiki 19 Maret 2017.

Lalu «
Baru » »