Perjalanan Darat ke Teluk Kiluan Tanggamus

Setelah beberapa bulan tidak melakukan perjalanan darat, akhirnya kami memutuskan pergi ke Teluk Kiluan Tanggamus Lampung. Belum pernah kami lakukan perjalanan darat ke Sumatera. Sebelumnya hanya ke daerah Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur yang masih terjangkau mobil dengan akses jalan aspal dan masih ada sinyal HP. Kami berangkat dari Depok pukul 01.00 Sabtu, yang seharusnya pukul 21.00 karena mobil yang kami sewa baru datang. Jalan ke Merak cukup lancar karena orang-orang Jakarta masih larut dalam kegembiraan tahun baru di pusat keramaian. Ya kami jalan dalam rangka tahun baru.

Kami sampai di Merak sekitar pukul 03.00 dan langsung naik kapal penyeberangan. Biaya kapal penyeberangan untuk mobil yang kami bawa (Avanza) adalah Rp. 232.500, tanpa harus membayar per orang lagi. Tidak lama setelah masuk, kapal langsung berlayar dan kami mendapat tempat strategis di bagian atas kapal. Apabila di bagian bawah kapal, penumpang akan bergabung dengan mobil pick-up pengangkut ayam, sayur ataupun truk. Harus jeli dan rajin menanyakan pada petugasnya, apakah ada tempat kosong di bagian atas kapal. Petugas ASDP cukup kooperatif dalam mengarahkan mobil. Ini sudah yang kesekian kalinya saya naik kapal melintasi Selat Sunda, tapi baru sekarang benar-benar bisa menikmati perjalanan. Tidak perlu antre lama untuk masuk kapal. Kalau pulang mudik lebaran biasanya bisa antri sampai 8 jam. Dengan kapal yang tidak begitu penuh, saya bisa mengobrol dengan kawan-kawan sambil menikmati pemandangan laut.

Kami sampai di Baukahuni pukul 07.00 pagi, lagsung melanjutkan perjalanan dan sarapan di mobil saja. Sebelumnya kami membeli beberapa cemilan di jalan. Target untuk bisa sampai di Kiluan adalah jam 12-an. Waktu tempuh Baukahuni – Kiluan sekitar 6 jam. Persiapan makanan penting, karena di sepanjang perjalanan jarang ditemukan minimarket, tidak seperti kota-kota kecil di Pulau Jawa. Kami sempat tergoda untuk berhenti di beberapa tempat di pinggir pantai Kota Bandar Lampung. Tapi tujuan utama sudah dibuat: Teluk Kiluan. Tidak baik merubah di tengah jalan.

teluk kiluan lampung
Sebagian jalan tanah yang kami lewati menuju ke Teluk Kiluan.

Daerah yang kami lewati adalah Kalianda, Pasir Putih, Lempasing, Batu Menyan, Padang Cermin, Punduh Pedada dan Bawang. Beberapa diantaranya berada di pinggiran Kota Bandar Lampung. Untuk mencapai Teluk Kiluan sebenarnya cukup mudah karena hanya melewati jalan satu jalur, tidak banyak persimpangan yang membingungkan. Yang tidak mudah adalah kondisi jalannya.

Untuk daerah Kalianda sampai dengan pinggiran Kota Bandar Lampung, jalanan cukup baik (ber-aspal). Tetapi memasuki daerah Lempasing, kondisi jalan yang buruk membuat kami duduk terguncang-guncang di dalam mobil.

Ada suatu daerah yang menarik, namanya Padang Cermin. Di sana ada semacam Kamp militer Angkatan Laut. Ada helipad, dan dipagar dengan jarak yang cukup jauh. Di tempat itu jalan berbelok-belok, namun masih beraspal. Memasuki wilayah Punduh Pidada, jalan sudah mulai rusak. Kami sempat merasa putus asa dengan jauhnya jarak ke Teluk Kiluan ini.

Untungnya cuaca mendukung, panas dan cenderung berdebu. Ini lebih menguntungkan dibandingkan jika hujan, karena pasti longsor dimana-mana dan jalanan berlumpur. Keputusan untuk berangkat pagi dari Bakauheni cukup tepat. Jangan coba-coba untuk jalan di malam hari di sini. Gelap dan melewati hutan.

Ada perkampungan yang menarik juga, namanya Desa Bali. Di sana banyak terdapat pura-pura kecil. Kalau sudah melewati desa ini, berarti sudah dekat dengan Teluk Kiluan, begitu info yang kami dapatkan dari penduduk.

teluk kiluan lampung
Pemandangan Teluk Kiluan

Sesampainya di Kiluan, kami tidak menemukan penginapan. Kami disarankan untuk menemui seseorang yang katanya si “pemilik” Kiluan. Dia yang mengatur wisatawan yang datang boleh menginap dimana. Saya merasa mulai ada kejanggalan.

Berdasarkan info dari orang tersebut, penginapan di Pulau Kelapa (di seberang Kiluan) sudah penuh. Kami disarankan untuk menginap di rumah warga saja dengan harga Rp.200.000/malam, belum termasuk makan. Satu kali makan kita dikenakan Rp.15.000/orang. Karena tidak ada alternatif lain, kami turuti saran orang tersebut.

Berdasarkan negosiasi awal, kami dikenakan biaya naik Jukung, kapal tradisional untuk melihat lumba-lumba ke tengah samudera, sebesar Rp. 250.000/kapal. Jukung ini hanya bisa dimuati oleh maksimal empat orang.

Setelah beristirahat sebentar di rumah warga (dan agak terkaget-kaget karena ternyata mereka tidak mempunyai MCK yang layak), sore harinya kami jalan-jalan ke Pulau Kelapa dengan menggunakan kapal. Kami berhenti di pulau dan treking disana sampai magrib. Di pulau tersebut, kami melihat ada satu penginapan dan sisanya kebanyakan menggunakan tenda.

Di dekat pulau tersebut juga baru dibangun penginapan terapung, dengan sekitar 15 kamar. Di Pulau Kelapa kami bertemu dengan beberapa pejalan lainnya. Mereka juga mengalami “perjuangan” untuk sampai di Teluk Kiluan ini. Bahkan sampai ada yang mengalami pecah ban mobil dua kali di jalan.

Keesokan paginya, sekitar pukul 06.00 kami sudah siap untuk pergi melihat lumba-lumba. Dari 7 orang, 3 orang diantara kami tidak bisa berenang. Jadi kami meminta untuk disediakan jaket pelampung. Walaupun setelah dipikir-pikir, kami yang bisa berenangpun membutuhkan jaket pelampung juga, secara yang akan kami hadapi adalah Samudera Hindia. Tidak akan berpengaruh bisa berenang ataupun tidak.

Untuk mendapatkan jaket pelampung ternyata susahnya minta ampun. Belum ada koordinasi yang baik diantara mereka. Jadilah kami bolak-balik ke pulau untuk mendapatkan jaket pelampung, karena sebelumnya ada rombongan lain yang menggunakan jaket pelampung tersebut. Waktu yang terbuang percuma pagi itu sekitar satu jam.

Cuaca pagi itu tidak begitu panas, tetapi ombak lumayan besar, katanya sedang musim angin Barat. Setelah mendapatkan pelampung, jadilah kami berlayar ke tengah samudera lepas. Ada sekitar 9 kapal yang berbarengan perginya dengan kami.

Menuju ke tengah samudera diperlukan waktu tempuh setengah jam, karena lumba-lumba tidak bisa dilihat apabila dekat dengan pulau yang perairannya dangkal. Setelah menunggu dan berputar-putar sekitar satu jam, saya mulai merasa bosan dan mabuk laut pun melanda. Mungkin karena ombak yang cukup besar dan terombang-ambing.

Akhirnya, kami berhasil melihat tidak lebih dari lima lumba-lumba. Ya, kami memang kurang beruntung hari itu. Lumba-lumba tersebut datang secara tiba-tiba dan hanya beberapa kali muncul. Setelah itu, musti menunggu lagi. Jadi jangan berharap melihat ratusan lumba-lumba melompat seperti yang diberitakan di berbagai blog. Itu tampaknya terjadi kalau sedang beruntung.

teluk kiluan lampung
Mencari lumba-lumba.

Pengalaman baru yang bisa saya nikmati ketika di Teluk Kiluan ini hanyalah perasaan takjub ketika berada di tengah samudera. Saya belum pernah merasakan berada di tengah laut hanya dengan satu kapal. Betapa kecilnya kita dibandingkan dengan alam.

Pukul 10.00 kami memutuskan untuk kembali ke rumah, sarapan, dan siap-siap untuk balik ke Jakarta. Kami berharap bisa makan ikan atau hidangan laut lainnya. Tetapi malangnya, kami tidak disuguhi makanan tersebut. Sepertinya masyarakat disini tidak suka melaut. Tidak ada yang menjual ikan, kerang, atau sejenisnya, dan kekecewaan pun bertambah.

Untuk mandi, kami menemukan satu rumah warga yang punya MCK standar. Ketika bersiap-siap untuk pulang dan melapor kembali, alangkah terkejutnya kami ketika dikenai biaya tambahan yang tidak ada di negosiasi awal. Kami harus membayar tambahan untuk uang parkir, retribusi desa, pemandu jalan, jaket pelampung dan perahu ke pulau (sore harinya).

Perjalanan pulang berlangsung cepat. Memang di sinilah misteri perjalanan darat. Ketika pergi akan merasa lama dan pulang merasa cepat :). Kami singgah di Bandar Lampung, dan baru di sana kami bisa makan makanan laut dengan harga yang murah. Bertujuh hanya membayar Rp. 130.000, dan sudah puas sekali makan ikan.

Kami menyempatkan membeli oleh-oleh di Toko Suseno dan Yenyen di Jl. Kakap Teluk Betung. Di Toko YenYen yang khas adalah Sambal Lampung, keripik pisang dengan beraneka macam rasa. Di sebelahnya ada Toko Suseno, yang khasnya adalah sambel teri plus irisan kentang kering. Kami juga membeli kemplang, kerupuk ikan dan lempok (dodol durian).

Di jalan yang sama kami juga melihat ada sebuah Vihara. Cukup puaslah kami dengan waktu yang cukup singkat bisa menikmati Kota Bandar Lampung.

Kami menyeberang dari Baukahuni pukul 7 malam, dan harga tiket dari Baukahuni – Merak Rp. 235.000, hanya selisih Rp. 2.500 dibanding waktu berangkat. Masuk jalan tol Merak, perjalanan cukup lancar. Kami sampai di Depok lagi pada pukul 01.00 dini hari, sesuai perjanjian dengan persewaan mobil, dan besok sudah siap masuk kerja lagi.

Sudah sewajarnya jika kita menginginkan keadaan ideal dalam perjalanan, dan dengan harapan untuk melihat pemandangan yang indah. Tapi kadang yang terjadi tidak seperti yang diharapkan. Daripada menyalahkan masyarakat yang tidak bisa menghargai orang yang datang, atau menyalahkan pemerintah yang tidak mampu mengelola pariwisata, mungkin pelajaran yang bisa diambil dalam perjalanan kali ini adalah pentingnya mempunyai teman seperjalanan yang berpikir positif. Ketika perjalanan terasa berat dan penuh kekecewaan, maka yang tinggal di dalam kenangan adalah kebersamaan.

Teluk Kiluan Tanggamus

Alamat : Kecamatan Kelumbayan, Kabupaten Tanggamus, Lampung. Lokasi GPS : -5.7707332, 105.101502, Waze. Rujukan : Tempat Wisata di Tanggamus. Galeri 8 foto Teluk Kiluan Tanggamus : 4.Tak Mulus 5.Punduh Pedada 6.Treking di Pulau Kelapa 7.Panorama Teluk Kiluan 8.Wajah-wajah Gembira

Matched content

Bagikan tulisan ini di : Facebook | Twitter | WhatsApp | Email atau Print!
Home » Lampung » Tanggamus » Perjalanan Darat ke Teluk Kiluan Tanggamus
Tag :

Oleh Rika Febriani. Tinggal di Jakarta, berasal dari sebuah kota di wilayah Sumatera Barat, merasa beruntung bisa berkeliling Indonesia, kadang bersama teman, kadang untuk urusan pekerjaan, dan banyak lagi yang terjadi dadakan. Lebih menyukai pantai ketimbang pegunungan. Subscribe via email untuk kabar tulisan terbaru. Diperbarui pada 3 Agustus 2017.

Sebelumnya : «
Berikutnya : »
Lihat pula : Sitemap