Cerita Pendakian ke Puncak Gunung Gede

Setelah menunggu sekian lama untuk dibukanya kembali Pendakian Gunung Gede sepanjang tahun 2012, akhirnya kami berkesempatan melakukan pendakian pada Desember 2012. Gunung Gede yang terletak di tiga wilayah Kabupaten, yaitu Bogor, Cianjur dan Sukabumi ini, adalah gunung yang sudah mulai dibuka untuk tujuan wisata.

Bersama Gunung Pangrango, Gunung Gede dikelola Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango (TNGGP). Gunung berketinggian 2958 mdpl ini relatif gampang didaki dibanding gunung lain di Pulau jawa. Tetapi tetap membutuhkan kemampuan dasar dalam mendaki gunung dan tentunya stamina. Ada beberapa prosedur yang harus kami penuhi sebelum mendaki Gunung Gede. Prosedur yang dibuat TNGGP ini sudah cukup rapi. Pendaki diberi keterangan cukup jelas tentang tahap-tahap melakukan pendakian sampai hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama di Gunung. Setelah mengumpulkan teman-teman yang seide dan suka mendaki gunung, kami bersegera mendaftar diri secara online melalui booking.gedepangrango.org. Pendaftaran cukup dilakukan oleh ketua kelompok, dengan mengisi data lengkap sesuai kartu identitas setiap pendaki.

Kami berangkat berdelapan sementara yang dibolehkan mendaftar adalah kelompok dengan minimal tiga pendaki. Pihak pengelola mensyaratkan nama dan alamat organisasi. Karena kami terdiri dari individu (bekas) pecinta alam dan sedang tidak terikat organisasi, kami mengakalinya dengan nama “komunitas” dengan alamat salah satu teman yang dapat diverifikasi (bukan alamat kosan). Di pendaftaran online ini juga harus diisi tanggal dan jam masuk, serta tanggal dan jam keluar. Kita juga harus merencanakan masuk dari pintu mana dan keluar dimana. Terdapat tiga pintu masuk dan keluar ke Gunung Gede-Pangrango, yaitu Gunung Putri, Cibodas dan Selabintana. Saya bersama rombongan memilih jalur normal masuk dari Gunung Putri dan keluar ke Cibodas. Satu hari di satu pintu masuk dapat menampung maksimal 300 orang dan jumlah yang sudah mendaftar dapat kita pantau perbaruannya di website.

Setelah mendaftar online kami diharuskan membayar Rp.7.000 / orang melalui transfer bank. Draft pendaftaran dan bukti transfer kemudian divalidasi dan ditukar dengan Surat Ijin Memasuki Kawasan Konservasi (SIMAKSI) yang telah disahkan oleh petugas TNGGP. Mau tidak mau memang harus langsung mengurus ke kantornya. Kami waktu itu melapor ke kantor TNGGP di Cibodas dua minggu sebelum tanggal pendakian.

Selesai dengan urusan administrasi, kami memembuat daftar peralatan pendakian dan membagi siapa membawa apa. Barang milik individu dan digunakan untuk peralatan kelompok harus dikumpulkan. Ini penting mengingat kadang kita lupa hal sederhana tetapi sebenarnya penting. Persiapan yang matang adalah kunci utama ketika melakukan pendakian untuk meminimalisir resiko. Barang-barang yang tidak kami punyai secara individu seperti tenda dom, kompor gas, carrier, sleeping bag, nasting terpaksa kami sewa.

Peralatan individu yang penting untuk dibawa dan (menurut saya) tidak bisa bergantung kepada orang lain adalah: senter (lengkap dengan baterai cadangan), sepatu treking, sarung tangan dan syal, jas hujan, jaket, matras, obat-obatan dan air minum. Yang paling berasa manfaatnya adalah jas hujan karena cuaca kadang tidak menentu ketika berada di gunung. Waktu siang bisa panas tetapi ketika sore beranjak malam turun hujan.

Untuk logistik dapat disesuaikan dengan kebutuhan kelompok, jadwal makan dan berapa lama melakukan pendakian. Jenis pendakian pun bisa disepakati bersama apakah melakukan pendakian santai atau mengejar puncak pada saat tertentu, misalnya ketika sunrise atau sunset. Bahkan memilih untuk tidak ada target sama sekali juga suatu pengalaman yang mengasyikkan. Hal ini benar-benar bergantung kepada kesepakatan dan tujuan yang dibuat oleh kelompok.

Kami berangkat Jumat malam pukul 9 dari Depok dan naik bus dari Pasar Rebo (biasanya banyak bus yang ngetem di sini). Bus apapun bisa dinaiki asal yang melewati puncak dan Cipanas. Bus yang kami naiki tidak ber-AC dan syukurnya kami bisa tidur di sepanjang perjalanan dengan suasana yang lumayan kondusif.

Kami turun dari bus di persimpangan pasar sebelum Istana Cipanas pada pukul 3 pagi. Di bus kami bertemu dengan tiga orang yang juga mau mendaki Gunung Gede. Setelah turun dari bus, kami menyewa angkot untuk masuk ke dalam dan tiga orang ini mau bergabung bersama kami. Kegiatan pendakian memang terkadang menciptakan solidaritas dan persahabatan baru.

Sekitar pukul 4 pagi, setelah melakukan pengecekan barang dan logistik, kami memulai pendakian. Kami melapor di pos dan diberi sedikit arahan. Barang-barang kami dicek, jika ada yang membawa senjata tajam dan bahan-bahan yang mengandung deterjen, odol dan sabun maka petugas akan menyuruh meninggalkan barang tersebut. Petugas juga memastikan kelompok kami memiliki kantung sampah dan membawa sampah kembali pada saat turun nantinya.

Setelah berdoa supaya selamat di perjalanan sampai dengan turun nantinya kami memulai pendakian Gunung Gede. Kami sempat sarapan pagi di kawasan yang menurutku sangat aneh namanya: Kamar Mayat. Agh…belum apa-apa namanya sudah aneh ya… Konon disana dulu ada pos penjagaan sebagai tempat persinggahan apabila ada orang yang mengalami kecelakaan ataupun meninggal di gunung. Tetapi sekarang rumah itu sudah tidak ada lagi dan yang tinggal adalah pintu gerbang yang sudah tertutup lumut. Setelah sarapan dan ngopi kami mulai perjalanan.

pendakian puncak gunung gede
Pintu gerbang yang kelihatan sudah berlumut tidak terawat ini menyambut kedatangan setiap pendaki. Sebelum melakukan pendakian kami sarapan dan ngopi ditemani sinar matahari pagi yang cerah.

Cuaca pada hari itu cerah dan mendaki gunung dalam keadaan seperti itu ibarat nge-gym di suatu ruangan AC yang besar. Tapi begitulah suasana yang kurasakan. Cuaca panas namun udara bersih dan semilir angin tidak akan membuat kita terlalu berkeringat. Jalanan yang maki lalui sudah bagus, dipenuhi pohon besar yang ditumbuhi lumut, dengan akar pohon kayu yang kuat dan batuan dapat digunakan sebagai pijakan.

Ada beberapa “bonus” jalanan mendatar di tempat tertentu. Beberapa nama tempat yang sempat saya ingat adalah: Legak Lenca dan Simpang Maleber. Menjelang pukul 12 siang, kami sudah sampai di Alun-Alun Surya Kencana. Di sinilah para pendaki mendirikan kamp. Ketika kami sampai siang itu, belum banyak pendaki yang mendirikan tenda di pintu masuk Alun-Alun Surya Kencana.

Alun-Alun Surya Kencana adalah padang taman Edelweis yang luas, terletak pada ketinggian 2750 mdpl. Sejauh mata memandang adalah Edelweis. Peraturan yang dibuat oleh TNGGP (dan mungkin juga di seluruh Gunung di Indonesia) kami tidak dibolehkan mengambil Edelweis. Apabila ketahuan oleh petugas di bawah, maka akan disuruh mengembalikan kembali ke tempat semula! Cerita mistisnya, di Alun-Alun Surya Kencana ini konon adalah tempat Prabu Siliwangi diangkat ke langit.

Di Alun-Alun Surya Kencana ini kami mendirikan tenda, dibalik rimbunan pohon Edelweis. Ini tempat yang aman karena terhindar dari terpaan angin yang akan sangat terasa di malam hari. Beberapa spot yang dipakai para pendaki untuk mendirikan kamp adalah “pintu” masuk dan “pintu” keluar Alun-Alun Surya Kencana menuju puncak Gede.

pendakian puncak gunung gede
Kami memilih mendirikan kamp di pintu keluar supaya keesokan harinya dekat menuju puncak, tiga tenda dengan satu tenda diisi 2 orang. Di kamp ini kami beristirahat, memasak, dan bersantai. Tidak jauh dari tempat kamp kami ada sumber air dari sungai. Ini penting untuk diketahui supaya mendirikan kamp di dekat sumber mata air. Kami membawa dirigen lima liter untuk memudahkan membawanya.

Memasuki sore hari, cuaca mulai hujan deras. Untungnya kami sudah selesai mendirikan tenda dan bisa beristirahat dengan tenang di dalamnya. Tidur di dalam tenda sambil mendengar tetesan hujan adalah suatu pengalaman langka yang terekam di dalam kepala dan minta diputarkan kembali ketika rutinitas sudah mulai menjemukan.

Pukul 3 pagi kami bersiap menuju puncak Gede untuk melihat sunrise. Hanya lima orang di antara kami yang menuju puncak. Sementara 3 orang lagi lebih memilih menikmati tidur sampai pagi di kamp. Ya tidak apa-apa, kembali lagi ke tujuan awal, mendaki gunung adalah suatu preferensi pribadi yang tiap orang berhak menikmati dengan caranya masing-masing.

Diperlukan juga sedikit perbekalan air minum menuju puncak ini. Jalanan yang kembali menanjak, udara yang mulai tipis dan rebutan oksigen dengan tanaman membuatku agak kesulitan bernafas. Tetapi karena tekad yang sudah bulat untuk mencapai puncak, akhirnya sampai juga.

Kami membawa perbekalan satu tas backpack selama di puncak. Ada berbagai cara orang untuk “merayakan” keberhasilan mencapai puncak. Kami memilih untuk membawa kompor, nasting, kopi dan biskuit. Kelompok lainnya kulihat ada yang membawa kembang api, bendera dan wine (saya tidak mengerti kenapa mereka bisa lolos membawa minuman ini).

Saya mempersiapkan kopi dan memasaknya dibalik batu karena angin yang begitu kencang di puncak. Ya begitulah, kami menikmati sunrise sambil melihat Puncak Pangrango di sisi lainnya. Dari atas sini juga kelihatan Kota Bogor, Sukabumi dan Cianjur dengan lampu-lampu yang perlahan dimatikan berganti dengan cahaya matahari.

Berbagai kegiatan yang dilakukan oleh para pendaki ketika sampai di puncak, dan menarik untuk diamati. Ada yang berfoto (ini nampaknya suatu keharusan), mendengarkan musik, mengobrol dengan sesama pendaki yang ditemui di jalan, dan bagi yang religius melakukan sholat subuh di puncak! Mungkin suasana seperti inilah yang dicari orang ketika mendaki gunung.

pendakian puncak gunung gede
Terlihat satu kelompok pendaki membawa bendera dan kembang api sebagai bentuk “syukur” mencapai salah satu puncak di Indonesia. Bangga. Matahari sudah mulai tinggi dan cuaca cerah. Hanya rasa syukur yang bisa diucapkan ketika melihat pemandangan seperti ini.

Dari atas puncak terlihat kota Bogor, Sukabumi dan Cianjur. Ketika cuaca sudah mulai panas pukul 6 pagi, kami beranjak turun ke kamp, menemui kawan yang masih tidur. Kami menyiapkan sarapan bersama dan mulai membereskan barang. Kami menargetkan turun sekitar pukul 10 pagi dengan cuaca yang sudah agak mendung.

Perjalanan turun terasa begitu sangat ringan. Namun cuaca tidak bersahabat dan hujan mulai turun pada siangnya. Untungnya kami masing-masing telah menyiapkan jas hujan. Di tengah hujan kami terus berjalan dan anehnya tidak ada satupun diantara kami yang sakit. Coba saja dilakukan di Jakarta, kena hujan sedikit saja sudah flu. Mungkin ini disebabkan oleh badan yang terus bergerak. Saya juga tidak tahu pasti.

Menjelang pukul 4 sore kami sudah kembali di bawah dan melapor di pos dengan membawa sampah sebagai bukti keluar. Kami membersihkan diri dan “berganti kostum” di masjid yang ada dibawah. Sudah banyak angkot yang menunggu untuk membawa ke jalan utama di Jalan Raya Cipanas, tempat kami turun bus kemarin.

Kami men-charge energi kembali dengan makan di salah satu warung nasi Padang dan menuju Bogor dengan dua kali pergantian angkot. Kami naik kereta di Stasiun Bogor untuk kembali ke Depok. Sekitar pukul 9 malam dengan kondisi kereta yang tidak begitu ramai, kami sudah sampai dan bisa beristirahat untuk melanjutkan kehidupan normal yang sempat sign off selama dua hari dan welcome to the real life.

Gunung Gede Cianjur

Alamat : Kampung Gunung Putri, Desa Sukatani, dan Kampung Parigi, Desa Cibodas, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur. Lokasi GPS : -6.694396, 107.04112, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Galeri : 10 foto. Rujukan : Peta Wisata Cianjur, Hotel di Cianjur, Tempat Wisata di Cianjur. Galeri (10 foto) Pendakian Puncak Gunung Gede Cianjur : 1.Pintu gerbang, 2.Tenda, 3.Syukur, 4.Sarapan, 5.Treking 6.Alun-alun Surya Kencana 7.Tenda 8.Suasana Pagi 9.Matahari Pagi 10.Kopi

Matched content

Bagikan tulisan ini di : Facebook | Twitter | WhatsApp | Email atau Print!
Home » Jawa Barat » Cianjur » Cerita Pendakian ke Puncak Gunung Gede
Tag :

Oleh Rika Febriani. Tinggal di Jakarta, berasal dari sebuah kota di wilayah Sumatera Barat, merasa beruntung bisa berkeliling Indonesia, kadang bersama teman, kadang untuk urusan pekerjaan, dan banyak lagi yang terjadi dadakan. Lebih menyukai pantai ketimbang pegunungan. Subscribe via email untuk kabar tulisan terbaru. Diperbarui pada 3 Agustus 2017.

Sebelumnya : «
Berikutnya : »
Lihat pula : Sitemap