Pasar Jazz Yang Penuh Warna

Setelah berhasil keluar dari kantor sekitar jam 6.30 sore pada Kamis 18 Januari itu, saya mengarah langsung ke Gedung Kesenian Jakarta dimana perhelatan Pasar Jazz 2007 diselenggarakan. Lalin tidak terlalu buruk. Membutuhkan waktu 50 menit dari kantor di Jl Gatot Subroto ke GKJ di Pasar Baru. Tidak buruk sama sekali untuk yang tahu Jakarta.

Tiket masuk Rp.100.000 untuk dua orang (Dewi naik taksi untuk ke GKJ). Pilihan lain adalah tempat duduk di balkon seharga Rp.40.000 per orang. Harga yang sangat bagus, setidaknya dibandingkan harga tiket pertunjukan Wolfgang Muthspiel. Namun dengan harga tiket sudah sebegitu murah pun, kursi sejumlah 400 itu hanya laku sekitar 150.

Ada yang tidak beres. Sekitar 8 juta orang hidup di Jakarta di malam hari, 15 juta orang di siang hari, namun tidak bisa membuat penuh 400 tempat duduk? Halo Musisi, penyelenggara, mungkin anda perlau mendapat bantuan pakar komunikasi pemasaran, mungkin juga dukungan politik, untuk mendapat lebih banyak publikasi dan sponsor perusahaan besar, membantu mereka memenuhi tanggung jawab sosial korporatnya!

pasar jazz gkj jakarta
Pertunjukan dibuka oleh dua pembawa acara ini. Tidak ada kata sambutan. Bagus. Kedua orang ini mengisi jeda diantara pertunjukan, dan selain informatif mereka juga menghibur. Kerja yang baik. Penampil pertama adalah Ensemble D’Etudiant. Kelompok ini didirikan pada akhir 2004, lahir dari kegiatan yang dikelola “Komunitas Jazz Kemayoran”. Mereka adalah Laili Fauziah (Vokal), Robert Julius (Piano), Adriansyah Soemirat (Contrabass), Areza Riandra (drum), dengan menggandeng Rio Harlan (gitar). Jangan bertanya lagu apa yang mereka bawakan. Saya tidak membuat catatan. Namun saya menyukai musik yang mereka bawakan. Manis dan bergairah.

pasar jazz gkj jakarta

pasar jazz gkj jakarta

pasar jazz gkj jakarta

Lalu ada Beben Quartet, menggandeng Carolina. Kelompok swing quartet ini berdiri pada 2003, sebagai bagian Komunitas Jazz Kemayoran. Anggotanya adalah Beben (Gitar, Vokal), Masmo (Piano), Joshua (Contra Bass) and Hendra (Drum). Carolina bergabung pada 2005 sebagai artis tamu.

Saya menyukai kelompok ini. Mereka tahu bagaimana menghibur penonton dengan musik yang baik dan aksi panggung. Carolina tidak hanya seksi dengan pakaian yang dikenakan dan gerakan-gerakan tubuhnya, namun ia juga merayu penonton dengan suaranya.

Selanjutnya adalah penampilan grup musik jazz yang dikomandani Indra Aziz. Saya suka penampilan pria tambun ini, dan saya kira ia adalah penampil terbaik pada malam itu.

Aksi Philippe pada perkusi membuat panggung menjadi sangat hidup dengan gerak tubuh dan ekspresinya. Pemain gitar, yang tak saya ketahui namanya, bermain dengan sempurna. Indra juga memainkan komposisi ciptaannya sendiri, dan saya nilai memiliki kualitas kelas satu. Ia menutup penampilannya dengan memainkan Bento, lagu legendaris yang diciptakan Iwan Fals. Dua jempol!

Kemudian ada jeda sekitar 20 menit. Sesungguhnya itu merupakan waktu yang baik untuk menyapa penampil dan mengenal mereka dengan lebih baik, namun saya sibuk sendiri mencari penutup lensa yang saya kira hilang. Ternyata tidak.

Penampil berikutnya adalah Zarro Ananta. Biarpun ia perlu belajar untuk bagaimana membangun komunikasi dengan penontonnya, namun vokal Zarro ternyata luar biasa, dan ia memainkan gitarnya dengan sangat baik.

Zarro merilis album Latin-jazz-nya dalam bahasa Palu. Palu adalah ibukota provinsi Sulawesi Tengah, daerah asalnya.

Dilanjutkan penampilan BOBB Quartet yang dibentuk pada September 2005. Anggotanya adalah Dion Janapria (gitar), Donny Sundjoyo (double bass), Boyke Priyo Utomo (tenor sax), dan Titi Sjuman (drum). Pertunjukan ini murni pertunjukan teknik bermain musik tanpa cela, namun minimal interaksi dengan penonton. Tipe yang sejenis dengan Wolfgang Muthspiels.

Sekelebat pikir melintas ketika mendengarkan musik yang mereka mainkan, yang membuat saya sedikit mengantuk, yaitu mengapa orang-orang ini tidak bisa belajar berkomunikasi dengan penonton, yang saya pikir jauh lebih mudah ketimbang belajar bagaimana memainkan instrumen yang mereka pegang?

Penampil terakhir adalah New Conservative. Trio ini berdiri pada Jun1 2006, terdiri dari Titi Sjuman (drum), Yudo Nugroho Sundjojo (bas akustik), dan Julian Abraham Marantika (piano). Meskipun saya tidak begitu bisa menikmati musik yang mereka mainkan, namun saya harus akui bahwa mereka bermain dengan sangat baik.

Secara keseluruhan, Pasar Jazz jelas sangat layak untuk waktu dan uang yang dibayarkan. Dengan bakat orang-orang muda di sekeliling kita ini, musik Jazz sudah memiliki dudukan kuat untuk mekar berkembang di masa mendatang. Saat itu orang harus membeli tiket jauh-jauh hari untuk bisa mendapatkan tempat duduk.

Pasar Jazz Jakarta

Alamat : Gedung Kesenian Jakarta, Jalan Gedung Kesenian No.1, Pasar Baru, Jakarta Pusat. Lokasi GPS : -6.166647, 106.834703, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Rujukan : Peta Wisata Jakarta . Tempat Wisata di Jakarta . Hotel di Jakarta Pusat

Matched content

Bagikan tulisan ini di : Facebook | Twitter | WhatsApp | Email atau Print!
Home » Blog » Seni Budaya » Pasar Jazz Yang Penuh Warna
Tag : , , ,

Oleh Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email untuk kabar tulisan terbaru. Diperbarui pada 29 Juli 2017.

Sebelumnya : «
Berikutnya : »
Lihat pula : Sitemap