Pantai Saliper Ate, Sumbawa Besar

Hanya modal perkenalan berantai dari blog pejalan, kami diantar menuju Pantai Saliper Ate. Pantainya tidak jauh dari bandara Brangbiji, 5 Km ke arah barat Kota Sumbawa Besar. Kurang dari 30 menit sudah sampai lokasi pantai. Jika tidak menyewa kendaraan bisa menumpang bemo turun langsung di depan pintu gerbang.

Rencana hendak ke Pulau Moyo di Kepulauan Sumbawa jadinya hanya tinggal impian belaka karena cuaca buruk membuat tidak ada nelayan yang mau mengantar. Tapi seperti biasa, selalu ada saja orang baik hati yang mau mengajak jalan ke Pantai Saliper Ate ini.

Pantai Saliper Ate saat itu bukan tempat yang nyaman untuk kunjungan keluarga. Di dekat pantai terdapat tempat hiburan kolam renang lengkap dengan perosotan, tetapi saat saya datang tidak buka, jadi saya tidak tahu apakah tempatnya bisa menjadi lokasi menyenangkan atau tidak buat hiburan keluarga.

Pantai Saliper Ate
Gerbang pintu masuk Pantai Saliper Ate penuh pohon rimbun

Sebenarnya saya sempat memasukkan agenda Pantai Saliper Ate sebagai tempat yang harus dikunjungi di Sumbawa Besar. Tapi jujur saja, pantainya jauh dari cerita yang saya baca di situsweb dan majalah-majalah perjalanan. Gambarannya jika saya baca, pantai ini adalah pantai yang mengesankan.

Pantai Saliper Ate
Banyak orang yang mencari ketenangan di Pantai Saliper Ate, mungkin termasuk orang ini

Nama Pantai Saliper Ate dibuat karena pantai ini merupakan pantai penghibur hati. Mengapa? Karena pemandangannya yang indah sehingga kita bisa menjadi tenang hanya dengan berada di sana. Tapi ternyata bayangan hanya angan. Kenyataannya seperti ini.

Pantai Saliper Ate
Pantai Saliper Ate berserakan sampah-sampah pohon

Di gerbang Pantai Saliper Ate, kami disambut oleh satu orang penjaga tiket yang duduk di kursi plastik. Penjaga itu duduk di luar tidak berada di dalam loket. Kami tidak melihat ada bangunan menyerupai loket di pantai Saliper Ate. Mungkin memang sistemnya seperti itu.

Tiket retribusi masuk pantai tidak mahal hanya 2 ribu rupiah. Setelah membayar tiket, saya berjalan ke lokasi kolam. Karena malam sebelumnya hujan, banyak genangan air bercampur tanah kotor. Kolam-kolamnya kering tidak ada air. Selain itu lumut hijau menempel pada dinding menandakan kolam tidak terurus. Akhirnya pupus harapan melihat kolam ikan jernih, saya melangkah menuju pantai.

Pantai Saliper Ate
Pemandangan teduh dari pinggir Pantai Saliper Ate

Saya melihat ada beberapa warung yang belum buka. Disebelahnya terdapat panggung berukuran sedang. Seperti yang terjadi dengan kolam ikan, panggungnya juga tidak terurus, catnya mengelupas sana-sini. Beberapa meter dari pantai berpasir hitam, tumbuh rerumputan, yang lagi-lagi tidak terurus. Sampah berserakan di sana-sini. Sisa-sisa pohon mati terbawa arus air laut di pantai.

Pantai Saliper Ate
Panggung Pantai Saliper Ate terbengkalai begitu saja tidak terurus

Akhirnya kami menyerah hanya duduk-duduk di berugak kecil dekat pantai. Tidak mungkin datang langsung pulang kan? Beberapa orang ada yang sekedar jalan di pinggir pantai, ada juga penduduk yang melakukan kegiatan sehari-hari berjalan lalu-lalang. Hampir terserang kebosanan, saya diselamatkan pemandangan menarik. Dua orang datang mendekati saya, satu orang dewasa, satu anak-anak. Anak itu memegang seekor kuda liar.

Pantai Saliper Ate
Sebelum berlatih kuda ini diajak bermain dahulu, jangan lupa jaga jarak aman

Setelah mengajak main kuda, seperti pemanasan sebelum melakukan olah raga, anak itu mulai bersiap-siap. Bapak yang menemani tadi terlihat memberi arahan kepada anak itu. Sesuai petunjuk, maka si anak mulai menunggangi kuda tersebut. Wah, penasaran bagaimana bisa anak kecil lincah menunggang kuda. Kudanya juga tidak jinak melainkan kuda liar.

Kuda liar Sumbawa sangat terkenal bagi pecinta kuda. Fisiknya yang tangguh, kuat dan juga susunya berkualitas. Kuda-kuda dari luar negeri khusus didatangkan ke Indonesia untuk dikawinkan dengan kuda Sumbawa. Sebab dari pernikahan tersebut diharapkan akan menghasilkan kuda jenis baru dengan kondisi fisik seperti kuda Sumbawa. Biasanya kuda-kuda yang dikawinkan adalah kuda untuk pacuan.

Saat anak itu memberi makan kudanya, si bapak pelatih sempat mengajak ngobrol. Saya menanyakan, mengapa anak sekecil itu diijinkan untuk mengendarai kuda liar. Apakah tidak takut dengan keselamatannya. Dari tadi saya lihat kudanya suka menendang dan melompat-lompat. bagaimana kalau anak itu terlempar. Saya terbiasa melihat anak-anak menunggangi kuda poni yang tenang di Jakarta. Jadi agak sedikit khawatir.

Pantai Saliper Ate
Untuk bisa menunggangi kuda liar Sumbawa membutuhkan nyali dan keahlian ekstra

Ternyata di Sumbawa terdapat kejuaraan pacuan untuk anak. Kejuaraan ini sudah menjadi tradisi di masyarakat. Anak-anak yang mengikuti lomba sudah dididik sejak sangat dini dan biasanya anak yang terpilih. Hadiah bagi pemenang katanya lumayan besar. Jadi anak-anak itu antusias untuk mengikuti lomba.

Kurang dari 1 jam mereka berlatih dan kemudian pamit pulang. Pak pelatih mengundang kami untuk menonton kejuaraan pacuan kuda beberapa hari ke depan. Katanya anak yang tadi berlatih dengan kuda tersebut akan menunggang kuda yang berbeda. Kuda ini masih terlalu muda. Hah jadi kuda yang akan dipakai akan lebih liar lagi??? Sayang saat pertandingan berlangsung waktunya saya pulang kembali ke Jakarta. Padahal saya penasaran, hadiah apa yang akan didapatkan anak itu.

Pantai Saliper Ate Sumbawa

Alamat : Jl Raya Lintas Sumbawa, Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat. Lokasi GPS : -8.4726853, 117.3937386, Waze. Rujukan : Tempat Wisata di Sumbawa

Share | Tweet | WA | Email | Print!
Home » Nusa Tenggara Barat » Sumbawa » Pantai Saliper Ate, Sumbawa Besar

By Fina Hastuti. Penduduk Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta, Indonesia. Senang keluyuran melihat pemandangan hilir-mudik ikan-ikan elok di lautan dan pencinta komik hiburan, suka berfikir praktis dan anti ribet. Melihat semua hal dalam hidup dengan cara yang indah saja. Subscribe via email for newly published posts. Updated on 14 Juli 2017. Tag: