Nasi Kucing Drupadi Swarnabumi Cirebon

Jika suatu saat Anda sedang berada di Kota Cirebon dan di tengah malam merasa lapar serta ingin mencari kudapan, maka hanya ada satu-satunya tempat di kota udang itu yang Anda bisa tuju. Di jalan Lemahwungkuk menuju pasar/Keraton Kanoman, ada sebuah “situs” kuliner yang harus dikunjungi. Di sana ada Warung Nasi Kucing Drupadi Swarnabumi.

Nasi Kucing Drupadi Swarnabumi

Alamat : Jl. Lemahwungkuk No. 31. Cirebon 45111. Lokasi GPS : -6.721488, 108.568949, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Contact person : Iman Setiawan 0877.2933.5585. Rujukan : Tempat Wisata di Cirebon, Peta Wisata Cirebon, Hotel di Cirebon.

Memang jika Anda berkeliling di malam hari, Anda akan temukan banyak penjual nasi Jamblang yang khas Cirebon itu. Namun seiring dengan meningkatnya popularitas nasi Jamblang, sesuai hukum pasar harga pun meningkat. Apalagi jika ketahuan Anda bukan warga Cirebon.

Di Jalan Lemahwungkuk ini, Anda akan temui Warung Nasi Kucing Drupadi Swarnabumi milik Mang Iman (36 tahun). “Warung” ini mulai buka pukul 5 sore hingga pukul 7 pagi hari. Sulit dipercaya jika mendengar bahwa dalam semalam warung ini menghabiskan 150 kilo beras sama dengan 6 karung @ 25kg. Namun jika Anda melihat langsung baru akan percaya.

NK5
Jam 5 sore pembeli sudah antre. (foto: umar syaifullah)

Pertama kali saya menemukan tempat ini adalah ketika melintas sepulang dari Keraton Kanoman pukul 5 sore. Meja sepanjang kurang lebih 5 meter penuh antrian pembeli. Saat itu saya hanya mengambil beberapa foto saja kemudian melanjutkan perjalanan pulang ke rumah sahabat tempat saya menginap.

Dua hari kemudian sekira pukul 1 malam, saya bersama sahabat saya keliling kota mencari penjual makanan. Pusat-pusat jajanan malam sudah sepi. Sebagian sedang membereskan peralatan mereka. Satu dua penjual nasi jamblang memang masih ada, namun tak banyak variasi lauk yang menarik. Pun harganya kurang bersahabat. Nasi jamblang di sebelah Tugu Lokomotif di ujung depan Stasiun Kereta Api Kejaksaan juga sudah tutup. Ketika kami kembali ke Lemahwungkuk, justru ramai pembeli di warung nasi kucing Drupadi itu.

NK1
Menu sahur saya. (foto: umar syaifullah)

Akan tetapi kesempatan berbincang dengan mang Iman sang pemilik baru ada ketika pukul 9 malam keesokan harinya. Kebetulan saya sedang mencari makanan untuk sahur karena keesokan harinya puasa Arafah, sehari menjelang Idul Adha. Saya perkirakan lebih dari 40 orang pembeli saat itu. Menu yang saya ambil adalah Nasi Tongkol, Nasi Kepiting Pedas, Sate Telur Puyuh, gorengan Martabak, dan teh manis. Semua nasi harganya Rp. 2.000, gorengan Rp. 500,-, sate telur puyuh Rp. 2.000, teh manis Rp. 2.000. Total makan kenyang dan puas hanya seharga Rp. 8.000.

NK3
Mang Iman sang pemilik Warung Nasi Kucing Drupadi Swarnabumi. (foto: umar syaifullah)

Cirebon adalah “melting pot”, tempat di mana berbagai pengaruh budaya diterima dan diasimilasi. Seperti kita tahu pengaruh budaya Cina dan Arab sangat besar di sini. Pun letak geografis yang berada antara Jawa Tengah dan Jawa Barat membuat masyarakat Cirebon dapat berbahasa Sunda mau pun Jawa. Nasi Kucing Drupadi Swarnabumi ini pun terkesan mewakili “melting pot” itu. Meski namanya nasi kucing, namun mang Iman sang pemilik terus berinovasi agar punya ciri tersendiri. Oleh karenanya jangan heran kalau ada 33 menu di sini.

Usaha ini sebetulnya adalah warisan sang ayah berjualan nasi titipan dan gorengan dengan gerobak untuk para penjual di pasar Kanoman.

NK2
Gerobak bersejarah peninggalan sang ayah. (foto: umar syaifullah)

Sepeninggal sang ayah di tahun 2002, Iman meneruskan berjualan di pasar. Di tahun 2009, ia mulai berinovasi untuk membuat sendiri nasi kucing. Dari hanya 4 menu nasi dan 5 kg beras, kini ia sudah menghabiskan 150 kg beras untuk 33 menu dalam semalam. Jika semula ia hanya berjualan mulai jam 3 pagi, sekarang di pukul 5 sore pun orang sudah antre. Anda jangan khawatir nasi akan dingin ketika Anda datang kemalaman, karena karyawan/ti bagian produksi di belakang terus bekerja sampai dini hari.

NK7
Pukul 9 malam pun bagian produksi masih mengemas nasi yang baru matang. (foto: umar syaifullah)

Awalnya Iman mendapat inspirasi membuat nasi kucing a la resto ini dari kawasan Kemang, Jakarta (!). Ada pun nama Drupadi diambilnya dari judul film yang dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo, sedangkan Swarnabumi dimaknakan sebagai pusat bumi. Dengan 25 karyawan, Nasi Kucing Drupadi “mengokupasi” emperan Jalan Lemahwungkuk sepanjang 25 meter.

NK6
Pukul 5 sore sudah ada pelanggan yang makan di tempat. Sebagian lagi membeli untuk dibawa pulang. Tikar untuk lesehan belum digelar. Makin malam deretan bisa sampai ke motor yang parkir di atas. (foto: umar syaifullah)

Itu pun karyawannya masih tergopoh membawakan tikar untuk digelar di seberang jalan. Tak hanya itu, mang Iman sendiri punya dua kios berdampingan di situ. Salah satunya bahkan dilengkapi Telkomvision, mungkin segera akan ditambah dengan wi-fi. Toilet dan mushalla tentu saja ada, meski sederhana.

NK4
Mie Koc(l)ok, Docang, dan Krupuk Sambal. (foto: umar syaifullah)[/caption]

Tidak hanya nasi kucing dan berbagai cemilan yang Anda akan jumpai di sana, Warung Drupadi juga menyediakan Docang, Kerupuk Sambal, dll.

Matched content

Bagikan tulisan ini di : Facebook | Twitter | WhatsApp | Email atau Print!
Home » Jawa Barat » Cirebon Kota » Nasi Kucing Drupadi Swarnabumi Cirebon
Tag :

Oleh Umar Syaifullah.

Seorang pencari sunyi dan “penempuh jalan” yang tak biasa ditapaki kebanyakan orang, mantan jurnalis cetak dan elektronik di sejumlah media, yang masih senang mengamati fenomena alam di dua dunia dan misteri apa yg ada di dalamnya.

Subscribe via email untuk kabar tulisan terbaru. Diperbarui pada 3 Agustus 2017.

Sebelumnya : «
Berikutnya : »
Lihat pula : Sitemap