Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta

Museum Seni Rupa dan Keramik adalah salah satu dari sedikit museum di kota Jakarta yang masih belum sempat saya kunjungi sampai saat itu. Lokasinya sebenarnya berada sangat dekat dengan Museum Fatahillah yang telah saya kunjungi beberapa bulan berselang.

Adalah karena kurangnya pengetahuan tentang daerah itu, dan juga sebuah harga yang harus dibayar karena ketidakmauan bertanya dan mencari informasi, sehingga Museum Seni Rupa dan Keramik tidak dikunjungi waktu itu juga. Pengetahuan adalah rumah yang sangat berharga, dan pertanyaan yang baik akan membuka pintu gerbang untuk memasukinya.

Tidak sulit untuk menemukan gedung bergaya kolonial yang digunakan sebagai tempat untuk Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta. Kita hanya perlu melangkah ke ujung timur Taman Fatahillah di depan Museum Sejarah Jakarta, maka gedung Museum Seni Rupa dan Keramik sudah akan terlihat.

museum seni rupa dan keramik jakarta
Tengara Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta dengan sebuah pohon beringin rindang teduh di halaman depan Museum Seni Rupa dan Keramik, memberi pemandangan hijau sejuk di jalan masuk ke museum. Sepasang meriam tua dengan moncong garang dipasang di kiri kanan pohon beringin.

Di lantai dua, dengan menaiki tangga besi melingkar, terdapat ruangan berisi koleksi keramik asal dari luar negri, seperti Cina, Belanda, Jerman, Jepang, Timur Tengah, Thailand dan Vietnam. Di tengah bangunan Museum Seni Rupa dan Keramik terdapat ruang terbuka yang ditanami pohon dan rumput, serta bangku-bangku yang bisa dipakai para pengunjung untuk beristirahat sejenak. Ada pula mushola, toilet, dan ruang perpustakaan yang menyediakan koleksi buku-buku seni rupa dan keramik bagi para pengunjung.

museum seni rupa dan keramik jakarta
Koleksi keramik Cina dari abad X s/d XIV di Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta ini berasal dari kargo kapal karam di perairan Indonesia yang isinya berhasil diangkat. Keramik tertua yang disimpan di museum berasal dari jaman Dinasti Tang (618 – 969 M) berbentuk guci. Ada pula keramik dari jaman Dinasti Ming (1369 – 1644 M), Qing (1645 – 1912 M), Song (960 – 1279 M), dan Dinasti Yuan (1280 – 1368 M).

Ada pula koleksi keramik lokal yang dipamerkan dikumpulkan secara bertahap oleh Museum Seni Rupa dan Keramik dari daerah seperti Aceh, Bali, Bandung, Jakarta, Lampung, Lombok, Malang, Medan, Palembang, Purwakarta, Yogyakarta, dll. Diantara koleksi keramik lokal yang berharga adalah keramik jaman Majapahit dari abad ke-14, berupa pasu, kendi, periuk, celengan, terakota, relief, serta bagian tempat suci. Di lemari kaca di ruangan sayap kiri Museum Seni Rupa dan Keramik ada koleksi tanah liat tanpa hiasan, dengan tepian membalik keluar, dasar datar, dan memiliki empat buah pegangan. Ada pula guci dengan kupingan, guci tanpa hiasan, dan guci hiasan lundang-lundang.

museum seni rupa dan keramik jakarta
Lukisan karya Antonio Blanco berjudul “Dancing in the Cloud” dibuat pada 1991, berukuran 52×36 cm menggunakan cat air di atas kertas. Ini adalah salah satu dari sekian koleksi lukisan berharga yang dipajang di sayap kiri dan kanan Museum Seni Rupa dan Keramik

Ada sekitar 500 karya seni berupa patung, totem kayu, lukisan, sketsa, dan batik lukis yang disimpan di Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta, diantaranya adalah lukisan karya Hendra Gunawan berjudul “Pengantin Revolusi”, karya Raden Saleh “Bupati Cianjur”, lukisan S.Sudjojono “Seiko”, dan lukisan Affandi “Potret Diri”.

museum seni rupa dan keramik jakarta
Lukisan karya Dullah berjudul “Ibu Menyusui”. Dullah lahir di Solo pada 17 September 1919, dan dikenal sebagai pelukis realis dengan objek kebanyakan berupa wajah dan kelompok orang. Dullah belajar melukis dari S. Sudjojono dan Affandi, nomun corak lukisan mereka tak pernah sama. Koleksi benda kuno dari jaman kerajaan seperti cakra, kepeng Cina, tepian lonceng, pedupaan dan beberapa benda yang belum diketahui jenisnya disimpan di dalam lemari kaca dalam ruangan di sayap kanan bangunan museum.

Ada pula lukisan karya Basuki Abdullah dan beberapa pelukis lainnya. Sebuah lukisan klasik yang mengambil tema dari dunia pewayangan mengingatkan saya pada cerita pertarungan antara Arjuna dan Buta Cakil. Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta juga menyimpan totem kayu dan patung karya para seniman terkenal seperti I Wayan Tjokot, G.Sidharta, Popo Iskandar, Achmad Sadali, Srihadi, Nashar, Amri Yahya, AS Budiman, Barli, Sudjana Kerton, dan banyak lagi.

Jika berminat, Museum Seni Rupa dan Keramik menyediakan tempat pelatihan bagi pelajar dan masyarakat umum untuk belajar teknik membuat gerabah. Oven untuk pembakaran gerabah juga tersedia di dalam museum. Cindera mata dan minuman ringan bisa dibeli Souvenir Shop yang menjual berbagai t-shirt, mug, gantungan kunci, aksesori, sebagai kenang-kenangan telah berkunjung ke Museum Seni Rupa dan Keramik.

Museum Seni Rupa dan Keramik merupakan tempat yang baik untuk dikunjungi di wilayah kota, apalagi jaraknya sangat dekat dengan Museum Fatahillah. Meskipun keramik bukanlah merupakan benda favorit saya, namun ada banyak karya seni yang sangat bernilai selain keramik yang juga disimpan di dalam museum itu.

Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta

Alamat : Jl. Taman Fatahillah atau Jl. Pos Kota No. 2, Kota, Jakarta. Telp. 021-6929101. Fax. 021-6902387. Lokasi GPS : -6.134368, 106.814082, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam buka : Selasa – Minggu 09.00 – 15.00. Harga tiket masuk : Rp 2.000, Mahasiswa Rp 1.000, Anak/pelajar Rp 600. Rombongan 20 orang Rp 1.500, Mahasiswa Rp 750, Anak Rp 500. Rujukan : Peta Wisata Jakarta . Tempat Wisata di Jakarta . Hotel di Jakarta Barat. Galeri (93 foto) Museum Seni Rupa dan Keramik Wisata Jakarta : 1.Tengara, 2.Tiongkok, 3.Blanco, 4.Dullah, 5.Kamiri, 6.Akademis, 7.Polos, 8.Wayang Bali, 9.Keramik … s/d 93.Selasar.

Matched content

Bagikan tulisan ini di : Facebook | Twitter | WhatsApp | Email atau Print!
Home » Jakarta » Jakarta Barat » Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta
Tag : , , ,

Oleh Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email untuk kabar tulisan terbaru. Diperbarui pada 17 Juli 2017.

Sebelumnya : «
Berikutnya : »
Lihat pula : Sitemap