Museum Sejarah Nasional Indonesia

Home » Jakarta » Jakarta Pusat » Museum Sejarah Nasional Indonesia
Cari | Share | Tweet | WA | Print!.

Secara tak sengaja saya berkunjung ke Museum Sejarah Nasional Indonesia di Monas Jakarta setelah batal naik ke puncak Monas karena antrian yang sangat panjang. Maklum hari Sabtu, dan masih relatif pagi, waktu yang semua orang menduga lebih sepi, namun yang terjadi justru sebaliknya, karena orang berpikir sama.

Museum Sejarah Nasional Indonesia Monas

Alamat: Monumen Nasional, Jalan Silang Monas, Jakarta. Telp. 021-344 7733, 3514333, 3842777. Fax. 021-344 7733. Lokasi GPS: -6.175254, 106.826967, Waze. Buka setiap hari 08.30 – 17.00. Libur tetap buka. Tiket masuk: Dewasa Rp 2.500, Rp 7.500 (Pelataran Puncak). Mahasiswa/Anak-anak Rp 1.000, Rp 3.500 (Pelataran Puncak). Rujukan: Peta Wisata Jakarta, Tempat Wisata di Jakarta, Hotel di Jakarta Pusat.
Galeri (26 foto): 1.Sriwijaya, 2.Palapa, 3.Proklamasi, 4.Muhammadiyah, 5.PI, 6.STOVIA, 7.Romusha, 8.ABRI, 9.Surabaya, … s/d 26.Belanda

Museum Sejarah Nasional Indonesia lokasinya sangat dekat dengan lift ke puncak Monas, tepatnya 3 meter di bawah permukaan halaman Tugu Monumen Nasional. Ruangannya berbentuk bujur sangkar yang berukuran 80 X 80 meter, dengan lantai, dinding, dan tiang berlapis marmer. Masuk ke area museum terlihat deretan diorama berjumlah 48 buah. Diorama dimulai dengan kehidupan jaman pra-sejarah, berlanjut masa kejayaan Sriwijaya dan Majapahit, masa penjajahan, masa perjuangan mengusir penjajah, pergerakan nasional Indonesia, pendudukan Jepang, perang kemerdekaan, dan diorama jaman Orde Baru.

Kehidupan masyarakat Indonesia Purba yang hidup antara 3000 – 2000 SM juga ada dioramanya di Museum Sejarah Nasional Indonesia Monas. Peninggalan budaya jaman megalitikum itu tersebar di seluruh Nusantara, seperti Situs Cibalay, Gunung Padang, dan di Pasemah, berupa alat serpih, menhir, dolmen, sarkofagus, kubur batu, punden berundak, dan arca.

museum sejarah nasional indonesia
Diorama kesibukan Pelabuhan Sriwijaya pada abad 8 – 13 M di Museum Sejarah Nasional Indonesia. Pelabuhan samuderanya menjadi titik simpang jalur utama perdagangan Indonesia – Tiongkok – India yang membuat Sriwijaya menjadi pusat perdagangan dan budaya di Asia dan membawa kemakmuran bagi rakyat dan Dinasti Syailendra.

Selanjutnya masa kejayaan kerajaan Jawa lama, ditandai dengan berdirinya Candi Borobudur pada 824 M oleh Raja Samaratungga dari keluarga Syailendra. Borobudur menjadi cermin alam semesta. Pembangunannya menghabiskan hampir dua ribu kaki kubik batu. Di dalamnya terdapat 504 Arca Budha, serta sejumlah 1555 stupa ukuran besar kecil.

museum sejarah nasional indonesia
Penggambaran peristiwa Sumpah Palapa yang dikeluarkan oleh Mapatih Gajah Mada dari Kerajaan Majapahit pada 1331. Gajah Mada bersumpah untuk tidak makan Palapa (nasi dan lauknya) sebelum Nusantara disatukan dibawah Majapahit. Sumpah itu mendahului idealisme persatuan Indonesia, yang diperjuangkan oleh para perintis kemerdekaan sejak 1908.

Lalu pembangunan Bendungan Waringin Saptapada abad ke-11 oleh Raja Airlangga untuk mengendalikan aliran Kali Brantas yang kerap meluap, serta untuk saluran irigasi. Ada pula diorama Candi Jawi yang dibangun pada 1292 pada jaman Kartanegara, raja terakhir Singasari, kerajaan Hindu dekat Pandakan, Jawa Timur.

Penggambaran Armada Perang Kerajaan Majapahit di abad ke-14 juga menarik. Setelah Majapahit, tidak ada lagi kerajaan di Jawa yang memiliki armada laut yang kuat. Lalu diorama kedatangan Laksamana Cheng Ho ke Majapahit pada 1405 semasa Raja Wirakramawardhana yang berpengaruh pada pendirian kelenteng di beberapa tempat di Jawa.

Juga ada diorama Pertempuran Sunda Kelapa di Museum Sejarah Nasional Indonesia. Pada 1522 Raja Pajajaran meneken persetujuan dengan Henrique Leme yang memberi hak orang Portugis membangun benteng di Sunda Kelapa. Namun pasukan Fatahillah menyerbu, mengalahkan armada Portugis pada 22 Juni 1527 dan mengubah nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta.

Juga kegiatan Indonesische Vereeniging (Perhimpunan Indonesia, PI) yang berdiri di Belanda pada 1922. Pada 1927 mereka ikut Kongres Pergerakan Antikolonialisme di Brussel. Sejak itu PI memulai pergerakan menuntut kemerdekaan Indonesia, hingga Pemerintah Belanda menangkap para pemimpinnya. Namun pengadilan memutus mereka tidak bersalah.

museum sejarah nasional indonesia
Diorama Museum Sejarah Nasional Indonesia tentang proklamasi kemerdekaan. Didahului Peristiwa Rengasdengklok, pada 16 Agustus 1945 malam hingga dinihari 17 Agustus 1945 berlangsung rapat di Jl Imam Bojol 1, Jakarta, untuk merumuskan naskah proklamasi. Gedung tempat berlangsungnya rapat itu kini menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

Lalu ada suasana Gedung Stovia, ketika para mahasiswa kedokteran pribumi menyelenggarakan rapat pada 8 Mei 1908 dan melahirkan Boedi Oetomo, awal pergerakan nasional Indonesia. Konsolidasi kemudian dilakukan dengan melakukan Kongres pada 4-5 Oktoner 1908 bertempat di Yogyakarta. Gedung STOVIA itu kini menjadi Museum Kebangkitan Nasional.

Juga lahirnya ABRI pada 5 Oktober 1945, berlatar Candi Borobudur. Pada 22 Agustus 1945 Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia menetapkan Barisan Keamanan Rakyat untuk memelihara keamanan dan ketertiban umum di wilayahnya masing-masing. Pada 5 Oktober 1945 keluar dekrit pemerintah tentang pembentukan Tentara Keamanan Rakyat.

museum sejarah nasional indonesia
Salah satu diorama pergerakan politik dan sosial pra-kemerdekaan, yaitu didirikannya perkumpulan Muhammadiyah pada 18 November 1912 di Yogyakarta oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan. Muhammadiyah menjadi alat pembangunan jiwa kebangsaan melalui kegiatan pendidikan, sosial budaya, dan keagamaan.

Juga ada peristiwa pertempuran heroik di Surabaya, yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan. Kisah menggetarkan itu bisa dibaca di catatan perjalanan tentang Monumen Suryo. Mallaby, Jenderal Inggris yang kematiannya menjadi pemicu serangan Sekutu ke Surabaya, dikubur di Makam Perang Jakarta.

Ada pula upacara Pengakuan Kedaulatan di Jakarta yang dipimpin Hamengku Buwono IX. Perjuangan militer dan diplomasi, memaksa Belanda ke meja perundingan. Pada 7 Juli 1949 tercapai kesepakatan penyelenggaraan Konferensi Meja Bundar. Pada KMB di Den Haag 27 Desember 1949, Belanda mengakui kedaulatan RI dengan pembentukan Republik Indonesia Serikat.

Juga penggambaran suasana ketika berlangsung Konferensi Asia – Afrika di Bandung pada 18 – 24 April 1955. Konferensi ini membicarakan usaha bagi penyelamatan dunia dari bencana perang nuklir, dan pembentukan dunia baru yang aman dan damai, bebas dari kolonialisme. Konferensi ini diikuti oleh 30 negara dari benua Asia dan Afrika.

Masih ada banyak diorama di Museum Sejarah Nasional Indonesia yang belum disebutkan dalam tulisan ini, yang ada baiknya Anda kunjungi dan lihat sendiri untuk menyegarkan ingatan tentang pergulatan sejarah bangsa ini. Mudah-mudahan bisa pula naik lift ke dek pengamatan Monumen Nasional untuk menikmati pemandangan Kota Jakarta.

Share | Tweet | WA | Email | Print! | Tag: , ,

Oleh Bambang Aroengbinang. Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kirim pesan ke BA lewat email, atau lewat WA jika ingin menjadi penulis di Aroengbinang. Diperbaiki 26 Mei 2017.

Lalu «
Baru » »