Museum Sasmitaloka Jenderal AH Nasution

Baru beberapa hari lalu saya berkunjung ke Museum Sasmitaloka Jenderal AH Nasution di Jl. Teuku Umar No. 40, Menteng, Jakarta Pusat. Cukup sering saya melewati jalan ini, namun tidak pernah memperhatikan keberadaan museum yang nama resminya Museum Sasmitaloka Jenderal Besar DR. Abdul Haris Nasution ini, sejak diresmikan pada 3 Desember 2008.

Rumah yang ditempati Museum Sasmitaloka Jenderal AH Nasution sebelumnya adalah kediaman keluarga Jenderal Besar AH Nasution sejak menjadi KSAD pada 1949, kurang dari 2 tahun setelah sebelumnya diangkat sebagai Wakil Panglima Besar TNI (orang kedua setelah Jenderal Soedirman).

Di halaman depan Museum Sasmitaloka Jenderal AH Nasution, selain tengara nama museum juga terdapat patung Jenderal Nasution dalam posisi berdiri, diapit sepasang meriam, dan di depannya ada tiang bendera dimana berkibar bendera Sang Saka Merah Putih di puncaknya.

museum sasmitaloka jenderal ah nasution jakarta
Patung dada diapit sepasang vas bunga menyambut di pintu masuk Museum Sasmitaloka Jenderal AH Nasution, sesaat setelah pintunya dibuka oleh petugas dari Dinas Sejarah TNI AD. Tulisannya berbunyi: “Korban kebiadaban G 30 S/PKI yang mengakibatkan tewasnya putri tercinta Ade Irma Suryani Nasution dan ajudannya Lettu CZI Piere Tendean”.

Lalu ada tulisan “Negarawan sejati yang berkomitmen menentang faham komunis tumbuh subur di bumi Indonesia”dan “Cendekiawan militer, peletak dasar perang rakyat semesta dan prajurit sejati yang selalu menjaga kemurnian Pancasila dan keutuhan NKRI”. Di ruang depan terdapat patung AH Nasution di meja kerjanya. Buku koleksinya tersusun rapi dalam lemari. Di lorong tengah terdapat patung Pasukan Cakrabirawa, digambarkan dalam posisi siap tembak.

museum sasmitaloka jenderal ah nasution jakarta
Kamar tidur keluarga Jenderal AH Nasution, dimana sang jenderal dan isterinya berada saat terjadi peristiwa penyerbuan oleh Pasukan Cakrabirawa. Petugas Museum Sasmitaloka Jenderal AH Nasution jaga menceritakan bahwa malam itu Ade Irma tidur di kamar ini, diapit Pak dan Ibu Nas (Ibu Johanna Sunarti).

Ketika keduanya terbangun saat subuh, terdengar suara gedoran pintu depan. Saat Ibu Nas membuka pintu kamar, Pasukan Cakrabirawa telah berada di pintu depan, maka buru-buru Ibu Nas mengunci pintu. Pasukan Cakrabirawa berusaha masuk ke kamar, menembakkan senapan menembus pintu namun tidak ada yang terkena. Ade Irma terbangun mendengar suara tembakan.

museum sasmitaloka jenderal ah nasution jakarta
Setelah dibujuk, Jenderal Nasution akhirnya kabur melompati tembok dan terjatuh di Kedutaan Irak. Ketika mengantar Nasution, Ade Irma diserahkan Ibu Nas kepada adiknya. Mendengar gedoran pintu, sang tante sambil menggendong Ade Irma malah membuka pintu kamar, dan saat itulah seorang anggota Cakrabirawa menembakkan senapan dan mengenai Ade Irma dari jarak dekat.

Di halaman belakang Museum Sasmitaloka Jenderal AH Nasution, terlindung di dalam cungkup kanopi, terdapat Mobil Volvo dengan nomor 02-00 dan lima bintang, hadiah dari pemerintah Orde Baru saat AH Nasution dianugerahi pangkat Jenderal Besar. Mobil itu kini menjadi salah satu koleksi museum.

museum sasmitaloka jenderal ah nasution jakarta
Instalasi Museum Sasmitaloka Jenderal AH Nasution yang menggambarkan situasi saat Ibu Nas menghadapi Pasukan Cakrabirawa sambil menggendong Ade yang tertembak, setelah gagal menelepon Mayjen Umar Wirahadikusumah, Komandan Garnisun Jakarta. Ibu Nas dengan berani berkata: “Kamu datang kesini hanya untuk membunuh anak saya?!!”

Salah satu anggota Pasukan Cakrabirawa dengan kasar berkata “Mana Nasution?!”, dan dihardik keras oleh Ibu Nas: “BAPAK NASUTION!!!” Disahut: “Dimana dia?”, dan dijawab: “Dia tidak ada. Dia sedang ke Bandung dari 2 hari yang lalu”. Adalah ditangkapnya ajudan Jenderal Nasution, Pierre Tendean, yang membuat Pasukan Cakrabirawa pergi. Pierre Tendean tewas dibunuh di Lubang Buaya.

Karena luka-lukanya, Ade Irma Nasution akhrinya meninggal dunia di RS Gator Subroto setelah sempat dirawat selama enam hari. Ia dimakamkan di TPU Blok P Petogogan, Jakarta Selatan. Makam Ade Irma Suryani Nasution sempat akan tergusur karena pembangunan, namun kini dijadikan monumen dalam kompleks Kantor Walikota Jakarta Selatan.

Jenderal Besar Abdul Haris Nasution meninggal dunia pada 6 September 2000 dalam usia 81 tahun, sedangkan Ibu Johanna Sunarti meninggalpada 23 Maret 2010 dalam usia 87 tahun. Keduanya dimakamkan berdampingan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Museum Sasmitaloka Jenderal AH Nasution kini menjadi kenangan hidup pada sebuah episode dalam kehidupan mereka.

Museum Sasmitaloka Jenderal AH Nasution

Alamat : Jl. Teuku Umar No. 40, Menteng, Jakarta Pusat. Lokasi GPS : -6.19293, 106.83278, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam buka Selasa s/d Minggu, 08:00 – 14:00. Harga tiket masuk : gratis. Rujukan : Peta Wisata Jakarta, Tempat Wisata di Jakarta, Hotel di Jakarta Pusat. Galeri (10 foto) Museum Sasmitaloka Jenderal AH Nasution Wisata Jakarta : 1.Patung, 2.Kamar, 3.Melompat, 4.Ade, 5.Kerja, 6.Cakrabirawa, 7.Tembok, 8.Mobil, 9.Koleksi, 10.Halaman.

Matched content

Bagikan tulisan ini di : Facebook | Twitter | WhatsApp | Email atau Print!
Home » Jakarta » Jakarta Pusat » Museum Sasmitaloka Jenderal AH Nasution
Tag : , , , ,

Oleh Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email untuk kabar tulisan terbaru. Diperbarui pada 17 Juli 2017.

Sebelumnya : «
Berikutnya : »
Lihat pula : Sitemap