Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka di Agam

Home » Sumatera Barat » Agam » Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka di Agam
Cari | Share | Tweet | WA | Print!.

Sebuah tanda arah kecil berbunyi Rumah Buya Hamka yang saya lihat di tepian jalan di sekitar Danau Maninjau membuat kami berbalik arah untuk kemudian berkunjung Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka di Kampung Tanah Sirah, Sungai Batang Maninjau, Sumatera Barat. Sebuah kunjungan yang tidak direncanakan sebelumnya.

Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka
Tampak depan Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka, yang terletak beberapa meter di atas permukaan jalan, menghadap Danau Maninjau, dengan bentuk bangunan tradisional rumah gadang. Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka ini mudah dikenali karena selain selalu ramai dikunjungi pejalan, juga terdapat tulisan besar di tebing rumah yang dihias dengan tatanan bebatuan.

Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka
Masuk ke dalam Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka, terdapat sebuah meja tempat pengunjung mengisi buku tamu, yang ditunggui oleh seorang pria berusia 60-an tahun bernama Hanif dan seorang lagi yang lebih muda.

Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka
Di samping meja buku tamu terdapat meja lain yang di atasnya dihampar cincin polos dan cincin yang matanya dihias berbagai jenis batu akik dengan bermacam warna dan ukuran. Pada dinding di belakangnya terdapat foto Buya Hamka dengan Bung Hatta, dan seorang tokoh lain.

Semasa hidupnya HAMKA dikenal luas sebagai sastrawan, ulama, dan juga aktivis politik. Karena kegiatan politiknya HAMKA pun sering berbenturan dengan penguasa, seperti dengan Soekarno soal NASAKOM dan kemudian dengan Soeharto tentang ketidaksetujuannya terhadap diselenggarakannya perayaan Natal Bersama.

Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka
Pada dinding sebuah ruangan Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka terdapat foto-foto Buya Hamka, kursi tua, tongkat peninggalan Buya Hamka, dan ada pula lampu antik. Nampaknya akan lebih hidup jika di bawah foto-foto di Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka itu diberi keterangan atau cerita singkat tentang foto-foto itu, yang tentu akan sangat membantu para pengunjung.

Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka
Tempat tidur Buya HAMKA, nama popoler dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah. HAMKA lahir di tempat ini pada 17 Februari 1908, dan tinggal di rumah neneknya selama 6 tahun. Pendidikan formal HAMKA hanya sampai kelas dua di sekolah rendah. HAMKA kemudian belajar di Sumatera Thawalib di Padangpanjang, sekolah dengan sistem madrasah yang didirikan ayahnya, setelah mereka sekeluarga pindah kota itu pada 1914.

Ketika kedua orang tuanya bercerai pada tahun 1923, pada usia 15 tahun HAMKA pergi seorang diri meninggalkan Padangpanjang untuk merantau ke Jawa, namun sesampainya di Bengkulu ia terkena wabah cacar, sehingga dua bulan kemudian HAMKA kembali lagi ke Padangpanjang.

Setelah sembuh dari penyakit cacar, HAMKA pun berangkat lagi ke Jawa pada tahun 1924, menuju Yogyakarta. Adalah karena bantuan pamannya yang bernama Ja’far Amrullâh, Hamka bisa mengikuti kursus-kursus yang diselenggarakan oleh Muhammadiyah, dimana ia belajar dari Ki Bagus Hadikusumo. HAMKA juga belajar dari HOS Cokroaminoto, Kiai Haji Fachruddin dan R.M. Surjopranoto.

Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka
Ruang di sudut sebelah kanan Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka, dimana disimpan pakaian, buku-buku, penghargaan dan kenang-kenangan untuk Buya HAMKA.

Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka
Rumah nenek Buya HAMKA ini sempat hancur pada masa pendudukan Jepang, dan bentuk Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka yang kita lihat seperti sekarang ini adalah hasil renovasi yang dilakukan pada tahun 2001. Sebagai sastrawan, HAMKA menghasilkan karya-karya sastra monumental, seperti kisah Di bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van Derwijk, Merantau ke Deli, dll. Buya HAMKA, meninggal di Jakarta pada 24 Juli 1981 dalam usia 73 tahun.

Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka

Kampung Tanah Sirah, Sungai Batang Maninjau, Agam, Sumatera Barat. GPS: -0.35582, 100.21826Hotel di Bukittinggi . Hotel di Padang

Share | Tweet | WA | Email | Print! | Tag:

Oleh Bambang Aroengbinang. Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kirim pesan ke BA lewat email, atau lewat WA jika ingin menjadi penulis di Aroengbinang. Diperbaiki 19 Maret 2017.

Lalu «
Baru » »