Museum Manggala Wanabakti Jakarta

Museum Manggala Wanabakti Jakarta berada dalam kompleks Kementerian Kehutanan di Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Pusat, tepat di samping Gedung MPR. Pintu masuk ke Museum Manggala Wanabakti berada jalan ke arah Jl. Gelora VII.

Dari Halte TransJakarta Slipi Petamburan ke Museum Manggala Wanabakti bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama sekitar 20 menit. Peresmian Museum Manggala Wanabakti ini dilakukan pada 24 Agustus 1983 oleh Presiden Soeharto.

Koleksi artifak Museum Manggala Wanabakti dipamerkan sesuai bidangnya, yaitu Perencanaan, Reboisasi dan Rehabilitasi, Eksploitasi, Industri Pengolahan Kayu, Artifak Bekas Upacara

Artifak Perencanaan Kehutanan memberi pedoman dan arah agar tujuan penyelenggaraan kehutanan tercapai, yang dilakukan secara transparan, bertanggung gugat, partisipatif, terpadu, serta memperhatikan kekhasan dan aspirasi daerah sesuai UU No. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan.

Diantara Artifak terkait Perencanaan Kehutanan di Museum Manggala Wanabakti adalah Awig-Awig, buku Definitief Bedrijfsplan In Engeren Zin Van De Houtvestery Tjepoe (Duplicaat & Triplicaat), Buku Rencana Kelestarian Kelas Perusahaan Jati dari Kesatuan Pemangkuan Hutan Bojonegoro, Peta Areal Hutan Jati & Non Jati Di Jawa Timur serta Peta Tanah di kawasan Jawa dan Madura.

Lalu ada Peta Kelas Perusahaan Eboni dari KPH Tabalu Poso Sulawesi, Stereoskop, Kompas Rekta, Planimeter (Area Counter), Equerre, Mistar Hitung Hemmi / Hemmi Slide Rule, Buku Ukur / Log Book, Theodolith, Lukisan Kegiatan Pemetaan Areal Menggunakan Theodolith Jaman Dulu, Lukisan Kegiatan Pemetaan Areal Menggunakan Theodolith, dan Lukisan Kegiatan Pemetaan Areal Menggunakan Theodolith.

Awig-awig berisi tatacara kehidupan yang harus dipatuhi oleh warga desa di Bali dimana awig-awig itu dikeluarkan, serta hukuman yang harus diterima jika melanggar. Awig-awig di Museum Manggala Wanabakti ada 40 lembar, dibuat dari daun lontar, aslinya berada di Tenganan Pegringsingan, Bali, yang ditetapkan pada Jumat Pon, Wara Tambir Sasih Kasa panglong ping 10 rah7 tengek 4, 1 Saka 1847.

Awig-awig Tenganan Pegringsingan terdiri dari 61 pasal, dimana pasal 15, 16, 51, 55 dan 61 berisikan ketentuan yang berhubungan dengan kelestarian alam dan lingkungan hidup, berdasarkan terjemahan bebas oleh I Wayan Nudhita yang berasal dari desa adat itu.

Buku dalam bahasa Belanda berjudul Definitief Bedrijfsplan In Engeren Zin Van De Houtvestery Tjepoe berisi Peraturan Perundang-undangan mengenai Perencanaan pengelolaan hutan jati di wilayah Cepu, Jawa Tengah, yang berlaku dari tahun 1933 – 1942.

Buku Rencana Kelestarian Kelas Perusahaan Jati Dari Kesatuan Pemangkuan Hutan Bojonegoro terdiri dari 7 jilid. Jilid A ada 3 buku yang di buat tahun 1974, dan jilid B terdiri dari 4 buku.

Peta Areal Hutan Jati & Non Jati Di Jawa Timur, Serta Peta Tanah Dikawasan Jawa Dan Madura memakai skala 1: 1.000.000 dengan 2 warna, dibuat pada 1922. Hijau untuk area hutan rimba dan coklat area hutan jati. Peta Tanah di kawasan Jawa dan Madura, memakai skala 1:1.000.000, dibuat pada 1957 dan disusun oleh Jongh dan Mehr dari Balai Penyelidikan Tanah.

Ada 736 artifak yang disimpan di dalam dan di luar Museum Manggala Wanabakti yang memberi gambaran sejarah kehutanan.

Pameran di dalam ruangan Museum Manggala Wanabakti diantaranya adalah Pohon Jati berbicara yang berumur 139 tahun, diorama 5 tipe hutan di Indonesia (alam, jati, pinus, damar, dan mangrove), zwalp kayu yang dibuat dengan gergaji mesin, gelondong jati berusia 336 tahun, miniatur cikar pengangkut kayu gelondongan, lukisan “Perjuangan Pasukan Wanaran”, contoh berbagai jenis kayu, fosil kayu, contoh ubin parket kayu jati, papan wol plek, vinir slais, manfaat kayu limbah, kayu gelondong mahoni, pulp & paper, replika Monumen Pahlawan Pasukan Wanara tahun 1948, dan Patung Penjaga Desa.

Pameran di luar ruangan ada patung Mantri Hutan jaman dahulu, patung penyaradan gelondong kayu jati oleh enam sapi, lokomotif dari jaman Belanda yang dipakai mengangkut kayu, fosil kayu kamper dengan panjang 28 meter dan diameter pangkal 105 cm.

Di dalam ruangan Museum Manggala Wanabakti, artifak disusun dalam 9 vitrin, dan 5 diorama tipe hutan di Indonesia, yaitu: Vitrin I: peta-peta tanah/hutan, awig-awig, buku RPKH (Rencana Pengaturan Kelestarian Hutan) dan buku Rencana perusahaan zaman Belanda
Vitrin II: alat-alat ukur untuk membuat peta kehutanan dan interpretasi potret udara
Vitrin III: alat-alat eksploitasi hutan dan foto-foto angkutan kayu zaman dahulu yaitu cikar dan monorail
Vitrin IV: perlengkapan Mantri Hutan zaman Belanda dan alat-alat yang biasa dibawa orang masuk hutan

Vitrin V: persuteraan alam, penyadapan pinus yang menghasilkan gondorukem, serta peralatan kerja dan berburu dari Kalimantan Timur
Vitrin VI: “pohon” yang menggambarkan hasil aneka produk dari kembang, daun, kulit dan batang pohon-pohon hutan.
Vitrin VII: alat-alat olah raga, patung dan lain-lain yang dibuat dari kayu.
Vitrin VIII: benda-benda bersejarah untuk upacara peresmian.
Vitrin IX: gunungan/kayon, yang dipakai sebagai latar belakang pada upacara peresmian kompleks Gedung Manggala Wanabakti.

Vitrin Kecil: gading gajah Sumatera dan Afrika, serta 2 patung yang dibuat dari gading gajah Afrika.
Vitrin Kecil: insignia, emblem, dan foto monumen Pasukan Wanara.
Vitrin besar: opset badak Sumatera.

Selain itu ada pula delapan landasan, yaitu
Landasan I berupa Kayu Jati Zwalp, bantalan rel kereta api, bulung halus yang dibuat dengan alat tradisional, dan belahan gelondong jati doreng.
Landasan II berupa saradan / keser, yaitu alat yang ditarik oleh satu atau beberapa ekor sapi untuk mengganjal ujung kayu gelondong jati agar terangkat sehingga memudahkan penyaradan dari lapangan tebangan ke tempat pengumpulan. Alat ini sampai sekarang masih digunakan di hutan-hutan jati di Pulau Jawa.

Landasan III: Kuda-Kuda untuk mengangkut kayu gelondong atau hasil hutan lainnya dari tempat penebangan menuju sungai atau ke jalan mobil, dengan cara meluncurkan kuda kuda di atas “jalan tongkat”. Alat angkut ini sampai sekarang masih banyak digunakan di Riau dan Kalimantan
Landasan IV: Draisin atau Ontel yang dipergunakan oleh Sinder / Mantri Hutan ketika memeriksa jaringan rel yang dilalui lokomotif pengangkut kayu, serta ketika memeriksa tanaman, penjarangan dan penebangan kayu
Landasan V: Pal Batas, pal petak dan pal batas areal sumber air, yang terbuat dari kayu jati dengan panjang 2 meter, sebagian menghujam ke tanah.

Landasan VI: Pohon dan Akar Cendana yang kulitnya telah mengelupas
Landasan VII: Miniatur Gerobak Cikar yang banyak digunakan di pulau Jawa mulai tahun 1920-an, biasanya ditarik dua ekor sapi untuk mengangkut kayu jati gelondongan. Umumnya gerobak cikar mampu mengangkut 3-5 batang balok, dengan volume 2.50 m3.
Landasan VIII: Jati Gembol, Jati Duri dan Patung Hanoman

Diorama Museum Manggala Wanabakti berisi miniatur hutan alam, hutan jati, hutan pinus, hutan agathis, dan hutan payau lengkap dengan keadaan lingkungannya seperti adanya binatang-binatang yang tinggal di wilayah hutan tersebut

Panel Di Lantai Dasar Museum Manggala Wanabakti adalah sebagai berikut
Panel I: lukisan angkutan kuda-kuda; foto tempat penebangan pohon di hutan dan pengangkutan kayunya.
Panel II: foto-foto perumahan blandong, administratur, dan pesanggrahan di jaman penjajahan Belanda.
Panel III: Usaha melestarikan hutan yang telah ditebang di deretan atas, dan lahan hutan yang menjadi hancur di deretan bawah.

Panel di lantai atas berisi keterangan garis besar kebijakan di bidang hutan dan kehutanan di Indonesia, sejarah organisasi kehutanan dari masa ke masa, foto-foto keadaan dan suasana hutan dan isinya diberbagai wilayah Indonesia.

Di lantai dua juga ada pusat dokumentasi dan informasi yang menyimpan ribuan bahkan jutaan koleksi bahan pustaka ilmiah, baik dalam bentuk buku maupun digital. Perpustakaan ini terbuka untuk umum.

Museum Manggala Wanabakti Jakarta

Alamat : Kompleks Gedung Manggala, Jl. Jend. Gatot Subroto, Senayan, Jakarta Selatan. Telp 021-5703246 – 5703265, pesawat 5569 & 5166, Fax 021-5710450. Lokasi GPS : -6.206301, 106.798851, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam Buka : hari Senin s/d Jumat: 09.00 – 15.000. Hari Sabtu, Minggu dan Libur Nasional: Libur. Kunjungan di hari libur dengan perjanjian. Harga tiket masuk : gratis. Rujukan : Peta Wisata Jakarta . Tempat Wisata di Jakarta . Hotel di Jakarta Pusat.

Matched content

Bagikan tulisan ini di : Facebook | Twitter | WhatsApp | Email atau Print!
Home » Jakarta » Jakarta Selatan » Museum Manggala Wanabakti Jakarta
Tag : ,

Oleh Bambang Aroengbinang.

BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA.

Subscribe via email untuk kabar tulisan terbaru. Diperbarui pada 4 Juli 2017.

Sebelumnya : «
Berikutnya : »
Lihat pula : Sitemap