Museum Kartini Jepara

Ketika tiba di Museum Kartini Jepara lewat jam setengah dua, museum telah dibuka. Sungguh tak mengenakkan museum tutup lantaran petugas istirahat. Hal yang mestinya mudah dengan mengatur giliran jaga, agar museum tidak tutup namun petugas bisa makan siang dan salat.

Bagaimana pun tetap senang karena nama yang sangat dikenal sejak di bangku sekolah dasar, bahkan di taman kanak-kanak. Itu lantaran setiap anak TK pasti pernah mengikuti acara atau ikut pawai terkait peringatan Hari Kartini yang jatuh setiap tanggal 21 April, tanggal lahir Kartini.

Raden Adjeng Kartini lahir di Jepara pada 21 April 1879, meninggal di Rembang pada 17 September 1904 dalam usia yang masih sangat muda, 25 tahun. Namun namanya terus hidup dan dikenang oleh banyak orang, sementara banyak wanita lain yang dikaruniai usia lebih panjang namun namanya lenyap begitu saja ditelan jaman. Sekali berarti, matipun menutup mata dengan tenang.

museum kartini jepara
Setelah melewati gerbang Museum Kartini Jepara tampak sebuah patung sebatas dada sosok RA Kartini yang terbuat dari perunggu berukuran besar diletakkan di atas dudukan berbentuk bunga teratai. Di dekatnya terlihat koleksi andong antik yang sekarang sudah jarang terlihat lalu lalang di kota Jepara, tergusur oleh angkutan modern.

Masuk ke ruangan pertama Museum Kartini Jepara terlihat sejumlah poster berisi gambar dan teks peristwa sejarah di seputar wilayah Jepara, diantaranya adalah kisah kematian Kapten Tack. Lalu ada foto dokumentasi tempat ditanamnya ari-ari RA Kartini di Mayong, serta silsilah Tjondronegoro yang merupakan leluhur RA Kartini dan masih keturunan Prabu Brawijaya, Raja Majapahit.

museum kartini jepara
Sebuah miniatur kapal layar dan poster di Museum Kartini Jepara tentang Fort Jepara (Fort Japara) atau Benteng VOC, yang sempat kami kunjungi sebelumnya, serta poster tentang sejarah wilayah ini di masa lalu. Benteng VOC merupakan peninggalan kolonial yang berdiri di atas Bukit Donorejo atau Bukit Jepara, dan memiliki tiga bastion atau tempat pengintaian.

Disebutkan dalam riwayat bahwa nama Jepara mulai dikenal sejak masa kejayaan Kasultanan Demak Bintoro. Jepara di masa itu merupakan tempat tinggal buruh dan para pelaut. Pada abad XVI, Kota Kalinyamat telah menjadi pusat pemerintahan yang dipimpin oleh Ratu Kalinyamat, dengan istana di sebelah selatan Sungai Jepara. Pada saat itulah armada pelayaran Belanda berlabuh di Pelabuhan Jepara.

museum kartini jepara
Pandangan pada sebuah sudut di ruangan Museum Kartini Jepara. Ada foto RA Kartini dengan dandanan dan rambut bersanggul yang khas, juga repro foto kamar kerja RA Kartini yang mirip dengan apa yang terlihat di museum ini. Ada pula mesin jahit engkol tangan, meja, kursi dan lemari kecil, serta sebuah cermin tegak berukuran besar. Pada bayangan cermin terlihat foto pasangan RA Soelastri beserta suami, RM Tjokrohadisosro, yang menurunkan Prof Soekardono SH, Guru Besar UI, Jakarta.

RA Soelastri adalah puteri sulung RMAA Sosroningrat (Bupati Jepara) dari garwa padmi, semuanya tiga puteri. Sedangkan RA Kartini adalah anak keempat dari garwa ampil, semuanya ada 5 putera dan 3 puteri. Pada bayangan cermin juga terlihat papan hitam berisi tulisan riwayat singkat Kartini. Disebutkan bahwa ia menikah dengan RMAA Djojodiningrat pada 8 November 1903, dan wafat pada 17 September 1904, sekitar empat hari setelah melahirkan putera pertamanya, yaitu RM Soesalit. Walaupun demikian Kartini disebut telah berhasil menamkan semangat “gender”.

museum kartini jepara
Foto dokumentasi yang memperlihatkan RA Kartini bersama para muridnya. Di baris belakang adalah Roekmini, Kartinah, Soemarti, dan Kartini. Foto ini adalah repro dari koleksi KITLV Leiden. Kartini bersama saudaranya, atas seijin sang ayah, mendirikan sekolah bagi wanita di pendopo kabupaten, yang dilanjutkannya di tempat baru saat menikah dan tinggal di Rembang.

Kartini kecil harus berjuang sebelum mendapat ijin ayahnya untuk bersekolah. Sekolah adalah hal tak lazim bagi anak perempuan pribumi. Kartini lalu belajar bahasa Belanda, juga bahasa Jawa. Ia belajar menjahit, menyulam dan merajut dari seorang nyonya Belanda, serta belajar membaca al-Qur’an dari seorang santri setempat.

Di sekolah, Kartini selalu naik kelas dengan prestasi sangat menonjol. Ketika berumur 12 tahun Kartini harus dipingit mengikuti adat yang berlaku saat itu, ia terus belajar sendiri meski tanpa bimbingan guru. Ia baca buku-buku berbahasa Belanda, Perancis dan Jerman, serta melakukan surat-menyurat dengan temannya yang tinggal di Eropa.

Diantara yang pernah berkirim surat dengannya adalah Nyonya Ovink-Soer, Stella Zeehandelar, dan suami-isteri Abendanon. Pengetahuan dan pandangan Kartini pun menjadi luas, termasuk soal hak asasi manusia, keadilan, dan pergerakan kaum perempuan yang masih mengalami diskriminasi dalam banyak hal. Baru pada 1896 Kartini bisa lepas dari pingitan.

Pada tahun 1902 Kartini berkenalan dengan van Kol dan Nellie, istrinya. Mereka mendukung cita-cita Kartini untuk belajar ke negeri Belanda. Pada 26 November 1902, Van Kol memperoleh persetujuan minister jajahan untuk beasiswa Kartini dan Rukmini belajar ke Belanda.

Pada 25 Januari 1903, Abendanon ke Jepara untuk berbicara dengan para bupati, termasuk ayah Kartini, soal sekolah perempuan Bumiputra. Sayangnya ayahnya keburu sakit parah, dan para bupati yang berpikiran pendek menolak adanya sekolah untuk perempuan.

Meskipun telah mendapat ijin tertulis dari ayahnya untuk sekolah kedokteran, dan mendapat beasiswa, namun akhirnya Kartini dengan kesadaran sendiri memilih untuk menikah, dan menulis surat kepada pemerintah Belanda agar beasiswa itu diberikan ke Salim (Haji Agus Salim). Namun Salim menolak beasiswa itu jika diberikan karena permintaan Kartini, bukan karena kehendak pemerintah Belanda sendiri.

Museum Kartini Jepara dibangun di atas tanah seluas 5.210 m2, dengan luas bangunan 890 m2 terdiri dari tiga gedung berinisial K, T, dan N. Museum berdiri pada 30 Maret 1975, dan diresmikan pada 21 April 1977. Selain menyimpan koleksi peninggalan R.A. Kartini, ada pula peninggalan RMP Sosrokartono, benda arkeologi, kerajinan Jepara, dan kerangka ikan “Joko Tuwo” sepanjang 16 meter, yang ditemukan pada April 1989.

Museum Kartini Jepara

Alamat : Jl Alun-alun No.1, Desa Panggang, Kecamatan Jepara, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Lokasi GPS : -6.5888005, 110.667378, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam buka : Senin s/d Sabtu 08.00 – 17.00, Minggu 09.00-17.00. Harga tiket masuk : Rp 2.000. Rujukan : Peta Wisata Jepara, Tempat Wisata di Jepara, Hotel di Jepara. Galeri (78 foto) Museum Kartini Jepara : 1.Patung . 2.Kapal . 3.Kerja . 4.Murid . 5.Tack . 6.Ari-ari . 7.Silsilah . 8.Kartini . 9.Tugu … s/d 78.Lukisan.

Matched content

Bagikan tulisan ini di : Facebook | Twitter | WhatsApp | Email atau Print!
Home » Jawa Tengah » Jepara » Museum Kartini Jepara
Tag : ,

Oleh Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email untuk kabar tulisan terbaru. Diperbarui pada 22 Juli 2017.

Sebelumnya : «
Berikutnya : »
Lihat pula : Sitemap