Museum Hakka Indonesia TMII Jakarta

Nama Museum Hakka Indonesia TMII Jakarta masih terdengar asing, dan tak tahu pula artinya hingga kemudian membaca penjelasannya saat berkunjung. Bangunannya yang berbentuk bundar di seberang danau terlihat menarik saat kami berjalan kaki berkeliling di kawasan Taman Budaya Tionghoa Indonesia. Ketika kembali ke mobil, saya pun membawanya masuk lebih dalam di area ini hingga sampai di halaman museum yang cukup lega.

Museum Hakka Indonesia TMII Jakarta

Alamat : Taman Budaya Tionghoa Indonesia, Kompleks Taman Mini Indonesia Indah, Ceger, Cipayung, Jakarta Timur. Telepon 021-92363682, 0816 728846, 0813 80331338. Lokasi GPS : -6.3051466, 106.9039786, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam buka : 09.00 – 16.00. Hari Senin dan hari libur TUTUP. Harga tiket masuk : Gratis. Pintu Masuk TMII (3 tahun ke atas) Rp 10.000, mobil Rp 10.000, Bus Rp 30.000, sepeda motor Rp. 6.000, sepeda Rp 1.000. Galeri : 31 foto. Rujukan : Peta Wisata Jakarta . Tempat Wisata di Jakarta . Hotel di Jakarta Timur.

Hakka rupanya merupakan salah satu kelompok orang Han terbesar di Tiongkok dan menjadi kaum terakhir yang berpindah dari Tiongkok Utara secara bertahap ke wilayah selatan sejak abad ke-4 M karena bencana alam dan perang. Sebagai pendatang mereka harus bertahan hidup di daerah tandus, dipandang rendah dan tidak disukai penduduk asli, yang membantu membentuk mereka menjadi orang ulet, berani, dan tabah.

Bangunan Museum Hakka Indonesia TMII Jakarta yang terlihat unik itu memiliki tiga lantai, dengan aula bundar di lantai satu yang bisa disewa untuk acara pernikahan. Lantai dua digunakan sebagai Museum Tionghoa Indonesia, yang akan saya tulis secara terpisah, dan lantai tiga digunakan sebagai Museum Hakka Indonesia serta Museum Hakka Yongding Indonesia. Hakka Yongding adalah keturunan orang Hakka yang berasal dari Kabupaten Yongding di Provinsi Fujian, Tiongkok.

museum hakka indonesia tmii jakarta
Tampak muka bangunan bundar Museum Hakka Indonesia dengan sejumlah undakan dan ornamen yang sederhana. Bentuk bangunannya meniru Tulou (rumah tanah) terkenal, yaitu Zencheng Lou di Yongding, Fujian, China Selatan. Pelat yang menempel pada dinding menyebutkan jam buka museum setiap harinya, yaitu 09.00 – 16.00, kecuali Senin dan hari libur tutup.

Tulou asli umumnya berukuran besar, tertutup, bertingkat 3-5, dibuat dari tanah yang ditumbuk padat dan tebal dan bisa dihuni hingga seratusan keluarga. Sebagai tempat tinggal dan sekaligus benteng perlindungan, lantai satu Tulou dibuat tanpa jendela, dan berpintu masuk satu dari kayu setebal 10-12 cm yang dilapis plat besi. Di dinding lantai paling atas sering dibuat lubang-lubang untuk dipakai menembak musuh.

museum hakka indonesia tmii jakarta
Pada dinding lantai satu, di kiri dan kanan meja penjaga tempat kami mengisi buku tamu, dihias dengan kaca pateri kotak sejumlah masing-masing 16 buah, diukir nama-nama marga dalam huruf Tionghoa. Foto di atas adalah dinding sebelah kanan, yang berisi penjelasan dalam dua bahasa. Di depan masing-masing dinding disediakan tempat duduk tanpa sandaran.

Nama marga orang Tionghoa itu berjumlah total 438 kata, terdiri dari 408 kata berhuruf tunggal dan 30 kata yang berhuruf ganda. Seorang sastrawan yang hidup di jaman Dinasti Song (memerintah 960 – 1279, sebelum Tiongkok diserbu bangsa Mongol) menyusun nama-nama itu menjadi syair yang enak dibaca dan mudah diingat. Bentuk syair itulah yang dipajang di kedua dinding ruang jaga Museum Hakka Indonesia.

Pada dinding tinggi yang menghadap pintu masuk ada torehan berukuran besar dari piktograf (tanda atau gambar untuk menyampaikan suatu pesan atau makna) ciptaan nenek moyang orang Hakka yang dibaca “ngai” atau “aku”. Huruf itu, memerlihatkan semangat orang Hakka, dalam wujud sifat berani alami dalam menghadapi bahaya besar, secara grafis digambarkan sebagai seseorang yang sedang berdiri di tepi jurang terjal.

museum hakka indonesia tmii jakarta
Sebuah ruang pamer di Museum Hakka Indonesia TMII Jakarta yang memperlihatkan ruang keluarga Hakka. Pada dinding menempel tiga poster besar bertulis huruf Tionghoa dengan tiga patung indah pada bufet. Ketiga patung itu adalah Fu Lu Shou, tiga dewa yang masing-masing melambangkan Keberuntungan (Fu), Kekayaan (Lu), dan Umur Panjang (Shou), konsep Tao yang diperkirakan berasal dari Dinasti Ming dan dianggap sebagai ciri kehidupan sempurna.

Museum Hakka Indonesia berada di lantai 3 dengan 7 ruang pamer yang memperlihatkan sejarah migrasi orang Hakka ke Nusantara, foto kuliner, miniatur rumah, foto tokoh Hakka, peralatan pertanian, contoh kamar pengantin, tandu, peralatan rumah tangga dan artefak. Ada poster semangat Hakka, yaitu rajin-tekun-kuat dan tabah, pembangun-berusaha-bersatu, hemat-jujur-menjunjung tinggi kesetiakawanan, rukun dengan tetangga dan mencintai Tanah Air.

Sebuah poster lagi memperlihatkan karakteristik pendidikan Hakka, yaitu tradisi bercocok tanam sambil sekolah, pendidikan berazas kesukuan, pemujaan pelajaran dan pengetahuan, mementingkan seni bela diri, mendirikan sekolah – melatih manusia berbakat, membangun sekolah gaya baru – memperbarui pendidikan, dan menghimpun dana untuk membantu pendidikan.

Orang Hakka pertama yang tiba di bumi Nusantara kemungkinan adalah Zhou Mou asal kampung Songkou, Kota Mezhou, yang bersama 10 pemuda lainnya tiba di Borneo setelah melarikan diri dengan menyeberangi samudera menyusul runtuhnya Dinasti Song Selatan pada tahun 1279. Lalu pada 1407 dan beberapa tahun setelahnya terjadi lagi migrasi ke Sambas, Surabaya, dan Palembang yang dibawa oleh kasim Dinasti Ming bernama Zheng He.

Pada tahun 1562 salah seorang pemimpin pemberontak Hakka bernama Zhang Lian membawa sisa anak buahnya mengungsi ke Palembang. Di awal Dinasti Qing banyak orang Tionghoa pendukung Dinasti Ming yang juga lari ke Borneo dan bekerja di tambang emas. Lalu pada tahun 1772, Luo Fangbo asal Shisanbao Jiaying (Meizhou) mengajak kawan-kawan sekampungnya pindah ke Pontianak. Lima tahun kemudian mereka mendirikan Lanfang Company dan mendatangkan puluhan ribu orang Hakka.

Sekitar tahun 1770, Sultan Sambas mendatangkan 30.000 lebih orang Hakka untuk bekerja di tambang emas. Saat revolusi Dr. Sun Yat Sen juga banyak sekali orang Hakka yang melarikan diri ke Nusantara. Di awal pertengahan abad ke-19, pemerintah kolonial Belanda mendatangkan banyak orang Hakka untuk bekerja di tambang timah Bangka dan Belitung, atau dipekerjakan sebagai kuli perkebunan di Deli Sumatera Utara.

museum hakka indonesia tmii jakarta
Penampakan pada bagian awal Museum Hakka Yongding Indonesia, dengan pajangan keramik yang biasa dipakai di toko obat, di belakangnya adalah contoh-contoh bagian tumbuhan yang dijadikan sebagai bahan jamu tradisional Tionghoa, dan di belakang sana ada poster tokoh Hakka Yongding seperti Hendra Joewono pendiri pabrik farmasi Henson Farma dan Hendra B. Sjarifudin pendiri PT Kenari Djaja.

Pada bagian ini ada poster yang memberi penjelasan tentang Tulou, tempat tinggal orang Hakka di pegunungan Fujian. Ada pula foto bangunan asli Zhencheng Lou, yang ditetapkan sebagai Cagar Budaya Dunia oleh UNESCO pada tahun 2008, dan terlihat jauh lebih keren ketimbang bangunan Museum Hakka Indonesia yang meniru bentuknya. Jika saja bangunan museum dibuat persis seperti aslinya tentu akan jauh lebih memukau.

Diantara tokoh keturunan Hakka yang namanya banyak dikenal orang diantaranya adalah Dr. Sun Yatsen, Deng Xiaping, Hu Yaobang, Li Guangyao (Lee Kuan Yew), Li Xianlong (Lee Hsien Loong), Thaksin Chinawat. Sedang orang lokal disebut Letjen (Pur) Sugiono, Dirut TMII, yang beristerikan Sri Hartati bermarga Phang dari Pontianak, Brigjen TNI (Pur) Tedy Jusuf yang ayahnya Hakka asal Moiyan Kwangdong, dan sejumlah lagi lainnya yang beberapa diantaranya ikut berperan dalam perjuangan melawan penjajah.

Kunjungan ke Museum Hakka Indonesia TMII Jakarta yang terjadi secara tak sengaja itu memberi cukup banyak informasi, potongan sejarah, dan budaya. Tentang mengapa dan bagaimana kaum Hakka sampai bermigrasi hingga ke wilayah Nusantara, apa yang mereka telah perbuat, dan sumbangannya pada negeri ini. Museum Hakka Wedding Hall, pada saat tulisan ini dibuat, disewakan dengan paket seharga Rp 105 juta untuk 500 pax yang detailnya bisa dilihat di galeri foto.

Akses kendaraan pribadi keluar Pintu TMII Tol Jagorawi, ambil jalur kanan, belok kanan di lampu merah. KRL Commuter Line turun di Stasiun Duren Kalibata, lanjut Kopaja T57 arah Kp Rambutan, turun di PGC, lanjut KWK T02 arah Cilangkap atau KWK T01 arah Bambu Apus, turun Pintu 1 TMII. Kalau naik TransJakarta transit ke Koridor 9 arah Pinang Ranti, turun di halte Garuda Taman Mini, menyeberang ke depan Taman Mini Square, naik Koasi K40 / KWK T01 / KWK T02 / KWK T15A arah ke TMII, turun di Pintu 1.

Jika dari Stasiun Jatinegara naik TJ Koridor 11 arah Pulo Gebang, turun Halte Flyover Jatinegara, transit ke Koridor 10 arah PGC, turun di PGC, dari depan mal PGC naik KWK T01 arah Bambu Apus atau KWK T 02 arah Cilangkap, turun Pintu 1 TMII. Sedangkan Angkot yang lewat TMII adalah KWK S15A Ragunan–Pinang Ranti; KWK T01 Cililitan–Setu; KWK T02 Cililitan–Cilangkap; Koasi 40 Kampung Rambutan–Pekayon.

Galeri 31 foto Museum Hakka Indonesia TMII Jakarta : 1.Museum Hakka, 2.Marga Tionghoa, 3.Ruang Keluarga Hakka, 4.Hakka Yongding, 5.Plakat, 6.Piktograf Ngai, 7.Dinding kiri, 8.Mengapa Museum Hakka, 9.Sinde Budi … s/d 31.Mengenai Bangunan Tulou.

Share | Tweet | WA | Email | Print!
Home » Jakarta » Jakarta Timur » Museum Hakka Indonesia TMII Jakarta

Oleh Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email. Diperbaiki 28 Juni 2017. Tag: , , ,