Museum Etnobotani Bogor

Cari, kirim ke FB | Tweet | WA | Print!

Museum Etnobotani Bogor adalah museum yang koleksinya menggabungkan ilmu botani dengan karya budaya etnik di seluruh Nusantara. Museum ini ada di ruangan yang tersembunyi dalam  gedung di Jl. Ir. H. Juanda No. 24, berseberangan dengan Kebun Raya Bogor.

Pintu masuk Museum Etnobotani Bogor ada di samping kanan gedung sehingga membuat saya salah masuk. Sedangkan akses ke tempat parkir ada di sisi kiri gedung, dan karena waktu itu tak ada petunjuk jelas, sehingga orang memang akan masuk dahulu ke ruangan yang salah.

Etnobotani adalah cabang ilmu tumbuhan yang mempelajari hubungan antara suku-suku asli dengan tetumbuhan yang ada di lingkungan sekitar mereka hidup, dan bagaimana mereka memanfaatkannya dalam kehidupan keseharian. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh John William Harshberger, seorang antropolog berkebangsaan Amerika, pada tahun 1895.

museum etnobotani bogor
Sebuah relief yang sangat indah dipasang pada permukaan dinding pintu masuk Museum Etnobotani Bogor. Relief ini saat itu merupakan satu-satunya benda seni indah yang ada di bagian depan museum, menggambarkan berbagai kegiatan pria dan wanita di kebanyakan pedesaan yang ada di tanah air. Berbagai rupa hasil kebun dan sawah juga ditampilkan dengan elok.

Tempat wisata pengetahuan ini dikabarkan menyimpan lebih sekitar 2000 artifak yang berasal dari berbagai daerah dan kepulauan di Indonesia. Keloksinya meliputi barang-barang untuk keperluan rumah tangga, mainan anak, pakaian tradisional, peralatan pertanian, perikanan, alat musik, dan sebagainya, yang semuanya dibuat dari bagian-bagian tanaman lokal.

museum etnobotani bogor
Berbagai jenis bahan tumbuhan dari berbagai tempat di tanah air yang sering dipergunakan dalam ramuan jamu tradisional, koleksi Museum Etnobotani Botor. Ada kencur, beras, kunir, asam, jahe, biji kedawung, lempuyang, adas, pulosari, laos, sinom, sambiloto, temulawak, dan banyak lagi yang lainnya. Jamu beras kencur dan temulawak mungkin yang terpopuler.

Di area pamer lainnya wisata museum ini ditampilkan kerajinan tangan tradisional topi, keranjang, tikar, dan perlengkapan sehari-hari lainnya yang dibuat dari bagian-bagian pohon Palem. Peresmian museum ini dilakukan pada 18 Mei 1982 oleh Prof. BJ. Habibie, Menteri Riset dan Teknologi waktu itu, bertepatan dengan hari ulang tahun Kebun Raya Bogor ke-165.

museum etnobotani bogor
Ruang pamer dengan koleksi alat tenun tradisional di Museum Etnobotani Bogor. Kain tenun tradisional masih merupakan seni kerajinan yang hidup dan tetap populer di berbagai tempat di tanah air meskipun telah banyak digantikan dengan alat tenun mesin yang memiliki presisi dan tingkat produktivitas yang tinggi. Kerja seni biasanya dihargai lebih tinggi.

Di kotak pamer lainnya dipajang beragam jenis perlengkapan rumah tangga dan peralatan kerja yang dibuat dari bahan rotan, dan ada pula kotak pamer lainnya yang bahannya menggunakan lontar. Lalu ada berbagai jenis topi, bubu penangkap ikan, tampah, bermacam-macam bentuk keranjang yang semuanya terbuat dari bahan dasar bambu.

Gagasan mendirikan museum ini berasal dari Prof. Sarwono Prawirohardjo, Ketua Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia (sekarang LIPI), saat peletakan batu pertama pembangunan Herbarium Bogoriense pada 1962. Gagasan itu diteruskan Dr. Setiaji Sastrapraja, Direktur Lembaga Biologi Nasional, yang pada 1975 mengadakan pertemuan dengan tokoh permuseuman, ahli ilmu sosial, kemasyarakatan dan antropologi, serta para pakar botani.

museum etnobotani bogor
Luku atau bajak dalam ukuran aslinya di Museum Etnobotani Bogor. Alat tradisional ini dipakai petani untuk membalik tanah di sawah sebelum ditanami padi. Luku ditarik kerbau atau sapi, namun kini banyak digantikan dengan traktor. Petani Jawa mempercayai bahwa luku diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga, sebelumnya mereka memakai pacul untuk membalik tanah.

Ada pula peralatan dan kerjainan tradisional berupa cangkul sagu, topi, anyaman langit-langit rumah, atap, dinding, serta peralatan pertanian, peralatan rumah tangga, alat musik dan perlengkapan sehari-hari lainnya yang dibuat dari bahan sagu. Pohon Sagu umumnya dijumpai di daerah Indonesia bagian Timur.

Garu dalam ukuran asli juga dipajang di tempat ini. Garu lazimnya dipakai untuk menandai baris yang akan ditanami padi setelah sawah dibajak. Kebanyakan anak kota mungkin tidak pernah melihat alat ini saat digunakan. Koleksi artifak museum ini dikumpulkan para peneliti, khususnya dari Lembaga Biologi Nasional (sekarang Puslit Biologi).

Akses masuk yang tersembunyi, petunjuk tempat yang kurang jelas, serta kurangnya publikasi, membuat keberadaan Museum Etnobotani Bogor yang menyimpan kekayaan tradisional Indonesia ini terlihat sepi pengunjung. Jika memiliki anak kecil atau remaja, ajaklah mereka untuk berkunjung untuk mengagumi ragam karya budaya etnik dari berbagai pelosok tanah air.

Galeri (19 foto): 1.Relief Indah, 2.Jamu, 3.Alat Tenun, 4.Luku, 5.Palem, 6.Rotan, 7.Rontal, 8.Sagu, 9.Lesung … s/d 19.Rumbia.

Museum Etnobotani Bogor

Alamat: Jl. Ir. H. Juanda 22-24 Bogor. Lokasi GPS: -6.598514, 106.793868, Waze. Telp 0251-321040, 0251-321041, 0251-8322035. Jam buka Senin-Kamis 08.00-16.00; Jumat 08.00-11.00 dan 13.00-16.00; Sabtu dengan perjanjian. Harga tiket masuk Rp 2.000. Tempat Wisata di Bogor, Peta Wisata Bogor, Hotel di Bogor.


Kirim ke FB | Tweet | WA | Email | Print!

Home » Jawa Barat » Bogor Kota » Museum Etnobotani Bogor
Tag:

Oleh Bambang Aroengbinang. Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kirim pesan ke BA lewat email, atau lewat WA jika ingin menjadi penulis di Aroengbinang. Diperbaiki 1 April 2017.

Lalu «
Baru » »