Relief Taman Purbakala Waruga Sawangan

Tulisan Relief Taman Purbakala Waruga Sawangan ini merupakan bagian pertama dari dua tulisan tentang Taman Purbakala Waruga-Waruga Sawangan, yang kami kunjungi dalam perjalanan menuju kota Bitung, Sulawesi Utara, dari tempat menginap kami di Roong, Tondano.

Inilah untuk pertama kalinya saya melihat dengan mata kepala sendiri bentuk asli Waruga, dalam jumlah yang sangat banyak. Waruga adalah kubur batu orang Minahasa kuno.

Setelah mobil berhenti di tempat parkir kendaraan yang cukup luas, dua diantara kami berjalan menuju ke Taman Purbakala Waruga Sawangan yang pintu masuknya berjarak sekitar 50 meter dari tempat parkir. Di lorong antara tempat parkir dan pintu masuk ke Taman Purbakala inilah terdapat relief pada tembok di kiri – kanan jalan, yang menjelaskan mengenai proses pembuatan Waruga dan bagaimana cara pemakaiannya sebagai tempat penyimpan jasad orang Minahasa kuno yang telah meninggal.

relief Taman Purbakala Waruga Sawangan
Sebuah tengara yang mewartakan tentang pemugaran Taman Purbakala Waruga-Waruga Sawangan pada 1977-1978.

relief Taman Purbakala Waruga Sawangan
Relief pertama di Taman Purbakala Waruga-Waruga Sawangan yang menunjukkan bagaimana waruga dibuat. Sebuah waruga terbuat dari dua buah batu utuh yang dibuat dengan cara menatah, dimana bagian bawahnya berbentuk persegi empat dengan ruang penyimpan mayat di tengahnya, dan tutup yang berbentuk seperti atap sebuah rumah yang langsing di bagian atasnya.

Relief Taman Purbakala Waruga Sawangan
Relief kedua di Taman Purbakala Waruga-Waruga Sawangan memperlihatkan bagaimana nenek moyang orang Minahasa membawa waruga dari tempat pembuatannya ke tempat dimana waruga itu akan digunakan. Jika melihat ukuran batu yang digunakan sebagai waruga yang tinggi bagian bawahnya sekitar 1 meter, sungguh luar biasa kekuatan orang yang membawa waruga dengan cara seperti itu.

Relief Taman Purbakala Waruga Sawangan
Relief ketiga di Taman Purbakala Waruga-Waruga Sawangan yang memperlihatkan tempat-tempat dimana waruga biasa disimpan.

Mural Taman Purbakala Waruga Sawangan
Relief keempat Taman Purbakala Waruga-Waruga Sawangan yang menunjukkan bahwa sebelum jasad yang meninggal dimasukkan ke dalam lubang, terlebih dahulu dimasukkan benda milik si mati, yang bisa berupa gelang, manik-manik, piring, sendok, mangkuk, uang benggol, parang, dsb.

Mural Taman Purbakala Waruga Sawangan
Relief kelima Taman Purbakala Waruga-Waruga Sawangan memperlihatkan cara si mati dimasukkan ke dalam waruga, yaitu diletakkan pada posisi duduk dengan tumit kaki menempel bokong dan kepala mencium lutut, dikembalikan seperti ketika masih dalam perut ibu. Wajah si mati ini dihadapkan ke arah utara dimana konon surga berada atau tempat nenek moyang mereka berasal.

Mural Taman Purbakala Waruga Sawangan
Relief di Taman Purbakala Waruga-Waruga Sawangan yang menunjukkan posisi si mati di dalam batu waruga. Kata waruga konon berasal dari kata Wale yang berati rumah, dan Maruga yang berarti badan yang akan menjadi hancur.

Mural Taman Purbakala Waruga Sawangan
Di dalam kandungan ibu, posisi tubuh laki-laki dan perempuan sama, namun saat dikubur di dalam waruga orang Minahasa kuno membedakan laki-laki dan perempuan pada posisi jari-jemari tangannya. Di dalam waruga, jari-jemari tangan perempuan dibuat mengepal (relief sebelah kanan), sedangkan jari-jemari tangan laki-laki dibuat saling mengunci (relief sebelah kiri).

Mural Taman Purbakala Waruga Sawangan
Ukiran pada tutup Waruga memiliki arti tertentu. Ukiran berbentuk seorang pria misalnya menunjukkan bahwa si mati adalah seorang pemimpin. Sedangkan jumlah garis (di atas ukiran orang) menunjukkan jumlah mayat yang diletakkan di dalam waruga, karena satu waruga bisa diisi oleh beberapa mayat yang berasal dari satu keluarga.

Relief Taman Purbakala Waruga Sawangan
Inilah pintu masuk ke dalam kompleks Taman Purbakala Waruga-Waruga Sawangan. Di sebelah kanan terlihat sebagian relief yang tidak sempat diambil fotonya. Pemakaian waruga di kalangan masyarakat Minahasa kuno ini diperkirakan baru terjadi pada abad IX, dan terus dipergunakan sampai dilarang pemakaiannya oleh penguasa Belanda pada 1860, karena dianggap sebagai sumber terjadinya wabah penyakit tipus dan kolera.

Taman Purbakala Waruga-Waruga Sawangan

Alamat: Desa Sawangan, Kecamatan Airmadidi, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Tempat Wisata di Minahasa, Peta Wisata Minahasa, Hotel di Manado

Matched content

Bagikan tulisan ini di : Facebook | Twitter | WhatsApp | Email atau Print!
Home » Sulawesi Utara » Minahasa » Relief Taman Purbakala Waruga Sawangan
Tag : ,

Oleh Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email untuk kabar tulisan terbaru. Diperbarui pada 14 Juli 2017.

Sebelumnya : «
Berikutnya : »
Lihat pula : Sitemap