Monumen Tambora

Home » Jakarta » Jakarta Barat » Monumen Tambora
Cari | Share | Tweet | WA | Print!.

Jika bukan karena Cecep Subari Atmah, pria yang menemani berbincang saat kami berkunjung ke Masjid Jami Tambora, mungkin saya tidak akan pernah tahu tentang adanya sebuah tugu yang dikenal sebagai Monumen Tambora. Meskipun kami telah sempat lewat di dekat lokasinya yang berada di pinggiran sebuah gang kecil.

Monumen Tambora Jakarta

Alamat: Jl Tambora 1, Jakarta Barat. Lokasi GPS: -6.145293, 106.810002, Waze. Jam buka sepanjang waktu. Harga tiket masuk gratis. Rujukan: Peta Wisata Jakarta, Tempat Wisata di Jakarta, Hotel di Jakarta Barat.

Selagi berbincang itu, Cecep kemudian mengajak saya masuk ke dalam masjid, lalu keluar dari area masjid ke dalam gang lewat pintu samping dan berjalan sampai ke Jalan Tambora 1, dekat pertigaan dimana kendaraan kami parkir. Monumen Tambora ada di sudut gang.

Menurut Cecep, Monumen Tambora sebelumnya berada di dalam kompleks Masjid Jami Tambora, dan dipindahkan ke tempatnya yang sekarang sekitar 30 tahun yang lalu. Dengan menunjukkan monumen itu, Cecep juga ingin membuktikan bahwa dulu Kampung Tambora dikenal dengan nama Suteng, seperti tertulis di monumen.

monumen tambora
Monumen Tambora itu. Situs Ensiklopedia Jakarta menyebutkan bahwa Monumen Tambora didirikan pada 31 Desember 1945 untuk mengenang dan menghargai jasa para pejuang yang tewas dalam pertempuran melawan NICA di wilayah Kampung Duri sekitar Jembatan Lima pada 12 Desember 1945, diantara mereka adalah Suntara, Mahrup dan Moeh Sapri.

Atas Permintaan Skogar Biro III, pada 26 September 1960 kuburan mereka digali untuk dipindahkan ke Makam Pahlawan Kalibata, yang penguburannya dilakukan pada 10 November 1960 dengan upacara kemiliteran.

tulisan monumen tambora
Seperti tampak pada foto di atas, pada bagian bawah Monumen Tambora terdapat tulisan menggunakan ejaan lama “Tugu Peringatan Arwah Pahlawan Kemerdekaan, Nusa dan Bangsa 17-8/31-12-1945, Panitya dan Seluruhnja, Suteng Nop 49, Pers TEJ.”

Lalu di sebelahnya ada lagi torehan tulisan “Dari Rakjat Djakarta / Tg Priok, Jang Budiman dan Sumbangan Para Pegawai Perusahaan Besi Mesin Nio Peng Long, Djakarta”. Sayang cipratan cat hijau dan kotoran serta retakan beton membuat sebagian tulisan itu sulit untuk dibaca.

pelor monumen tambora
Bagian atas Monumen Tambora ini berbentuk pelor besar terbuat dari logam berwarna kekuningan yang telah terkelupas lapisan catnya di sana-sini. Tidak tampak adanya torehan tulisan pada bagian pelor ini.

Setelah Jepang menyerah pada Perang Pasifik, Tentara Inggris yang mewakili Sekutu mendarat di Tanjung Priok pada 29 September 1945. Kedatangan tentara Sekutu itu ternyata dibonceng NICA (Netherland Indies Civil Administration, Pemerintahan Sipil Hindia Belanda) yang dipimpin Dr. Hubertus J van Mook. Akibatnya timbul perlawanan di banyak tempat.

Sebelumnya, pada 19 September 1945, Presiden Soekarno memimpin rapat umum raksasa yang bersejarah di lapangan IKADA di bawah tekanan tentara Jepang. Karena kecewa dengan tindakan tentara Jepang itu, para pemuda dan pejuang BKR pun menyerang gudang senjata Jepang yang berada di Cilandak.

Sebuah kisah kecil dari ribuan kisah perjuangan kemerdekaan di seluruh wilayah tanah air. Sudah saatnya kemerdekaan yang diperjuangankan dengan pengorbanan harta dan jiwa itu digunakan sebesar-besarnya oleh penguasa untuk membawa kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Maka saudaraku, pilihlah wakil dan pemimpinmu dengan bijak.

Share | Tweet | WA | Email | Print! | Tag: , , ,

Oleh Bambang Aroengbinang. Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kirim pesan ke BA lewat email, atau lewat WA jika ingin menjadi penulis di Aroengbinang. Diperbaiki 26 Mei 2017.

Lalu «
Baru » »