Monumen Rawagede Karawang

Home » Jawa Barat » Karawang » Monumen Rawagede Karawang
Cari | Share | Tweet | WA | Print!.

Lokasi Monumen Rawagede Karawang berada di tepi jalan sebelah Utara Desa Rawagede, Rawa Merta, sekitar 10 km dari Kota Karawang, yang menjadi tengara pembantaian ratusan rakyat sipil Karawang oleh tentara kolonial Belanda pada 9 Desember 1948, hanya sepuluh hari sebelum dimulainya Agresi Militer Belanda II.

Monumen Rawagede Karawang

Alamat: Desa Rawa Gede, Rawa Merta, Karawang. Lokasi GPS: -6.238323, 107.326789, Waze. Rujukan: Peta Wisata Karawang, Tempat Wisata di Karawang, Hotel di Karawang.

Monumen Rawagede yang mulai dibangun pada November 1995 dan diresmikan pada 12 Juli 1996 ini berada dekat dengan persawahan penduduk di pinggaran Timur perkampungan, dibatasi dengan pagar.

Ada 17 anak tangga pada undakan menuju ke lantai dua, melambangkan tanggal proklamasi kemerdekaan. Bentuk bangunan di lantai dasar bersegi delapan, melambangkan bulan Agustus. Sedangkan puncak monumen berbentuk piramid yang terbagi 4 dengan tinggi 5 m, sebagai simbol tahun 1945.

Di sebelah kiri kanan dinding luar bawah Monumen Rawagede terdapat relief yang menggambarkan peristiwa perjuangan rakyat Karawang dalam perang kemerdekaan. Naik ke lantai atas ada patung seorang ibu terbuat dari perunggu, dengan jasad suami dan anaknya terbujur tewas dipangkuannya. Di belakangnya terdapat panil berisi penggalan puisi karya Chairil Anwar yang berjudul Antara Karawang Bekasi.

Diorama yang ada di lantai bawah menggambarkan peristiwa pembantaian rakyat Karawang oleh tentara Belanda. Lalu di belakang monumen terdapat halaman tempat upacara dan akses ke makam pahlawan bernama Sampurna Raga yang menyimpan jasad 181 pahlawan.

Data korban tragedi Rawagede bisa dijumpai di samping timur jalan ke makam pahlawan, terdiri dari korban tewas peristiwa 9 Desember 1947 sejumlah 431 orang, korban tewas antara Januari s/d Oktober 1948 43 orang, dan korban tewas Juli s/d November 1950 ada 17 orang.

Pada 9 Desember 1947 dimulai sekitar jam 4 pagi, di tengah hujan lebat, tentara Belanda memasuki rumah-rumah penduduk untuk mencari Kapten Lukas Kustaryo, Komandan Kompi Siliwangi yang kemudian menjadi Komandan Batalyon Tajimalela / Brigade II Divisi Siliwangi.

Kapten Lukas dicari Belanda karena berkali-kali berhasil menyerang patroli dan pos-pos militer Belanda, serta membajak kereta berisi senjata dan ribuan amunisi. Pada Senin pagi sekitar pukul 7, tanggal 8 Desember 1947, Lukas tiba di Rawagede setelah melakukan penyerangan terhadap posisi tentara Belanda di Subang, Pamanukan, sampai Cikampek. Rupanya kedatangannya dilaporkan oleh mata-mata Belanda.

Hari itu juga Lukas mengumpulkan tentara Barisan Keamanan Rakyat di Rawagede untuk melakukan penyerangan ke Cililitan. Malamnya Lukas dan pasukannya meninggalkan Rawagede, tanpa mengetahui bahwa keesokan harinya tentara Belanda melakukan penyerbuan dan membantai ratusan penduduk secara brutal.

Mulai pukul 04.00 pagi, ketika hujan turun deras, tentara Belanda dibawah pimpinan seorang mayor melakukan penggeledahan dari rumah ke rumah-rumah. Semua laki-laki digelandang ke tanah lapang dan diminta untuk menyebutkan keberadaan Kapten Lukas Kustaryo. Ketika tidak ada satu pun rakyat yang mau bekerjasama dengan Belanda, maka terjadilah pembantain itu.

Setelah lebih dari 60 tahun, pengadilan Den Haag pada 14 September 2011 menyatakan pemerintah Belanda bersalah dan harus bertanggung jawab atas terjadinya peristiwa tragis itu. Pada Desember 2011 Pemerintah Belanda memberikan kompensasi kepada sembilan janda dan ahli waris tragedi Rawagede sejumlah masing-masing 20.000 Euro atau sekitar Rp240 juta lebih.

Share | Tweet | WA | Email | Print! | Tag:

Oleh Bambang Aroengbinang. Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kirim pesan ke BA lewat email, atau lewat WA jika ingin menjadi penulis di Aroengbinang. Diperbaiki 28 Mei 2017.

Lalu «
Baru » »