Monumen Nasional Jakarta

Home » Jakarta » Jakarta Pusat » Monumen Nasional Jakarta
Cari | Share | Tweet | WA | Print!.

Kunjungan ke Monumen Nasional Jakarta sudah terjadi beberapa tahun silam, namun tak mengapalah catatannya baru diterbitkan belakangan. Setidaknya bisa memperlihatkan kondisi Monumen Nasional (Monas) saat itu, dan bangunan inti Monas berupa tugu menjulang tinggi dengan bongkah emas di puncaknya tentunya tak berubah.

Monumen Nasional Jakarta

Alamat: Taman Medan Merdeka, Jakarta Pusat. Lokasi GPS: -6.175542, 106.827117, Waze. Harga tiket masuk: Rp. 5.000, pelajar Rp 3.000, anakRp 2.000, Rp. 10.000 puncak Monas, pelajar Rp 5.000, anak-anak Rp 2.000. Jam buka: 09.00 – 16.00. Senin pekan terakhir tutup. Rujukan: Peta Wisata Jakarta, Tempat Wisata di Jakarta, Hotel di Jakarta Pusat.
Galeri (22 foto): 1.Monas, 2.Roda, 3.Diponegoro, 4.Andong, 5.Puncak, 6.Pelataran, 7.Sais, 8.Cawan, 9.Roda … s/d 22.Air Mancur.

Ketika saya lewat di Jalan Merdeka Barat beberapa waktu lalu terlihat tengah ada pekerjaan pembenahan di taman di sekitar monumen yang menjadi ikon utama Kota Jakarta ini. Monumen Nasional Jakarta memang sedang berbenah untuk menjadi tempat wisata yang lebih baik.

Yang sudah terlihat berbeda adalah adanya bangku-bangku kayu beralas besi cor bercat putih di jalur pedestrian sisi luar Monumen Nasional yang dipasang atas perintah Gubernur DKI Jakarta waktu itu, Joko Widodo (Jokowi), yang kemudian menjadi presiden. Lalu tampak sejumlah pohon yang terlihat baru saja ditanam.

monumen nasional jakarta
Salah satu sudut pandang ke arah Monumen Nasional Jakarta ketika renovasi tengah berlangsung. Kondisi saat ini tentu jauh lebih baik, dan semoga akan terus menjadi lebih baik dengan perhatian pemerintah provinsi yang lebih besar. Bukan hanya melengkapi dan memperindah fasilitas dan taman yang ada, namun juga menata pedagang liarnya.

Dari area parkir IRTI Monas, di sisi Jl Merdeka Selatan, kita harus berjalan sekitar 700 meter untuk sampai di dekat Tugu Monas, dan kemudian berjalan kaki lagi sekira 200 meter ke jalan masuk lorong bawah tanah yang berada di sebelah Utara Monumen Nasional. Berwisata di Monas memang wisata jalan kaki.

monumen nasional jakarta
Pada saat berkunjung ke Monumen Nasional Jakarta terlihat atraksi cukup mengasyikkan, yaitu olah raga sepatu roda secara berkelompok. Satu kelompkok ada lima gadis muda. Di Monas memang ada banyak pilihan kegiatan sesuai kesenangan. Bersepeda, jogging, atau kegiatan olah raga berkelompok lainnya.

Adalah Presiden Soekarno yang berkeinginan mendirikan Monumen Nasional ini. Atas perintahnya, pada 17 Agustus 1954 dibentuk komite untuk menyelenggarakan lomba rancang monumen nasional pada 1955. Dari 51 rancangan, terpilih karya Frederich Silaban. Pada sayembara kedua tahun 1960 yang diikuti 136 peserta, tidak ada satu pun yang memenuhi persyaratan komite.

Ketika rancangan Silaban diperlihatkan kepada Soekarno, Silaban diminta oleh Soekarno untuk merancang ulang Monumen Nasional dengan mengadopsi bentuk Lingga Yoni. Hasil rancangan ulang Silaban ternyata memakan biaya sangat besar, akan tetapi Silaban menolak merancang bangunan monumen yang lebih kecil.

Arsitek R.M. Soedarsono kemudian diminta Presiden Soekarno untuk melanjutkan rancangan Silaban. Soedarsono memasukkan angka 17, 8 dan 45, ke dalam rancangan Silaban. Tugu Monumen Nasional mulai dibangun 17 Agustus 1961 saat Presiden Soekarno secara simbolis menancapkan pasak beton pertama di area taman seluas 80 ha itu.

monumen nasional jakarta
Patung Pangeran Diponegoro ini berada di dekat kolam air mancur. Patung perunggu seberat 8 ton itu dibuat pemahat Italia bernama Coberlato, disumbangkan oleh Konsul Jendral Honores, Dr Mario Bross. Pintu masuk terowongan bawah tanah Monumen Nasional berjarak 50 meter dari patung, dengan loket berada di ujung terowongan.

Pelataran cawan Monumen Nasional setinggi 17 meter terlihat setelah keluar dari lorong bawah tanah. Tinggi antara ruang Museum Sejarah Nasional Indonesia ke dasar cawan adalah 8 m (3 m di bawah tanah ditambah 5 m tangga ke dasar cawan). Pelataran cawan berbentuk bujur sangkar, 45 x 45 m, semuanya melambangkan angka keramat 17-8-1945.

Obor kemerdekaan yang dilapis emas 50 kg, 28 kg diantaranya sumbangan Teuku Markam pengusaha asal Aceh, berada do puncak Monumen Nasional. Obor emas itu tingginya 14 m, berdiameter 6 m, dan terdiri dari 77 bagian yang disatukan. Obor yang semula beratnya 35 kg itu dilapis ulang dan ditambah berat emasnya menjadi 50 kg pada 1995 dalam rangka peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-50.

Di bawah obor emas terdapat pelataran puncak berukuran 11 x 11 m pada ketinggian 115 meter dari permukaan tanah yang bisa dicapai dengan lift berkapasitas 11 orang. Di pelataran yang menampung sekitar 50 orang itu terdapat teropong untuk melihat ke seluruh penjuru Kota Jakarta. Baru sekali saya ke pelataran puncak itu.

Pada bagian dalam cawan Monumen Nasional terdapat ruang berbentuk amphitheater yang disebut Ruang Kemerdekaan. Di sini disimpan di kotak kaca naskah asli Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dalam gerbang berlapis emas, Garuda Pancasila, Peta NKRI berlapis emas, Bendera Merah Putih, dan dinding bertuliskan isi Naskah Proklamasi.

monumen nasional jakarta
Pada kunjungan lain kami masuk ke area Monas dari arah utara, dan bertemu dengan delman dan saisnya melengos ketika hendak difoto. Entah apakah delman masih bisa masuk ke area Monumen Nasional atau tidak. Bagaimana pun selalu ada sensasi tersendiri ketika naik andong dan mendengar suara kaki kuda dan bel yang khas.

Fondasi Monas selesai dibuat pada Maret 1962, dengan 284 pasak beton sebagai fondasi bangunan, dan 360 pasak bumi sebagai fondasi Museum Sejarah Nasional. Dinding museum selesai dikerjakan Oktober, dan tugu Lingga selesai dibuat Agustus 1963. Konsep Lingga Yoni yang digagas Presiden Soekarno ini jauh lebih membumi ketimbang Monumen Simpang Lima Gumul di Kediri.

Lingga Yoni merupakan perlambang alat reproduksi pria wanita, yang kebersatuannya mendatangkan kesuburan dan keberlangsungan kehidupan. Tugu Monas juga bisa melambangkan pasangan Alu – Lesung yang akrab dengan kehidupan para petani.

Ada Relief Sejarah Indonesia di halaman luar monumen, salah satunya menggambarkan kejayaan Singasari yang didirikan Ken Arok pada 1222. Relief lain menggambarkan masa kejayaan Majapahit, dengan patung Mapatih Gajah Mada di ujungnya. Pada 1969-1976 ditambahkan diorama pada Museum Sejarah Nasional Indonesia.

Relief sisi lainnya menggambarkan penggalan kisah semasa penjajahan Belanda, perjuangan rakyat dan tokoh nasional Indonesia, bangkitnya pergerakan nasional di awal abad ke-20, peristiwa Sumpah Pemuda, penjajahan Jepang, Proklamasi Kemerdekaan RI, perjuangan revolusi paska proklamasi, hingga masa pembangunan Indonesia.

Ada pula kolam di sisi utara sebagai bagian sistem pendingin udara Monumen Nasional. Kolam air mancur ada di sisi Barat, berdekatan dengan Halte TransJakarta, serta satu air mancur lagi di sisi Timur, dekat Patung Kartini. Monas diresmikan dan dibuka untuk umum pada 12 Juli 1975 oleh Presiden Soeharto meskipun masih ada perbaikan di sana sini.

Share | Tweet | WA | Email | Print! | Tag: , ,

Oleh Bambang Aroengbinang. Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kirim pesan ke BA lewat email, atau lewat WA jika ingin menjadi penulis di Aroengbinang. Diperbaiki 26 Mei 2017.

Lalu «
Baru » »