Minggu di Java Jazz

Java Jazz Festival 2007 bergairah di hari Minggu. Sebenarnya saya tidak ada rencana untuk menontonnya, namun karena kami datang pada sebuah pesta pernikahan yang lokasinya tidak jauh dari Jakarta Convention Center, maka Dewi dan saya memutuskan untuk melihat penampilan pada hari terakhir itu. Tidak satu pun anak-anak yang ikut.

Beberapa orang pencatut menawarkan untuk membeli undangan Java Jazz yang mestinya gratis, namun kami lebih memilih untuk membeli tiket di loket resmi. Hmmmm, kami memutuskan tidak membeli tiket pertunjukan khusus Jamie Cullum, harganya terlalu mahal buat bukan fans fanatiknya.

Pertunjukan pertama yang kami tonton adalah Benny Likumahua & The Young Connection, untuk menghormati pemain jazz senior lokal. Tampaknya Benny tengah mempromosikan Barry Likumahua, anak lelakinya (jaket merah, memainkan bas), ke panggung musik dunia, atau jazz khususnya.

java jazz festival jakarta

java jazz festival jakarta

java jazz festival jakarta

java jazz festival jakarta

Berikutnya saya berada di dalam ruangan dimana saya melihat Idang Rasjidi bermain musik bersama dengan wajah-wajah terkenal seperti Kiboud dan Ireng Maulana.

Sebenarnya saya berharap bisa melihat pertunjukan Larry Franco di Java Jazz ini, namun sayangnya jam pertunjukannya berubah. Yang saya lihat adalah sekelompok maestro yang menanti waktunya untuk bermain. Hmmm, mungkin karena saya tidak melihat keseluruhan penampilan di hari itu.

Seingat saya, pada Java Jazz tahun lalu Vicky Sianipar mendapatkan pujian dari kritikus jazz, sehingga kami pun datang ke panggung pertunjukannya. Ia memberi kejutan dengan berkolaborasi bersama Tompi dalam sebuah komposisi. Vicky memainkan beberapa komposisi asik dengan sentuhan etnik yang diambil dari album Indonesian Beauty.

Kami berkesempatan melihat penampilan Richard Bona, yang berasal dari Desa Minta di Kamerun bagian Timur yang kemudian menjadi penampil tetap di New York Jazz Club yang bergengsi.

Suaranya lunak namun kaya dan secara kreatif menyatu dengan musiknya. Jemarinya bermain pada bas dengan cara yang mengagumkan. Pada suatu ketika ia bermain solo, menggunakan sequencer untuk merekam bunyi-bunyi ritmik yang kemudian menjadi musik latar, dan menghasilkan komposisi yang mengesankan.

Setelah sempat kecewa ketika menonton Java Jazz pada hari Jumat lantaran pertunjukan David Benoit dibatalkan, kami akhirnya berhasil melihatnya bermain di panggung berkolaborasi dengan Pauolo. Kepiawaian Paulo dalam memainkan saxophone memperlihatkan pengalamannya selama 20 tahun dalam dunia musik jazz dan pop.

Menariknya, Pauolo adalah juga Direktur World Golf Tournament di Hawaii. Akan halnya Benoit, saya membaca di sebuah koran kemarin, memutuskan untuk kembali bermain musik smooth jazz.

Karena membaca catatan penyelenggara Java Jazz sebagai penampil yang harus dilihat, kami pun mendarat di panggung San Fransisco (SF) Jazz Collective. Joshua Redman, si genius saxophonist, adalah direktur artistik kelompok ini. Namun bagi saya, jazz murni yang mereka mainkan terasa berat …

Ketika memasuki ruang dimana The Groove tengah tampil, kami menjumpai sebuah pertunjukan yang disesaki penonton. Sulit bagi kami untuk beringsut mencari tempat yang lebih baik. Penonton Java Jazz yang heboh ikut pula bernyanyi dengan suara keras bersama dengan kelompok itu. Hmmm, grup yang bagus saya pikir. Namun sayangnya saya tidak bisa menemukan CD mereka di Duta Suara Plaza Senayan kemarin.

Kelompok lain yang kami lihat adalah SoulID. Sepertinya saya pernah memiliki CD mereka, namun tak juga saya temukan dimana jejaknya. Saya masukkan saja ke dalam daftar beli.

Berikutnya adalah Vikter Duplaix. Kami menunggu selama hampir setengah jam selagi mereka melakukan cek sistem suara. Ketika hampir menyerah, ia memulai pertunjukannya. Penampilannya di Java Jazz ini bagus, bermain dengan beberapa alat musik yang menghasilkan jenis musik berbeda. Ia juga melemparkan beberapa buah CD ke penonton yang menyambutnya dengan gembira.

Hanya satu foto bagus dari penampilan Frank McComb, penyanyi jazz dan kibor kelahiran AS. Kami datang sedikit terlambat, sehingga hanya bisa menikmati sekitar dua komposisi musiknya.

Penampil terakhir Java Jazz yang kami lihat adalah kelompok Superfusion yang menampilkan pemain kibor veteran smooth jazz Jeff Lorber, Rick Brown, Brian Bromberg, Eric Marienthal dan Dave Weckl.

Waktu hampir menunjukkan jam 11 malam, dan Jakarta Convention Center masih dipadati sejumlah besar penikmat musik perhelatan Java Jazz. Sungguh mengagumkan dan membesarkan hati. Masih ada penampilan Sadao Watanabe, Level 42 dan Tortured Soul. Namun saya sudah begitu mengantuk, dan tidak bisa lari dari kantor esok harinya. Kami pun meninggalkan tempat.

Selamat bung Peter Gonta dan tim Java Jazz. Sukses. Sampai bertemu tahun depan, semoga dengan tiket masuk yang lebih murah….

Java Jazz Festival Jakarta

Alamat : JCC, Senayan, Jakarta. Rujukan : Peta Wisata Jakarta . Tempat Wisata di Jakarta . Hotel di Jakarta Selatan. Galeri (42 foto) Java Jazz Jakarta : 1.Likumahua, 5.Ireng Maulana, 8.Vicky Sianipar, 12.Richard Bona, 19.David Benoit, 22.SF Jazz Collective, 26.The Groove, 29.SoulID, 33.Vikter Duplaix … s/d 38.Superfusion.

Matched content

Bagikan tulisan ini di : Facebook | Twitter | WhatsApp | Email atau Print!
Home » Blog » Seni Budaya » Minggu di Java Jazz
Tag : ,

Oleh Bambang Aroengbinang.

BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA.

Subscribe via email untuk kabar tulisan terbaru. Diperbarui pada 29 Juli 2017.

Sebelumnya : «
Berikutnya : »
Lihat pula : Sitemap