Menyusuri Jejak Nippon di Lakkang

Lakkang! Satu kata itu tak  bosan gentayangan menyesaki kepala saya selama seminggu jelang mudik. Satu kata yang sukses membatalkan semua itinerary Makassar yang dipersiapkan selama 3 bulan! Kata Harry Mukti, “cukup satu kata ketika ingin bicara, tentang bara di dada, cukup satu kata!” Dan kata itu adalah Lakkang!

Berbekal petunjuk singkat menuju Lakkang yang didapat dari seorang kenalan di dunia maya, beberapa saat setelah mendarat di kota Angin Mammiri saya menawar ojek dari kompleks Bumi Tamalanrea Permai. Tujuannya adalah menuju ke Desa Kera-kera, wilayah Tallo, Makassar.

Ongkos ojek yang disodorkan oleh Daeng Pandi hampir membuat saya pingsan dan tak tega untuk menawarnya lagi. “Lima ribu”, jawab si daeng ketika saya menyebut tujuan dermaga di belakang Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar. Jasa yang terbilang sangat murah bagi ukuran pejalan yang datang dari kota besar.

Desa Lakkang
Dermaga Kera-kera tempat menunggu perahu menuju Desa Lakkang

Ternyata kata lakkang pun mengandung magis yang mencairkan kekakuan antara tukang ojek sok akrab dan penumpang cerewet yang gak paham kawasan di Kampus Unhas tapi sok tahu jalan ketika kami salah mengambil arah. “Saya kawal miki’ saja ke Lakkang di, siapa tahu ada orang jahat ganggu ki’.”

Karena berangkat dari Tamalanrea maka kami tinggal berbelok ke pintu II Unhas atau depan RS Wahidin Sudirohusodo. Tinggal lurus deh mengikuti jalan rindang yang diteduhi pepohonan hingga melewati gerbang Teaching Farm Fakultas Pertanian. Dijamin anda tidak akan nyasar! Di tikungan pertama ambil belokan ke kanan menuju Desa Kera-kera, terus saja ikuti jalan hingga sampai di Dermaga Kera-kera.

Desa Lakkang
Katinting, perahu penyeberangan menuju Desa Lakkang

Secara geografis, Lakkang adalah desa yang dihuni oleh sekitar 300 KK atau sekitar 1000 jiwa di sebuah delta seluas 165 hektar yang terbendung selama ratusan tahun dari sedimentasi Sungai Tallo. Mata pencaharian utama penduduknya adalah nelayan / penambak dan bertani.

Lakkang dipisahkan dengan daratan Makassar oleh sungai Tallo yang lebarnya 10-50 meter dan mempunyai kedalaman hingga 7 meter. Untuk mencapainya kita harus melintasi Sungai Tallo menggunakan  perahu penyeberangan dengan jarak tempuh 15 menit. Wow, siapa sangka di tengah kota Makassar ada surga tersembunyi?

Lalu, apa yang membuat Lakkang istimewa sehingga mengacaukan semua rencana perjalanan saya selama transit di Makassar? Lakkang merupakan kawasan penelitian terpadu serta daerah konservasi alam dan budaya yang menjadikannya terpilih sebagai pusat peringatan Hari Habitat Sedunia bertema Cities Magnet of Hope pada 2006. Dan pada 2011, Lakkang ditetapkan sebagai Desa Wisata yang menjadi salah satu destinasi wisata sejarah baru di Makassar dengan bunker Jepang sebagai daya tarik unggulannya.

Desa Lakkang
Peta Desa Lakkang

Ramah, itu kesan pertama terhadap beberapa warga Lakkang yang selesai beraktifitas di Makassar saat bersama menanti katinting (=sebutan untuk perahu penyeberangan) di Dermaga Kera-kera. Tanpa terasa kami menjadi akrab satu sama lain selama menunggu sopir perahu yang menurut Fitri, kalau Jumat siang perahu baru jalan usai waktu sholat Jumat.

Warga Lakkang pun terlihat sangat dekat satu dengan yang lain. Anak-anak tanpa diminta dengan riang bergotong royong membantu mengangkat barang-barang para ibu yang baru pulang berbelanja dari pasar ke dalam perahu.

Sepanjang perjalanan pun kami tak henti tertawa meski sesekali mereka melontarkan kata dalam bahasa Makassar yang kemudian diterjemahkan oleh Daeng Pandi. Jalan berpaving block akan kita jumpai semenjak beranjak dari dermaga hingga menyusuri jalanan di dalam kampung.

Rumah panggung satu ciri khas yang masih dipertahankan di Desa Lakkang
Rumah panggung satu ciri khas yang masih dipertahankan di Desa Lakkang

Sambutan ramah kembali saya terima ketika bertanya letak bunker kepada seorang warga yang sedang bersantai di atas rumah panggungnya. Tak sekedar memberi petunjuk arah, wanita muda itu turun dari rumah dan mengajak beberapa kawannya mengiringi langkah saya ke bunker.

Oleh pak Ali yang kami temui di sekitar bunker, saya diajak berkeliling ke beberapa titik pintu masuk bunker yang masih belum dibuka karena sebelumnya menjadi tempat pembuangan sampah atau tempat penampungan air kotor di belakang rumah warga. Bunker ini adalah peninggalan tentara Jepang yang pernah menjadikan Lakkang sebagai basis pertahanan dan tempat penyimpanan bahan logistik sekitar tahun 1943.

Menurut seorang warga sepuh yang enggan menyebutkan namanya, dulu jaman neneknya mereka tidak bermasalah dengan tentara Jepang bahkan mereka sering dibagi bahan makanan. Akan tetapi ketika Lakkang didatangi oleh gerombolan Kahar Muzakkar, penduduk asli diusir dari kampungnya. Nama Lakkang yang berarti lekat di hati melekat pada nama kampung tersebut ketika penduduk asli kembali ke desanya setelah pasukan Kahar Muzakar dienyahkan oleh tentara dari pulau Jawa.

Desa Lakkang
Salah satu bunker yang sudah digali di Desa Lakkang

Desa Lakkang
Pemandangan dari dalam bunker di Desa Lakkang

Desa Lakkang
Karena ketidaktahuan masyarakat, bunker menjadi tempat pembuangan sampah di Desa Lakkang

Saat ini bunker yang di atasnya telah dipasangi sebuah penanda berupa tiang pancang dengan tulisan Situs Bunker Jepang ini dibiarkan tak terawat. Menurut Pak Ali, bunker yang dulu menjadi tempat penimbunan sampah sudah sempat digali oleh marinir namun tidak diteruskan dan mereka tidak pernah kembali lagi. Warga setempat berharap jika memang daerah mereka akan menjadi destinasi wisata; kehidupan dan kedamaian mereka tidak akan terganggu serta ada kejelasan dalam pengelolaan situs-situs yang ada.

Desa  Lakkang
Salah satu jalan masuk bunker yang berada di belakang rumah warga di Desa Lakkang

Desa  Lakkang
Konon dulunya adalah saluran air yang berada di halaman depan rumah warga di Desa Lakkang

Setelah dua jam lebih berkeliling dan bercengkerama dengan warga Lakkang, saya dan Daeng Pandi beranjak ke dermaga Lakkang menanti perahu yang akan berangkat ke Kera-kera. Lima belas menit menanti tak ada tanda-tanda sopir perahunya datang, Daeng Pandi beranjak kembali ke dalam kampung. Katanya mau mencari warung kopi yang seingat saya selama berkeliling tadi tak melihat orang berjualan. Hmmm … ada gunanya juga bawa pengawal, tak berapa lama si Daeng kembali dengan membawa nampan berisi 2 gelas kopi susu dan roti di kantong kresek buat mengganjal perut, katanya diberi seorang ibu yang berbaik hati.

Selama menunggu sopir perahu, kami mendapat teman berbincang tiga lelaki yang meramaikan obrolan jelang senja di Dermaga Lakkang. Tepat saat tegukan terakhir kopi susu menyentuh tenggorokan, sopir perahu mengajak kami untuk berangkat. Ternyata penumpangnya hanya 2 orang : saya dan Daeng Pandi!

Desa Lakkang
Segelas kopi susu persahabatan dari Desa Lakkang

Pada akhirnya hanya syukur yang bisa dipanjatkan kepadaNya telah diberi kesempatan berkunjung ke Lakkang ditemani langit biru, dipertemukan dengan tukang ojek yang baik hati, mendapatkan sopir katinting yang sabar menanti dan bercengkerama dengan warga Lakkang yang ramah dan senang berbagi.

Untuk menuju ke sana bisa naik Pete-pete jurusan Unhas turun di Fakultas Pertanian/Peternakan Rp 2,000 (lanjut jalan kaki sekitar 1km ke Teaching Farm hingga Dermaga Kera-kera). Ojek dari Tamalanrea/Pintu II Unhas ke Dermaga Kera-kera Rp 5,000. Perahu penyeberangan dari Dermaga Kera-kera – Lakkang Rp 2,000/penumpang, jika membawa motor Rp 3,000/penumpang, atau Perahu penyeberangan dari Dermaga KIMA (Kawasan Industri Makassar) – Lakkang Rp 2,000/penumpang, jika membawa motor Rp 3,000/penumpang

Desa Wisata Lakkang

Pulau Lakkang, Kecamatan Tallo, Makassar, Sulawesi Selatan. Lokasi GPS: -5.121817,119.465718. Peta Wisata Makassar, Tempat Wisata di Makassar, Hotel di Makassar.

Share | Tweet | WA | Email | Print!
Home » Sulawesi Selatan » Makassar » Menyusuri Jejak Nippon di Lakkang

By Olyvia Bendon. Tinggal di Jakarta, berasal dari daerah eksotis bernama Toraja, Sulawesi Selatan, dengan panorama alamnya yg elok dan budayanya yg unik. Penikmat keindahan alam ciptaan Tuhan, senang berjalan kaki dan menyesap senyap saat berada di kuburan tua yang sarat cerita. Subscribe via email for newly published posts. Updated on 19 Maret 2017. Tag: ,

Tulisan lainnya : Silo dan Sizing Plant Sawahlunto | Museum Wayang Jakarta | Gedung BAT Cirebon | Hotel di Sanur | Hotel di Bintan | Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan | Pesanggrahan Langenharjo Sukoharjo | Hotel di Serang Kota | Bendungan Jembatan Tambak Lulang Ploso Kudus | 34 Tempat Wisata Kuliner Banyumas |