Membangun Jembatan NKRI

Home » Blog » Renungan » Membangun Jembatan NKRI
Cari | Share | Tweet | WA | Print!.

Ketika masih kecil hingga menjelang dewasa saya hidup di lingkungan keluarga NU (Nahdlatul Ulama, Kebangkitan Ulama) dari pihak ibu yg kebetulan adalah salah satu puteri dari alm KH Abdul Djamil, pengasuh pondok pesantren Mersi Purwokerto Wetan, dan sekaligus cucu dari alm KH RM Muhammad Ilyas, mursyid tarekat Naqsabandiyah-Kholidiyah Sokaraja.

Meskipun mbah Dul Jamil, begitu kami biasa menyebut nama mbah Abdul Djamil, wafat pada sekitar tahun 1945 dan pesantrennya di Mersi meredup bersama kepergiannya, namun kemudian ada mbah Dul Malik (Abdul Malik) di Kedungparuk yang menjadi obor keluarga.

Alm Mbah Dul Malik, yg dikaruniai usia panjang hingga 99 tahun, adalah kakak mbah Dul Jamil Putri dan salah satu guru dari Habib Luthfi, Pekalongan. Menurut cerita bulik Nur, Habib Luthfi ketika masih kecil sering dipangku mbah Dul Malik sambil beliau tertawa-tawa menikmati hisapan rokoknya.

Latar belakang alm ibu yang kuat aliran darah NU-nya dan membuat saya hafal puluhan wirid dan khatam Quran sejak SD diimbangi oleh ayah yang berpandangan lebih terbuka dan luas pergaulannya. Ayah yang pensiun sebagai Wedana dan keturunan keempat Aroeng Binang I, adalah penganut Islam yang tidak masuk dalam kotak-kotak keagamaan. Ia nyaman bergaul dengan orang NU, Muhammadiyah, dan Ahmadiyah.

Penyebutan keturunan saya lakukan hanya sebagai latar sejarah pikir, tak hendak mengklaim status dari kebaikan yang mereka semua pernah toreh semasa hidupnya. Karena itu ketika masih sekolah di SD, selain membaca Qur’an standar, saya juga membaca Qur’an Jarwo Jawi yang diterbitkan Ahmadiyah Lahore, dan juga membaca dua kitab perjanjian koleksi ayah.

Itu mungkin lantaran saudara-saudara ayah ada yang menjadi tokoh Ahmadiyah, NU, Muhammadiyah dan tokoh agama lainnya. Kepercayaan yang berbeda-beda itu sepertinya tak berpengaruh pada hubungan persaudaraan ayah dengan mereka.

Begitupun pada masa kecil saya perselisihan antara pengikut NU dan Muhammadiyah di tingkat akar rumput masih cukup tajam. Sikap curiga dan sinis satu dengan yang lainnya masih sangat terasa.

NU yang mengakomodasi budaya Jawa untuk menyampaikan pesan dan ajaran kebaikan, dan Muhammadiyah yang ingin memurnikan, seperti minyak dan air. Tak bisa bercampur, selalu memisah. Salah satu yg sering menjadi titik perselisihan adalah soal ada tidaknya bacaan qunut ketika shalat subuh, selain soal ziarah kubur, selamatan dll.

Namun kemudian, entah kapan dan siapa yang memulainya, muncul pesan sejuk menyebar ke akar rumput yang mampu mendinginkan dan mencairkan kebekuan. Membuat jembatan penghubung dengan menemukan persamaan, ketimbang membesar-besarkan perbedaan.

Titik temu perbedaan shalat Subuh dengan membaca qunut atau tidak antara NU dg Muhammadiyah adalah kedua-duanya sama-sama mendirikan shalat. Sehingga kemudian muncul semacam kesepakatan tak tertulis bahwa masih jauh lebih baik shalat daripada tidak sama sekali, baik membaca qunut atau pun tidak.

Lalu muncul sikap toleran, orang NU yg menjadi imam shalat jamaah Muhammadiyah dengan sengaja tak membaca qunut. Juga ada orang Muhammadiyah yang sengaja membaca qunut jika jamaahnya banyak yang NU. Perbedaan pandang dan praktik keseharian pada hal yang tak mendasar dibuat jembatan penghubung, karena kebenaran manusia tidak akan pernah bersifat mutlak.

Dengan alur pikir yang sama, titik temu ritual dan keimanan setiap agama dan aliran kepercayaan adalah pada ajaran untuk berbuat kebaikan, dan untuk tidak membuat kerusakan di bumi. Jembatan penghubungnya adalah lebih baik beragama dan menganut kepercayaan yang memberi pedoman pada perilaku ketimbang tidak sama sekali.

Berdakwah atau mengabarkan pesan kebenaran dan kebaikan tidak semata bertujuan agar orang memeluk agama yg kita anut, karena agama itu hidayah. Hidayah pada iman adalah urusan Tuhan, dan kita sepakat bahwa tak ada paksaan dalam beragama. Kepercayaan ada di dalam hati, yang sangat sulit untuk orang bisa masuk ke dalamnya.

Namun kepercayaan bisa dibangun dengan ketelatenan dalam menebar kasih sayang, pesan damai dan kebaikan. Wajah teduh, tutur lembut, sikap pemaaf, lebih mungkin masuk ke dalam hati manusia ketimbang kata-kata yang mengancam dan wajah yang beringas menindas.

Indonesia adalah bangsa majemuk, dengan berbagai suku, kepercayaan, dan agama. Memperbesar adanya perbedaan dan sikap intoleransi hanya akan menciptakan jurang pemisah yang langgeng. Hidup berbangsa karenanya harus bisa menghargai perbedaan pandang dan kepercayaan, serta membuat lebih banyak jembatan yang menghubungkan persamaan sebagai perekat kebangsaan.

Dalam film All the Way, Lyndon B. Johnson, presiden Amerika Serikat yang menggantikan John F Kennedy setelah ia dibunuh, dalam puncak frustrasinya karena masalah politik mengatakan bahwa “Clausewitz said ‘Politics is war by other means’… Bullshit. Politics is War… Period” (terjemahan Inggris tulisan Clausewitz aslinya adalah “War is the continuation of politics by other means.”). Realitas politik kita saat ini tampaknya seperti yang disebut Lindon, lebih banyak merusak tatanan kebangsaan ketimbang membangun jembatan yang menyatukan bangsa.

Namun kita bersyukur masih ada tokoh sepuh seperti Buya Syafii Ma’arif serta sejumlah tokoh sepuh dan muda lainnya di negeri ini yang masih berpikir jernih, menyejukkan diantara kabut beracun berbagai sudut pandang yang menyulut permusuhan dan menggelapkan pikir. Kepada para guru, ulama, dan cendekiawan yang arif bijaksana itu kita panjat doa keselamatan, semoga panjang usia agar bisa terus menjadi panutan dan penerang bagi sikap umat dalam berbangsa dan bernegara.

Kita tidak boleh membiarkan negeri ini dipecah belah oleh para petualang politik dan penjual surga yang hendak merebut kekuasaan dengan cara-cara yang mencederai proses demokrasi. Kita harus membangun lebih banyak jembatan NKRI yang mampu menciptakan suasana damai, sejuk, dan kondusif, agar pemerintah kembali bisa fokus bekerja untuk mempercepat pembangunan negeri yang sudah terlalu lama salah urus karena korupsi ini.

Share | Tweet | WA | Email | Print! | Tag:

Oleh Bambang Aroengbinang. Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kirim pesan ke BA lewat email, atau lewat WA jika ingin menjadi penulis di Aroengbinang. Diperbaiki 23 Maret 2017.

Lalu «
Baru » »