Masjid Wakaf Pekalongan

Home » Jawa Tengah » Pekalongan Kota » Masjid Wakaf Pekalongan
Cari, kirim ke FB | Tweet | WA | Print!.

Masjid Wakaf Pekalongan merupakan masjid tua di kota batik pesisir utara Pulau Jawa ini. Dari Jembatan Loji kami menyusur Jl Sultan Agung ke arah selatan, belok kiri di perempatan setelah Pasar Induk Banjarsari, dan belok kanan di perempatan ke Jalan Surabaya. Masjid Wakaf ada di sebelah kanan jalan, hanya 50 meter dari perempatan.

Mobil parkir di pinggir jalan karena halaman Masjid Wakaf Pekalongan ini kecil, hanya untuk parkir roda dua dan becak yang masih banyak dijumpai di Pekalongan. Saat itu jelang waktu asar, dan orang bergeletakan di lantai masjid meluruskan punggung sambil menunggu waktu.

Sejumlah wajah Arab tampak duduk di dalam masjid. Area Masjid Wakaf ini memang dikenal sebagai kampung Arab di Pekalongan. Adalah Habib Husein bin Salim bin Abubakar asal Huraidhoh Hadhramaut Yaman yang pertama kali membuka daerah yang sebelumnya masih berupa hutan ini. Ia pindah ke Pekalongan untuk berdagang sambil menyebarkan agama Islam.

masjid wakaf pekalongan
Pilar gerbang kiri di depan Masjid Wakaf Pekalongan dengan dinding tembok berlubang repetitif. Di atas pilar tembok terdapat kubah mini putih yang bagian atasnya dipasang lampu penerangan. Adanya pohon di halaman membuat lingkungan masjid terlihat agak asri oleh karena seluruh halaman telah dipasang blok paving yang berwarna kelabu.

Habib Husein pergi dari Hadhramaut bersama dua sepupunya, yaitu Abdullah dan Ahmad bin Mukhsin, melalui Nagpur India. Habib Huseun dan Abdullah tiba di Jawa pada 1834 M, sedangkan Habib Ahmad tetap di India. Habib Abdullah kemudian tinggal di Jakarta dan mewakafkan tanah kubur di Tanjung Priok yang sekarang menjadi terminal kontainer.

Abdullah menurunkan Habib Abdullah bin Alwi yang mendirikan gedung megah yang sekarang menjadi Museum Tekstil Jakarta di Jati Petamburan. Pada 1855 M (1272 H), Habib Husein yang mukim di Pekalongan mendirikan masjid yang kemudian dikenal dengan nama Masjid Wakaf ini, di tanah yang pada saat itu masih hutan.

masjid wakaf pekalongan
Serambi Masjid Wukuf Pekalongan yang lumayan lebar dengan tiga buah pintu masuk berdaun kembar yang bentuknya persis sama. Lelaki berkopiah putih haji bertelekan siku di sebelah kiri bawah adalah salah satu pria keturunan Arab yang terlihat tengah berada di dalam masjid, seperti mengawasi jamaah yang lalu lalang keluar masuk.

Tepat di atas pintu tengah terdapat sebuah jam dengan angka penunjuk waktu berhuruf Arab, dan dikelilingi kaligrafi yang ditulis secara konsentris. Lingkar luar jam bulat itu berwarna tembaga. Jam itu terlihat sudah tua dan tidak lagi menunjukkan waktu yang tepat, alias sudah mati. Entah memang rusak atau hanya lupa mengganti baterenya saja.

Habib Husein berdagang gula bersama Habib Abdullah di Jakarta, dan memiliki kapal besar atas nama istri bernama Noor Alatas yang dipakainya untuk berdagang. Ia juga diketahui mewakafkan tanah di Sapuro Pekalongan untuk dijadikan kuburan, yang kemudian juga menjadi tempat dimana ia dimakamkan saat meninggal pada 22 Rob’iul Awal 1282 H.

masjid wakaf pekalongan
Ruang utama Masjid Wakaf Pekalongan dengan sejumlah pilar yang menopang atap. Atap masjid ini seperti rumah biasa. Tidak ada kubah, tidak ada pula atap limasan tumpang yang biasa dijumpai di masjid Jawa. Langit masjid juga biasa. Hanya ada lampu gantung di tengah dan kipas-kipas angin yang batangnya menancap di langit masjid.

Bagian mihrab terdapat ruang imam dan mimbar tempat khotib berkhotbah dengan tiga lubang masuk lengkung yang lebih besar di bagian tengahnya. Tidak terlihat ada ornamen menonjol di dalam ruangan utama ini. Tidak pula ada hiasan kaligrafi yang biasa dijumpai di dalam ruang masjid. Karpet atau sajadah hanya ada di baris terdepan.

Di halam depan sebelah kanan masjid terdapat menara beton tinggi berbentuk bulat dengan dek pandang di bagian atasnya. Hanya saja saya tak sempat menapaki tangga di dalam menara untuk naik ke atas. Acara rutin di Masjid Wakaf Pekalongan ini adalah pengajian setiap hari Minggu dan Kamis setelah shalat Ashar yang dibimbing oleh Ust Abdullah bin Hasan.

Papan nama di halaman depan masjid juga menunjukkan bawah di tempat ini ada juga Pondok Pesantren yang kegiatan belajarnya dilakukan di dalam Masjid. Juga ada bangunan untuk TK dan Kelompok Belajar “Salafiyah” serta Lembaga Pendidikan Al-Qur’an yang mengajarkan Terjemah Alqur’an sistem 40 jam serta Perpustakaan masjid “Minaret”.

Masjid Wakaf Pekalongan selengkapnya: 4.Selasar 5.Antik 6.Ornamen 7.Menara 8.Jendela 9.Muka 10.Salafiyah 11.Pesantren

Masjid Wakaf Pekalongan

Alamat: JL. Surabaya, No. 47, Sugih Waras, Pekalongan. Peta Wisata Pekalongan . Tempat Wisata di Pekalongan . Hotel di Pekalongan.

Kirim ke FB | Tweet | WA | Email | Print! | Tag:

Oleh Bambang Aroengbinang. Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kirim pesan ke BA lewat email, atau lewat WA jika ingin menjadi penulis di Aroengbinang. Diperbaiki 19 Maret 2017.

Lalu «
Baru » »