Masjid Saka Tunggal Cikakak

Jam hampir menunjukkan pukul setengah enam sore ketika kami tiba di pintu gerbang Masjid Saka Tunggal Cikakak. Palang portal tertutup. Tri pun turun menyapa penjaga yang sesaat kemudian datang membukakan pintu portal, dan kami pun bisa masuk ke halaman parkir Masjid Saka Tunggal Cikakak yang bentuknya mengantung.

Hal pertama yang langsung menarik perhatian saya ketika turun dari kendaraan adalah monyet. Ya, monyet ekor panjang. Selain kawanan monyet, ada beberapa cungkup tempat duduk di area parkir ini. Di sisi kanan adalah tembok tinggi Masjid Saka Tunggal Cikakak.

Tidak banyak monyet yang terlihat ketika kami tiba, sehingga Tri pun hanya membeli beberapa bungkus kacang saja di warung sebelah. Tak dinyana, salah seorang pria tiba-tiba berteriak memanggil kera-kera yang lain. Dalam sekejap gerombolan kera pun berdatangan, bak pasukan Hanoman yang datang menggeruduk hendak menyerang Alengka …

masjid saka tunggal cikakak
Gerbang Masjid Saka Tunggal Cikakak yang masing-masing sisinya disangga empat pilar, dengan palang portal telah terbuka.

Renovasi gerbang ini tampaknya sudah lama berselang, sehingga kondisi saat itu sudah tidak begitu baik, terutama pada bagian atapnya dimana lapisan daun rumbianya sudah terkelupas nyaris habis, menyisakan atap seng yang sudah berkarat.

masjid saka tunggal cikakak
Seekor kera meloncat naik ke atas kap mobil, disusul beberapa ekor kera lainnya. Sementara kawanan kera lainnya bergerombol di pelataran parkir menunggu derma. Sayang makanan yang tersedia tak cukup untuk mereka semua.

Gerumbul pohon di ujung area parkir adalah hutan darimana kawanan kera itu berdatangan. Di gerumbul itu terdapat Makam Kyai Tolih, yang sayangnya tidak saya kunjungi lantaran sudah mulai gelap ketika selesai dengan Masjid Saka Tunggal.

masjid saka tunggal cikakak
Beberapa ekor kera masih menguntit dan ‘parkir’ di atas pagar di kiri kanan jalan menuju ke pintu masuk Masjid Saka Tunggal Cikakak.

Seekor induk kera berbulu abu-abu duduk mendeprok di samping undakan, memangku anaknya yang bulunya berwarna kehitaman. Jumlah kera di hutan sekitar Masjid Saka Tunggal Cikakak ini diperkirakan mencapai lebih dari 300-an. Ketika musim kemarau tiba dan makanan menyusut, mereka akan cukup merepotkan penduduk karena sering masuk ke dalam rumah dan mengambil makanan.

Memasuki pelataran Masjid Saka Tunggal Cikakak tidak ada lagi kera yang menguntit di belakang. Mungkin karena selalu diusir jika masuk. Lagipula tidak ada makanan yang bisa mereka dapatkan di sana.

masjid saka tunggal cikakak
Masjid Saka Tunggal Cikakak dengan atap terbuat dari lembaran seng dengan atap utama tumpang limasan dan mahkota sederhana di pucuknya.

Bagian luar Masjid Saka Tunggal Cikakak ini telah ditembok keliling, dimana terdapat lubang-lubang hawa berbentuk segi empat berjeruji kayu dengan lengkung kembar di bagian atasnya. Pintu masuk juga memiliki pola yang sama.

masjid saka tunggal cikakak
Area serambi Masjid Saka Tunggal Cikakak yang disangga tiang-tiang kayu ramping. Lantainya sudah dikeramik dengan enam set keramik berornamen hijau putih di bagian tengahnya.

Langit-langit dan dinding bagian dalam didominasi kayu dan pelipit bambu yang diplitur coklat dan coklat tua, memberi kesan tradisional yang kuat.

masjid saka tunggal cikakak
Inilah saka tunggal atau pilar tunggal yang menyangga atap utama masjid, yang membuat masjid ini dikenal sebagai Masjid Saka Tunggal Cikakak. Nama Cikakak di ujung nama masjid perlu disebut, lantaran ada pula masjid saka tunggal selain yang ada di Cikakak ini.

Ornamen pada saka tunggal yang terbuat dari kayu jati setebal 35 cm itu tampak unik, dengan motif ulir pada setiap sudutnya, motif suluran dan bunga pada batangnya, di bagian tengah ada empat sayap mengarah ke empat penjuru angin, dan motif kawung pada bagian atas kayu. Warna yang dominan adalah merah dan hijau, dengan sedikit warna kuning dan putih.

Saka tunggal mengandung arti bahwa hanya ada satu Tuhan, yaitu Allah. Empat sayap pada tiang tunggal itu mungkin terkait dengan filosofi Jawa ‘Sedulur Papat Lima Pancer’ yang dimodifikasi Sunan Kalijaga dengan memasukkan unsur Islam, yaitu ‘sedulur papat’ adalah empat jenis nafsu (aluamah, sufiyah, amarah dan muthmainah) dan ‘Lima pancer’ adalah rasa yang sejati (ada yang menyebutnya sebagai Nur Muhammad) .

Nafsu Aluamah merupakan nafsu dasar manusia, seperti makan, minum, berbusana, bercampur, yang terjadi karena pengaruh unsur tanah. Nafsu Sufiyah merupakan nafsu yang senang akan pujian, kekayaan, pangkat, derajat, yang dipengaruhi oleh unsur udara yang selalu mengembang memenuhi ruang kosong.

Nafsu Amarah merupakan nafsu yang terkait dengan rasa marah, emosi, ego, yang dipengaruhi oleh unsur api. Nafsu Muthmainah adalah nafsu yang mengajak manusia kearah kebaikan, yang dipengaruhi oleh unsur air.

masjid saka tunggal
Pada foto terlihat angka tahun yang ditulis dalam huruf Arab 1288, yang diduga merupakan tahun dibuatnya Masjid Saka Tunggal Cikakak ini. Karena angka pada tiang itulah Masjid Saka Tunggal Cikakak dianggap sebagai masjid tertua di Indonesia.

Namun ada ketidaksesuaian antara angka itu dengan kisah Kyai Tolih, yaitu yang dipercayai sebagai pembabat alas dan pembuka permukiman Cikakak, sekaligus sebagai orang yang pertama kali membangun Masjid Saka Tunggal Cikakak ini.

Dalam Babad Wirasaba, Kyai Tolih bertemu dengan Kyai Mranggi di rumah Adipati Banyak Kumara dari Kadipaten Kaleng. Kyai Mranggi hendak meminta bantuan keuangan dari Adipati Banyak Kumara untuk membiayai pernikahaan anak angkatnya yaitu R Joko Kaiman dengan putri sulung Adipati Wargautama dari Kadipaten Wirasaba.

Adipati Banyak Kumara menyanggupi asalkan Kyai Mranggi membuatkan wrangka keris pusaka yang dimiliki Kya Tolih. Kyai Mranggi setuju. Setelah dibawa ke rumah Kyai Mranggi di Kejawar, keris tiba-tiba hilang, dan secara gaib terselip di pinggang R. Joko Kahiman. Kyai Tolih pun kemudian merelakan kerisnya karena dianggap berjodoh dengan R. Joko Kahiman. Setelah itu Kyai Tolih pergi dari Kaleng dan membuka alas di daerah yang kemudian dikenal sebagai Cikakak.

Peristiwa bertemunya Kyai Tolih dengan Kyai Mranggi mungkin antara tahun 1500 – 1568. Tahun 1568 adalah perikiraan tewasnya Adipati Wargautama yang dibunuh oleh utusan Pajang, di awal berdirinya Kesultanan Pajang. Jika Kyai Tolih telah membangun Masjid Saka Tunggal pada 1288, itu artinya Kyai Tolih hidup lebih dari 200 tahun.

Pertanyaan saya yang kedua adalah jika benar bahwa 1288 adalah tahun pendirian Masjid Saka Tunggal Cikakak, maka tidaklah lazim jika pada tahun itu orang Jawa mengacu pada kalender Masehi.

Baru pada tahun 1502 Vasco da Gama memulai petualangan ke Timur. Portugis menaklukkan Malaka pada 1511, disusul dengan kedatangan VOC dan Inggris. Jadi pengaruh Barat baru muncul pada abad ke-16. Jan Pieterszoon Coen yang memimpin VOC pun baru menyerbu dan menduduki Jayakarta pada 1619.

Kesimpulannya, kecil kemungkinannya jika angka 1288 itu merujuk pada kalender Masehi. Itu jika angkanya ditoreh pada saat masjid dibuat. Orang Jawa Islam saat itu tentu akan mengacu pada kalender Hijriyah, atau pada Kalender Saka.

Jika mengacu pada kalender Hijriyah, maka 1288 H adalah sekitar 1872 M. Angka ini tentunya tidak cocok dengan kisah pertemuan Kyai Tolih dengan Kyai Mranggi di atas. Jika mengacu pada kelender Saka, maka 1288 Saka adalah 1366 M. Lebih mendekati, namun juga masih terlalu jauh jaraknya dengan kisah Kyai Tolih itu.

Jika 1288 M memang tahun pendirian masjid, maka angka itu bisa jadi ditoreh lebih dari 300 – 400 tahun setelah masjid dibuat, saat kalender Masehi sudah merasuk sampai ke kampung-kampung.

masjid saka tunggal cikakak
Bedug besar dan kentongan kayu yang disimpan di ruang utama Masjid Saka Tunggal Cikakak. Hal yang tidak lazim, karena bedug dan kentongan biasanya disimpan di serambi, di luar ruang utama masjid.

Keunikan ibadah di Masjid Saka Tunggal Cikakak ini adalah ketika saat adzan tiba akan ada empat muazin sekaligus yang mengumandangkan suara azan secara bersamaan, tanpa pengeras suara.

masjid saka tunggal cikakak
Ruang utama Masjid Saka Tunggal Cikakak dilihat dari pojok sebelah kanan, memperlihatkan dinding dan langit-langit yang terbuat dari anyaman bambu. Dinding bambu itu terlihat masih dalam kondisi bagus.

Di Masjid Saka Tunggal Cikakak ada sebuah acara ritual tahunan yang disebut Ganti Jaro, yaitu mengganti seluruh pagar bambu dengan pagar bambu yang baru. Prosesi ini melibatkan seluruh warga Cikakak, dan memakan waktu sekitar 2 jam, dilanjutkan dengan arak-arakan 5 gunungan nasi tumpeng untuk kemudian menjadi rebutan warga yang ingin mengalap berkah.

masjid saka tunggal cikakak
Masjid Saka Tunggal Cikakak ketika seorang pria tengah melakukan shalat. Mestinya shalat Ashar, karena Maghrib belum lagi masuk.

Meskipun telah dua kali dipugar sejak tahun 1965, namun terlihat jelas bahwa Masjid Saka Tunggal Cikakak sudah memerlukan pemugaran kembali. Bukan hanya pada fisik masjid, namun perlu juga dilakukan perbaikan pada sarana-sarana pendukungnya, termasuk bagaimana agar tanaman buah di hutan Masjid Saka Tunggal Cikakak mampu mendukung kehidupan kawanan monyet sehingga mereka tidak sampai mengganggu penduduk dan pengunjung.

Akses: Dari Alun-alun Purwokerto ke arah Barat sejauh 17,3 km sampai Jalan Raya Ajibara, lalu belok kiri (Selatan) masuk ke Jl Raya Pancatan. Ikuti jalan sampai sejauh 8,7 km, lalu belok ke kanan di pertigaan. Ikuti jalan sampai mentok pertigaan (1,4 km) dan belok ke kanan. Lurus terus, 270 meter kemudian akan sampai di lokasi.

Masjid Saka Tunggal Cikakak

Alamat : Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas. Lokasi GPS : -7.47382, 109.055665, Waze. Rujukan : Peta Wisata Banyumas . Tempat Wisata di Banyumas . Hotel di Purwokerto.

Matched content

Bagikan tulisan ini di : Facebook | Twitter | WhatsApp | Email atau Print!
Home » Jawa Tengah » Banyumas » Masjid Saka Tunggal Cikakak
Tag :

Oleh Bambang Aroengbinang.

BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA.

Subscribe via email untuk kabar tulisan terbaru. Diperbarui pada 14 Juli 2017.

Sebelumnya : «
Berikutnya : »
Lihat pula : Sitemap