Masjid Menara Kudus

Hari masih pagi ketika kami turun dari kendaraan di Jalan Menara yang sibuk dan tak begitu lebar tepat di depan Masjid Menara Kudus, masjid tua bersejarah warisan Sunan Kudus yang dibangun pada 1549 M. Langit biru bersih, namun matahari tak bebas menyengat karena ada bangunan di sepanjang jalan, serta adanya gapura dan menara masjid.

Sepeda, becak, motor, hingga mobil serta manusia tua muda yang datang dari berbagai penjuru tanah air terlihat lalu lalang di depan Masjid Menara Kudus, sebagian masuk ke gapura makam, sebagian masuk ke dalam serambi masjid. Tak begitu mudah untuk mengambil foto tanpa terganggu lewatnya orang dan kendaraan dari dua arah yang berlawanan.

Adanya pertigaan di dekat masjid juga ikut menyumbang pada kesibukan jalan. Jika saja dibuat searah, untuk semua kendaraan motor atau pun tidak, tentu akan terlihat lebih elok dan nyaman. Apalagi jika ditutup sama sekali untuk semua kendaraan dan sepenuhnya menjadi jalur pedestrian. Begitu pun, menara dan gapura masjid terlihat sangat mengesankan.

masjid menara kudus

Tampak atas menara bergaya khas Jawa Hindu yang memberi nama pada Masjid Menara Kudus. Landas menara yang berukuran 10×10 m tingginya hampir tiga kali tinggi orang dewasa. Menara yang menjulang 18 meter ini terbuat dari bata merah bakar yang disusun rapi tanpa rekat semen. Jam pada puncak menara menunjuk angka 9:05, lebih lambat dari jam 9:29 pada file rekam foto.

Deret piring porselen biru ada pada pinggang bawah menara, diselang hiasan bergerigi. Jumlah piring biru ada 20 buah, dihias lukisan orang, pohon kurma, masjid, dan unta. Ada 12 lagi porselen merah putih dengan lukisan bunga. Di menara ada candrasengkala Gapura Rusak Ewahing Jagad, atau 1609 Saka / 1685 M, sebagai tahun berdirinya menara. Di belakang kanan tampak atap tajug bangunan utama masjid, dengan mustaka perak di puncaknya.

masjid menara kudus

Bangunan masjid di bagian depan ini letaknya bersebelahan dengan menara, dengan arsitektur timur tengah dengan kubah pada puncak dan menaranya, kontras dengan bangunan aslinya sehingga terkesan menempel. Tak jelas kapan bangunan ini dibuat, mungkin saat renovasi sekitar 1918-an. Nama resmi Mesjid Menara Kudus adalah Masjid Al Aqsa Manarat Qudus, atau sering juga disebut sebagai Masjid Al Manar.

Setelah mengambil air wudhu pada kran yang sebelumnya hanya berupa kolam, sebagaimana lazim dijumpai pada masjid sebelum tahun 60-an, kami memasuki masjid lewat teras bagian samping. Ada banyak orang yang tengah duduk atau berbaring di lantai tegel dingin kelabu bergaris merah marun sebagai pembatas shaf. Di serambi tampak dua gapura paduraksa yang dikenal sebagai Lawang Kembar. Sangat unik.

masjid menara kudus

Pemandangan luar biasa saya temui ketika memasuki ruang utama Masjid Menara Kudus, yaitu adanya gapura paduraksa di dalamnya. Jika di luar masjid masih biasa, meski akan tetap terlihat asik, namun ini ada di dalam ruang utama! Boleh jadi ini disebabkan adanya perluasan pada ruangan masjid sehingga gapura itu bergeser masuk ke dalam.

Bagaimana pun ini bukti salah satu wujud pendekatan budaya Sunan Kudus dan sejumlah wali saat mengislamkan Jawa. Dalam budaya Hindu Jawa, gapura paduraksa memisahkan jaba tengah dan jaba jero yang sakral, tempat umat menyembah penguasa semesta. Inilah Islam Nusantara yang merawat budaya yang telah mengakar kuat selama berabad-abad.

Ciri budaya Jawa lainnya ada pada delapan soko guru penopang atap limasan tumpang yang terbuat dari kayu jati elok bersegi delapan, demikian juga umpaknya. Pancuran wudhu yang di atasnya ada arca juga ada delapan, mengadopsi Asta Sanghika Marga (Delapan Jalan Kebenaran) dalam ajaran agama Budha. Sedangkan pintu masuk utama ada lima, pintu samping kiri kanan juga lima, yang tampaknya melambangkan rukun Islam.

masjid menara kudus

Pandangan di dalam ruang utama dari sudut yang mengarah pada mihrab. Ada empat jendela kayu setinggi pintu, dengan relung lengkung ruang imam di tengah, dan ada lagi ruang lengkung simetris di kiri kanan dengan undakan menuju mimbar tempat khatib berkhotbah. Terlihat ada bendera di sisi kanan, sedang di bendera di sisi kiri tak terlihat pada foto.

Pada mihrab relung imam terlihat batu prasasti berukuran 46×30 cm dengan inskripsi Arab yang memberi petunjuk tahun didirikannya Masjid Menara Kudus pada 956 H. Peletakan batu pertama konon memakai batu dari Baitul Maqdis Palestina, karenanya disebut Masjid Al Aqsha. Warna karpet dan tiang serta pintu masjid terlihat serasi. Jika saja plafon diganti dengan susunan kayu plitur tentu akan jauh lebih elok.

Entah mengapa saya tidak memotret kentongan dan bedug, namun ada foto yang memperlihatkan dua buah kentongan di puncak menara di bawah atap tajug. Bangunan yang telah ditetapkan menjadi benda cagar budaya ini merupakan masjid tradisional terunik dan mengesankan yang pernah saya kunjungi, selain Masjid Agung Banten, Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Masjid Agung Demak, Masjid Agung Keraton Surakarta, dan Masjid Agung Al-Falah Kyai Mojo.

Galeri (23 foto): 1.Menara . 2.Kubah . 3.Paduraksa . 4.Mihrab . 5.Allah . 6.Joglo . 7.Meru . 8.Porselen . 9.Simetri … s/d 23.Cagar.

Masjid Menara Kudus

Alamat: Desa Kauman, Kecamatan Kota Kudus, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Lokasi GPS: -6.8041882,110.832881, Waze. Tempat Wisata di Kudus, Peta Wisata Kudus, Hotel di Kudus.


Kirim ke Facebook | Tweet | WhatsApp | Email | Print!

Home » Jawa Tengah » Kudus » Masjid Menara Kudus
Tag: , , , ,

Oleh Bambang Aroengbinang. Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta, ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia. Blogger dan pejalan musiman yang senang pergi berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Email aroengbinang@gmail.com. WA 0815 1433 7628. Diperbaiki 19 Maret 2017.

Lalu «
Baru » »