Masjid Laweyan

Home » Jawa Tengah » Solo » Masjid Laweyan
Cari | Share | Tweet | WA | Print!.

Meskipun tujuan semula adalah berkunjung ke Masjid Laweyan Solo, namun ketertarikan pada Makam Kyai Ageng Henis yang berada di sebelahnya membuat masjid ini saya kunjungi belakangan. Lagi pula sejarah Masjid Laweyan sangat erat dengan tokoh Kyai Ageng Henis itu. Selain itu, tak ada batasan waktu untuk datang ke masjid.

Halaman Masjid Laweyan tak begitu lebar, namun memanjang. Hanya saja lantaran letaknya yang lebih tinggi dari jalan desa, maka kendaraan bermotor roda dua saja yang masih bisa parkir di halaman masjid. Kendaraan roda empat harus parkir sebelum batang jembatan.

Masjid Laweyan merupakan masjid tertua di Kota Solo, didirikan pada 1546 oleh Kyai Ageng Henis. Menurut penuturan Abdul Azis, kuncen Makam Kyai Ageng Henis, semula Masjid Laweyan ini berupa pura yang dipimpin oleh Ki Ageng Beluk, seorang pendeta Hindu yang masih keturunan Majapahit dan bernama asli Handayaningrat.

masjid laweyan solo
Terdapat tiga buah gapura di bagian depan Masjid Laweyan, satu yang besar ada tepat di tengah, dan masing-masing satu gapura kecil di sayap kiri kanan tembok depan. Hanya sepasang menara kecil di gapura utama yang juga berfungsi sebagai lampu penerang ketika malam tiba. Ketiga gapura adalah perlambang tiga jalan hidup: Islam, Iman dan Ihsan.

Lubang hawa pada tembok depan bentuknya sederhana saja, sementara atap masjid bagian serambi berbentuk limasan terpancung, menyerupai atap kelenteng. Atap di atas ruang utama yang berbentuk tumpang tidak terlihat dari jalan.

Menara sederhana yang tingginya hampir sama dengan atap masjid berada terpisah di sebelah kanan. Empat pengeras suara diletakkan di puncak menara, mengarah ke empat penjuru angin. Sebuah tengara papan nama dan alamat masjid berada di halaman sisi sebelah kanan.

masjid laweyan solo
Bedug besar dengan bentuk unik, serta sebuah kentongan panjang berada di bagian serambi Masjid Laweyan. Langit-langit serambi bermotif kotak, dan tidak ada ukiran pada tiang-tiang penyangga. Warna dominan di Masjid Laweyan adalah hijau dan putih.

Ada tiga pintu masuk ke ruang utama masjid, dan saya masuk dari pintu tengah yang tak dikunci setelah mengambil air wudhu. Suasana sepi di dalam masjid karena sudah lewat awal waktu Ashar.

masjid laweyan solo
Ruang utama Masjid Laweyan yang atapnya ditopang oleh empat saka guru. Model atap tumpang khas masjid di Jawa memberi sumber pencahayaan, meski agak temaram, dan memberi sirkulasi udara di ruangan yang mencukupi.

Selain mimbar ukir dan tulisan Arab “Muhammad” dan “Allah” pada dinding mihrab, tidak ada ornamen lain yang menarik di ruang utama Masjid Laweyan ini. Berbeda dengan kebanyakan masjid yang bagian mihrabnya menonjol ke luar, mihrab Masjid Laweyan justru menonjol ke dalam ruang utama karena dinding mihrab sebaris dengan dinding tembok kiri-kanannya.

Abdul Azis bertutur bahwa adalah karena terkesan dengan ahlak dan tutur kata Kyai Ageng Henis maka Ki Ageng Beluk belajar tentang Islam sampai kemudian ia menyerahkan pura kepada Kyai Ageng Henis untuk dijadikan masjid. Aziz juga bercerita, konon kabarnya Raja Brawijaya V tak mempan disunat oleh sebab menurut Raden Patah ia belum ikhlas masuk islam. Setelah ikhlas barulah ia bisa disunat. Wallahua’lam.

Foto Masjid Laweyan berikutnya: 4.Mimbar 5.Luar pagar 6.Denah Laweyan 7.Jembatan

Masjid Laweyan

Alamat: Jl Liris, Pajang, Laweyan, Solo. GPS: -7.5714102, 110.7926559. Tempat Wisata di Solo . Peta Wisata Solo . Hotel di Solo.

Share | Tweet | WA | Email | Print! | Tag:

Oleh Bambang Aroengbinang. Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kirim pesan ke BA lewat email, atau lewat WA jika ingin menjadi penulis di Aroengbinang. Diperbaiki 19 Maret 2017.

Lalu «
Baru » »