Masjid Jami Tambora Sejarahmu

Masjid Jami Tambora Jakarta merupakan masjid tua berikutnya yang saya kunjungi beberapa waktu lalu di ibu kota republik ini. Masjid ini konon dibangun pada tahun 1761 (1181 H). Ini berarti hanya selang setahun setelah berdirinya Masjid Jami AnNawier Pekojan yang merupakan masjid tertua ke-enam di Jakarta.

Saat berkunjung, dari Jl Muhammad Mansyur di Jakarta Barat kami belok ke Jl Tambora, dan tak sampai 100 m ada mushola yang sempat saya duga masjid yang saya cari itu. Sampai mentok pertigaan ternyata tak ada lagi masjid, dan di pertigaan itu Pak Dayat bertanya arah. Sayang informasi yang tak jelas membuat kami kembali naik kendaraan, belok kiri di pertigaan mengikuti Jalan Tambora 1 yang sempit, dan lantaran tak bisa parkir di jalan itu kami pun harus keluar lagi ke Jl Muh Mansyur dan masuk kembali ke Jl Tambora.

Rupanya kendaraan harus diparkir sebelum ujung pertigaan, dan dilanjut berjalan kaki sedikit ke kiri dari pertigaan, lalu masuk gang di kanan jalan. Seorang bapak mengantar saya berjalan kaki sampai ke ujung gang, lalu belok kiri beberapa langkah di jalan yang berada di pinggiran Kali Krukut, dan masuk ke halaman depan masjid.

cungkup kubur masjid jami tambora
Cungkup di halaman depan masjid yang di dalamnya terdapat dua kubur berdampingan yang konon dihuni jasad KH Moestodjib dan Ki Daeng, pendiri Masjid Jami Tambora asal Ujung Pandang namun tinggal di kaki Gunung Tambora, Sumbawa. Pada dinding kiri depan masjid menempel tulisan yang menyebutkan bahwa nama masjid berasal dari nama Gunung Tambora di Sumbawa itu.

Menurut cerita, kedua orang itu dibawa dari Sumbawa ke Batavia oleh kompeni pada 1756 untuk menjalani hukuman kerja paksa yang dijalaninya selama lima tahun. Setelah bebas, keduanya memilih tinggal di Kampung Angke Duri (sekarang daerah Tambora) dan mendirikan Masjid Jami Tambora ini. Lokasinya sengaja dibuat di tepi Kali Krukut karena saat itu air kali masih jernih sehingga bisa dipakai untuk berwudlu.

papan nama masjid jami tambora
Google menandai jalan itu sebagai Jl Tambora 4, namun papan nama menyebut alamat Masjid Jami Tambora berada di Jl Tambora Masjid No 11. Sebelum bernama Jl Tambora Masjid, jalan itu sebelumnya dikenal sebagai Jl. Blandongan.

Foto di atas diambil dari dalam halaman masjid, memperlihatkan kanopi yang dipasang di atas jalan. Mungkin menjadi sebuah indikasi bahwa jalan akan ditutup ketika sholat Jumat dan sholat hari raya lebaran serta hari raya kurban. Adalah K.H. Moestodjib yang memimpin jamaah sejak Masjid Jami Tambora berdiri sampai ia wafat, yang kemudian dilanjutkan oleh Imam Saiddin sampai ia wafat pula. Pimpinan masjid kemudian mengalami pergantian beberapa kali hingga pada 1950 Mad Supi dan kawan-kawannya dari Gang Tambora dipercayai untuk menjadi pemimpin masjid.

ukir hiolo masjid jami tambora
Ukiran pada risplang menurutnya adalah hiolo, walaupun jika diamati ukirannya tak ada hio menancap di sana. Yang ada adalah ukiran bunga dan dedaunan. Keramik Cina yang menempel pada pilar cungkup menurut Cecep banyak ditemukan di sekitar masjid, dulu. Namun tak jelas bagaimana kaitan ukiran hiolo dan keramik Cina itu dengan sejarah berdirinya Masjid Jami Tambora.

Cecep juga bertutur bahwa di halaman masjid dulunya terdapat bak (kolam) buat wudlu, serta ada banyak kuburan di halaman itu. Semuanya dibongkar pada jaman Ali Sadikin menjadi Gubernur DKI. Namun cungkup dan kedua makam di dalamnya sebelumnya tak ada, demikian Cecep berucap. Cecep tampaknya tak begitu percaya dengan cerita tentang dua pendiri masjid yang kuburnya ada di cungkup itu.

pilar utama masjid jami tambora
Pilar utama atau biasa disebut sebagai sokoguru masjid, serta delapan pilar lain yang sebelumnya berupa susunan bata merah, namun sekarang telah dilapis semen dan porselen. Jika boleh memilih, saya mungkin lebih suka bentuk aslinya yang tanpa semen, cukup divernis yang baik saja.

Lantai balkon yang disangga keempat pilar kini mati, karena tak ada tangga yang bisa ditapak untuk mencapainya. Oleh sebab itu lampu-lampu gantung dipasang di sisi luar sokoguru, bukan di langit-langit di tengah atap. Masjid Jami Tambora bentuknya empat persegi panjang dengan bangunan seluas 435 m2, berdiri di atas tanah yang luasnya 555 m2. Semasa revolusi kemerdekaan, Masjid Jami Tambora juga digunakan sebagai tempat pertemuan para pemuda untuk menyusun perlawanan terhadap Belanda, sehingga masjid digerebek pada Oktober 1945 oleh NICA dan beberapa orang pemuda pun ditawan, diantaranya adalah Mad Supi.

Masjid Jami Tambora ditetapkan sebagai benda cagar budaya pada 1994. Pemugaran masjid dilakukan pada 1979 melalui Proyek Sasana Budaya, pada 1980 oleh Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta dengan menambahkah aula dan tempat sholat wanita di sisi Selatan, dan pada 1988/1989 oleh Pemprov DKI Jakarta.

Masjid Jami Tambora Jakarta

Alamat : Jl Tambora Masjid No 11, Jakarta Barat. Lokasi GPS : -6.14529, 106.81056, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Rujukan : Peta Wisata Jakarta, Tempat Wisata di Jakarta, Hotel di Jakarta Barat. Galeri (13 foto) Masjid Jami Tambora Sejarahmu : 1.Cungkup . 2.Tambora . 3.Hiolo . 4.Porselen . 5.Arab . 6.Angka . 7.Beton . 8.Pilar . 9.Salat … s/d 13.Tumpang.

Matched content

Bagikan tulisan ini di : Facebook | Twitter | WhatsApp | Email atau Print!
Home » Jakarta » Jakarta Barat » Masjid Jami Tambora Sejarahmu
Tag : , ,

Oleh Bambang Aroengbinang.

BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA.

Subscribe via email untuk kabar tulisan terbaru. Diperbarui pada 16 Juli 2017.

Sebelumnya : «
Berikutnya : »
Lihat pula : Sitemap