Masjid Jami AnNawier Pekojan Jakarta

Tidak begitu mudah untuk menemukan Masjid Jami AnNawier Pekojan yang, sesuai nama, lokasinya berada di daerah Pekojan, Jakarta Barat. Itu lantaran meski sudah lebih dari 25 tahun tinggal di Jakarta namun mungkin baru sekali dua saya pernah datang ke wilayah di dekat masjid ini. Jakarta Barat bukan kawasan jelajah saya.

Lupa bawa GPS, sehingga harus bertanya beberapa kali, kadang diberi arah jalan melenceng, namun akhirnya bisa menemukannya juga. Tinggal di dekat sebuah tempat belum tentu orang tahu tentang tempat itu. Tinggal di rumah yang sama belum tentu Anda mengenal pasangan Anda.

Selain menjadi pemukiman orang-orang Cina, daerah Pekojan dahulu juga dikenal sebagai Kampung Arab. Banyaknya pedagang keturunan Arab yang tinggal di daerah ini karena lokasinya yang dekat dengan Pelabuhan Sunda Kelapa, dan dekat pula dengan Kali Krukut yang dulu bisa dilakui kapal. Meskipun jumlah orang Arab kini tak lagi menonjol, namun jejaknya masih bisa dijumpai hingga kini di Pekojan.

masjid jami annawier pekojan
Tampak muka Masjid Jami AnNawier Pekojan, dengan halaman sempit dan berdempet rapat dengan rumah penduduk di kiri kanannya. Jalan di depan masjid juga tidak bisa dikatakan lebar. Hanya cukup untuk dua mobil lewat. Itu pun separuh jalan digunakan untuk parkir kendaraan.

Jika tidak ada ornamen lengkung menyerupai puncak kubah diantara pilar teras, serta tidak ada papan nama Masjid Jami AnNawier Pekojan di atas pintu masuk, maka orang akan mengira bahwa bangunan ini adalah rumah biasa. Tak terlihat ada kubah pada atap, dan tidak terlihat pula menara masjidnya. Tak ada tempat parkir bagi pengunjung sehingga kami harus parkir di tepian jalan tak berbahu, dan menyumbang pada penyempitan jalan yang menjadi salah satu biang macet Jakarta. Untunglah tak (belum) ada operasi cabut pentil di Jl Raya Pekojan ini…

masjid jami annawier pekojan
Lorong lebar yang disangga pilar-pilar saya lihat ketika melewati pintu masuk Masjid Jami AnNawier Pekojan. Jumlah pilar itu kabarnya ada 33, sesuai butiran tasbih wirid. Ujung lorong ini berbelok ke kiri untuk masuk ke ruang utama masjid, tempat dimana terdapat mihrab dan mimbar.

Masjid Jami Annawier Pekojan, atau sering disebut sebagai Masjid Pekojan, adalah salah satu masjid tertua di Jakarta didirikan pada 1180 H atau 1760 M. Pekojan berasal dari Khoja, sebutan bagi orang Islam dari Gujarat India Barat penganut mazhab Ismailiyah, mazhab kedua terbesar dalam Syi’ah, setelah mazhab Dua Belas Imam. Pedagang Gujarat ini menyebarkan agama Islam di berbagai tempat di Indonesia. Ada masjid berumur lebih tua di Jl Pengukiran II, tak jauh dari Masjid Pekojan, didirikan pada 1648 oleh komunitas pedagang muslim dari Gujarat itu, yaitu Masjid Al Anshor yang tak sempat saya kunjungi. Sedangkan Masjid Jami AnNawier Pekojan ini kabarnya dibangun oleh komunitas pemukim keturunan Arab.

masjid jami annawier pekojan
Ruang utama Masjid Jami AnNawier Pekojan dengan pilar-pilarnya. Langit ruangan yang tak begitu tinggi itu rata. Tak ada lengkung langit-langit meninggi lantaran masjid ini tak memiliki kubah. Di sisi Barat terdapat lima buah pintu lengkung perlambang Rukun Islam, sedangkan di sisi kanan ada enam pintu lengkung yang melambangkan Rukun Iman.

Mimbar kayu berundak dengan ornamen berwaran keemasan itu adalah hadiah dari Sultan Pontianak yang diberikan olehnya pada 1871. Tongkat yang biasa dipegang khotib tampak tersender di puncak undakan. Sultan Pontianak juga menghadiahkan partisi kayu 1,6 x 1,6 meter di sebelah Almari Jam sebagai tempat khotib memakai jubah sebelum naik mimbar.

masjid jami annawier pekojan
Keluar ke sisi kanan terdapat serambi memanjang dan ruang terbuka di sebelahnya. Beberapa orang tampak tengah meluruskan punggung setelah shalat dzuhur. Di ujung sana terdapat sebuah bedung yang bentuknya memanjang. Dari area terbuka saya bia melihat menara masjid.

Menara Masjid Jami AnNawier Pekojan bentuknya lebih menyerupai mercu suar. Menara setinggi 17 meter ini letaknya jauh di belakang sehingga tak terlihat dari arah depan masjid. Sempat mencari tangga berputar ke atas menara namun tak saya temukan di sana. Di menara itu dipasang pengeras suara untuk mengumandangkan adzan saat waktunya tiba.

Masjid yang awal bangunannya menggunakan konstruksi kayu dan diurus oleh Daeng Usman Bin Rohaeli sampai tahun 1825 ini mengalami perubahan dan perluasan masjid pada 1850 yang dilakukan oleh Komandan Dahlan asal Banten. Syarifah Kecil atau Syarifah Fatimah binti Husein Al Idrus kemudian mewakafkan sebidang tanah miliknya untuk perluasan masjid pada 1897.

Makam Sarifah Fatimah, Komandan Dahlan, dan Daeng Usman ada di belakang masjid, namun sayang saya tak memperhatikannya ketika itu. Pada 1926 Masjid Jami AnNawier Pekojan kembali diperbaiki oleh Sayyid Abdullah bin Hussein Alaydrus, Sayyid Aloei, Sayyid Hassim, Sayyid Muhammad, Syech Abdurrahman, Haji Abdul Mufthi, dan Haji Mohammad Tosim.

Sebuah laman menyebut bahwa ketika terjadi Perang Dipenogoro berkecamuk pada periode 1825-1830, Masjid Jami AnNawier Pekojan juga diperbaiki dan dibetulkan arah kiblatnya, seta diperluas oleh Habib Ustman Bin Yahya bersama KH Nawawi. Habib Usman Bin Yahya adalah guru Habib Ali Alhabsji (Habib Ali Kwitang) yang menjadi pendiri Majelis Taklim Kwitang serta Masjid Arriyadh di Kwitang yang meninggal pada 13 Oktober 1968.

Petunjuk arah: Dari depan Museum Bank Indonesia terus ke Utara, ikuti jalan ke kiri. Setelah jembatan belok sedikit ke kanan lalu kiri ke Jl Kali Besar Barat, belok kanan pertigaan pertama ke Jl Roa Malaka Selatan, dan belok kiri di pertemuan dengan Jl Kopi. Di ujung jalan belok kiri ke Jl Pejagalan, 200 m belok kanan ke Jl Pejagalan 1, 600 m belok kiri ke Jl Pengukiran, mentok belok kiri. Masjid Jami AnNawier Pekojan sekitar 50 meter dari belokan.

Masjid Jami AnNawier Pekojan Jakarta

Alamat : Jl. Pekojan Raya No 71, Jakarta Barat. Lokasi GPS : -6.141518, 106.804522, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Rujukan : Peta Wisata Jakarta, Tempat Wisata di Jakarta, Hotel di Jakarta Barat. Galeri (13 foto) Masjid Jami AnNawier Pekojan Jakarta : 1.Muka . 2.Lorong . 3.Mihrab . 4.Serambi . 5.Mimbar . 6.Menara . 7.Pojok . 8.Bedug . 9.Terbuka … s/d 13.Halaman.

Matched content

Bagikan tulisan ini di : Facebook | Twitter | WhatsApp | Email atau Print!
Home » Jakarta » Jakarta Barat » Masjid Jami AnNawier Pekojan Jakarta
Tag : ,

Oleh Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email untuk kabar tulisan terbaru. Diperbarui pada 16 Juli 2017.

Sebelumnya : «
Berikutnya : »
Lihat pula : Sitemap