Masjid Assalafiyah Jatinegara Kaum

Ini adalah kunjungan kedua ke Masjid Assalafiyah Jatinegara Kaum, Jakarta Timur. Kami mampir setelah dari Makam Pangeran Sanghyang yang letaknya bertetanggaan. Kali pertama adalah ketika berkunjung ke Makam Pangeran Jayakarta yang berada dalam satu kompleks, dan masuk dari pintu gerbang yang sama.

Masjid ini didirikan Pangeran Jayakarta (Akhmad Jaketra) pada 1620, setahun setelah ia dan pengikutnya menyingkir dari Pasar Ikan ke wilayah Jatinegara Kaum ini. Itu lantaran tempat tinggalnya diserbu dan dibumihanguskan Jan Pieterszoon Coen pada 30 Mei 1619.

Ketika tiba di sana dua sahabat kecil tampak tengah menyeberang jalan di atas garis loreng di depan Masjid Assalafiyah Jatinegara Kaum yang siang itu tampak relatif sepi. Hanya ada tiga motor parkir di jalur pedestrian, dan beberapa tukang tengah bekerja melakukan perbaikan masjid.

masjid assalafiyah jatinegara kaum
Tengara di pilar gerbang sebelah kanan berbunyi “Komplek Makam Pangeran Jayakarta (Achmad Jaketra), dibangun 1640 M di Jatinegara Kaum, Makam para pejuang yang melawan penjajah Belanda.” Tahun 1640 adalah tahun meninggalnya Pangeran Jayakarta.

Sedangkan tengara di pilar gerbang sebelah kanan berbunyi: “Masjid Jami “Assalafiyah”, dibangun tahun 1620 M di Jatinegara Kaum oleh Pangeran Jayakarta (Achmad Jaketra)”. Makam dan bangunan Masjid Assalafiyah telah mengalami beberapa kali perbaikan dan perubahan. Pemugaran pertama dilakukan pada 1700 oleh Pangeran Sageri, lalu Aria Tubagus Kosim memugarnya lagi pada 1842. Gubernur Ali Sadikin menjadikan bangunan Masjid Assalafiyah menjadi dua tingkat dan mendirikan menara pada 1969.

masjid assalafiyah jatinegara kaum
Kanopi yang merentang dari gerbang sampai ke bangunan utama masjid, meskipun bermanfaat secara fungsional, namun menutupi pandangan ke arah Masjid Assalafiyah Jatinegara Kaum dan merusak keindahan arsitektur masjid. Sangat disayangkan, namun seingat saya kondisi yang sekarang sudah jauh lebih baik.

Ada baiknya kanopi itu dipindahkan ke belakang, jika memungkinkan, sehingga arsitektur bangunan masjid bisa terlihat dan dinikmati pejalan. Demikian juga bangunan sekretariat yang berada di sebelah kanan. Halaman depan yang lapang akan membuat masjid lebih lega dan anggun. Setelah lokasi Makam Pangeran Jayakarta diberitahukan kepada umum oleh keturunannya pada 1960-an, yang selama masa pendudukan Belanda disembunyikan, makam dan bangunan masjid selalu mengalami perbaikan dan peningkatan pada setiap masa jabatan Gubernur DKI.

masjid assalafiyah jatinegara kaum
Papan tengara tanah wakaf Masjid Assalafiyah serta status Cagar Budaya yang berada di sisi kiri lorong, menutupi sebagian pandangan ke arah Makam Pangeran Jayakarta yang berada di belakang sana, di bawah cungkup tanpa dinding. Beberapa makam adalah makam baru, tidak sebagaimana di kompleks Makam Pangeran Sanghyang yang semuanya merupakan makam tua.

Tepat di samping luar pintu utama masjid ada bedug besar dan kentongannya, yang semuanya terbuat dari kayu jati. Yang menarik pada bedug ini adalah paku-paku dan pasak-pasak besar bundar yang melekatkan kulit bedug pada rangkanya, sementara pada kayu jatinya sendiri tidak terlihat ada ornamen ukir menonjol.

masjid assalafiyah jatinegara kaum
Pemandangan bagian dalam masjid, arah ke mihrab, membelakangi area yang diperuntukkan bagi wanita. Pintu masuk masjid berada di sebelah kiri. Semula Masjid Assalafiyah Jatinegara Kaum merupakan bangunan kecil disangga empat pilar serta sebuah cungkup.

Seluruh karpet masjid ditutupi karpet sajadah hijau. Tulisan kaligrafi dalam huruf Arab tampak menghiasi dinding mihrab bagian atas dan di atas pintu-pintu masuk. Kaca-kaca patri menghiasi pintu-pintu dan jendela masjid, yang merupakan sumber utama pencahayaan ruangan saat siang. Bagian dalam puncak atap Masjid Assalafiyah Jatinegra Kaum juga ada kaca-kaca patri di keempat sisinya, dan ada lampu gantung kristal berisi 12 lampu kecil dan sebuah lampu besar di tengah. Bagian luar atap berbentuk limasan tumpang yang menyudut pada bagian ujungnya, berbeda dengan Masjid Agung Demak yang lurus tanpa kelokan.

Daerah Jatinegara kaum pada jaman dahulu konon merupakan area hutan jati, sehingga di sekitar tempat ini sampai sekarang terkenal sebagai pusat kerajinan perabot kayu jati. Selain mimbar kayu jati pada mihrab dan tulisan kaligrafi di sepanjang dinding atas, diantaranya huruf kaligrafi Allah dan Muhammad, terdapat tiga buah jam kayu besar berdiri di pojok depan ruangan.

Meskipun Masjid Assalafiyah peninggalan Pangeran Jayakara ini tampaknya tidak kekurangan biaya untuk melakukan perbaikan dan peningkatan fasilitas, namun tata ruang dan rancangan area luar masjid utama masih memerlukan perbaikan, terutama pada bagian depan. Menyingkirkan kanopi di bagian depan merupakan salah satunya.

Masjid Assalafiyah Jatinegara Kamu

Alamat : Jl Jatinegara Kaum No 49, Kecamatan Pulogadung, Jakarta Timur. Telp 021–4704428. Lokasi GPS : -6.20236, 106.90086, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Rujukan : Peta Wisata Jakarta, Tempat Wisata di Jakarta, Hotel di Jakarta Timur. Galeri (13 foto) Masjid Assalafiyah Jatinegara Kaum : 1.Tengara, 2.Kanopi, 3.Wakaf, 4.Mihrab, 5.Patri, 6.Kristal, 7.Jati, 8.Mimbar, 9.Bedug … s/d 13.Makam.

Matched content

Bagikan tulisan ini di : Facebook | Twitter | WhatsApp | Email atau Print!
Home » Jakarta » Jakarta Timur » Masjid Assalafiyah Jatinegara Kaum
Tag : , ,

Oleh Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email untuk kabar tulisan terbaru. Diperbarui pada 21 Juli 2017.

Sebelumnya : «
Berikutnya : »
Lihat pula : Sitemap