Masjid Angke Jakarta

Home » Jakarta » Jakarta Utara » Masjid Angke Jakarta
Cari | Share | Tweet | WA | Print!.

Masjid Angke Jakarta adalah salah satu masjid tua yang masih bertahan, dan kuat, di tengah permukiman padat Kota Jakarta. Masjid Jami Angke, yang nama resminya Masjid Al-Anwar, lokasinya berada di Gg. Masjid No. 1, di selatan Jl Pangeran Tubagus Angke RT 01/RW 05, Kampung Rawa Bebek, Kelurahan Angke, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat.

Masjid Angke Jakarta

Alamat: Gg. Masjid No. 1, Jalan Pangeran Tubagus Angke RT 01/RW 05, Kampung Rawa Bebek, Kelurahan Angke, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Lokasi GPS: -6.14339, 106.79607, Waze. Telp. 021-6348768. Jam buka sepanjang hari dan malam. Harga tiket masuk gratis. Rujukan: Peta Wisata Jakarta, Tempat Wisata di Jakarta, Hotel di Jakarta Utara.
Galeri (27 foto): 1.Depan, 2.Ornamen, 3.Kaligrafi, 4.Pilar, 5.Mimbar, 6.Allah, 7.Tangga, 8.Beton, 9.Mihrab … s/d 27.Makam

Kendaraan harus parkir di tepi Jl Tubagus Angke, karena Masjid Jami Angke berada dalam gang kecil. Mulut Gang Masjid pada GPS -6.14264, 106.79609. Setelah berjalan 50 meter dari mulut gang kami sampai ke halaman masjid yang tak begitu luas, namun bersih dan dikeramik. Suasana kampung sangat terasa di tempat ini. Pintu pagar masjid yang berjeruji besi dibiarkan terbuka yang membuat orang bebas keluar masuk area Masjid Angke Jakarta ini.

Kampung Bali dimana masjid didirikan ini dulunya dikenal dengan nama “Kampung Goesti”, karena perkampungan ini pernah dipimpin oleh Kapten Goesti Ktut Badulu. Di seberang pagar masjid terdapat papan hijau dengan tulisan putih yang berbunyi “Makam Pangeran Syarif Hamid Bin Sultan Syarif Abd Rahman Al Kadri dari Pontianak. Wafat th 1854”

masjid angke jakarta
Bagian depan Masjid Angke Jakarta dibatasi dengan pilar beton pendek dan pagar besi itu. Halaman Masjid Angke yang luasnya sekitar 500 m2 sebagian besar telah ditutup bangunan tambahan beratap seng yang digunakan untuk tempat sholat jika ruang utama sudah penuh, tempat wudhu, ruang perpustakaan, dan tempat untuk mengaji.

Atap tumpang susun Masjid Jami Angke Jakarta ini bergaya limasan dengan mustaka kecil di puncaknya. Limasan adalah bentuk rumah adat Jawa yang sederhana dimana konstruksi bangunan bisa dibongkar pasang karena secara keseluruhan memakai konstruksi kayu. Speaker masjid ada di bawah mustaka mengarah ke selatan dan utara. Tak ada menara.

masjid angke jakarta
Bentuk dan ornamen menarik pada pintu masuk utama ke dalam ruangan Masjid Angke Jakarta, dengan warna coklat tua yang melebar bawahnya, dihias ukiran dan gegaris berwarna keemasan. Sementara lubang anginnya pada tembok diberi ornamen botol-botolan coklat tua bersusun dan berjajar ke samping, dengan garis lingkar berwarna keemasan.

Pintu masuk ini juga dibiarkan terbuka, sehingga bagian mihrab dan mimbar berundak tampak terlihat dari jauh, dengan ornamen kaligrafi pada tembok bagian atasnya. Samar-samar terlihat anak tangga kayu yang menuju ke lantai-2 di belakang lubang angin yang berada di sebelah kiri. Posisi ruang utama masjid ini lebih tinggi dari halamannya.

Menurut Muhammad Habib, pengurus masjid generasi ke-8, Masjid Angke Jakarta yang didirikan pada 1761 ini arsiteknya adalah Syaikh Liong Tan, dengan dukungan dana Ny. Tan Nio, yang masih ada hubungannya dengan Ong Tin Nio, istri Syarif Hidayatullah. Karena itulah pengaruh arsitektur Tiongkok juga ada pada bangunan Masjid Jami Angke ini.

Pada sisi kanan masjid terdapat ruangan sekretariat dan perpustakaan, dan di sebelah kirinya terdapat ruangan untuk tempat anak-anak mengaji. Dzikir bulanan di Masjid Angke Jakarta biasanya dilakukan setiap minggu ke-empat, setelah sholat dhuha, dan setiap malam Jumat juga diadakan dzikir serta Yasinan yang dilakukan oleh jamaah masjid.

masjid angke jakarta
Ruang utama Masjid Angke Jakarta sepenuhnya telah dilapisi oleh karpet sembahyang yang tampak bersih dan relatif masih baru. Bagian mihrab, arah kiblat, tampak elok karena mimbarnya yang tinggi sehingga ada sejumlah undakan dan dibuat seperti gapura paduraksa yang anggun. Kisi lubang hawa pada dinding ruangan juga berbentuk botolan.

Bagian dalam puncak atap Masjid Angke yang berbentuk persegi empat semuanya terbuat dari kayu. Di keempat sisinya terdapat kisi-kisi jendela kayu, yang di bawahnya, pada sisi kiri dan kanan, terdapat tulisan Arab dalam kotak yang berjumlah 101. Jumlah 99 mungkin berisikan sifat-sifat Allah, namun entah apa yang berada di dua kotak sisanya.

masjid angke jakarta
Empat pilar beton masjid tampak kokoh, dengan lekuk garis simetris pada bagian bawah dan atasnya, serta ornamen kaligrafi di bagian atas. Keempat pilar setinggi 9 meter ini konon melambangkan empat sahabat nabi. Masjid Angke Jakarta pernah mengalami beberapa pemugaran, diantaranya adalah pada tahun 1969-1970, 1973, 1974, dan 1985-1987.

Di halaman belakang masjid terdapat Makam Syaikh Liong Tan, arsitek Masjid Angke Jakarta. Ada dua kelompok makam di sana, sedangkan satu kelompok pemakaman lagi ada di seberang depan masjid. Di sekitar masjid ini dimakamkan orang-orang keturunan Arab, Bali, Banten, Pontianak, dan Tartar. Ada sejumlah ornamen nisan yang menarik di sana.

Di halaman belakang masjid ada pula Makam Sarifah Maryam, dan Makam Syekh Jaffar yang adalah anak Pangeran Tubagus Angke yang diberi pembatas besi dan ditutup dengan kelambu. Setelah melihat makam di bagian belakang Masjid Angke Jakarta, Pak Muhammad Habib menemani saya ke kompleks makam tua lainnya yang berada persis di seberang masjid.

Makam Pangeran Syarif Hamid Al Kadri berada di bawah cungkup, ditutupi kelambu berwarna kuning keemasan di bagian bawah dalamnya. Ayahnya, Sultan Syarif Abd. Rachman Al Kadri, adalah pendiri Kota Pontianak. Konon Pangeran Syarif Hamid Al Kadri memimpin pemberontakan melawan Belanda pada tahun 1800-an, namun tertangkap dan dibuang ke Batavia.

Di belakang Makam Pangeran Syarif Hamid Al Kadri terdapat Makam Ibu Ratu Pembayun Fatimah, anak dari Sultan Maulana Hasanudin, dari Keraton Surosowan, Banten, yang menjadi isteri Pangeran Tubagus Angke. Bagian luar makam Pangeran Syarif Hamid Al Kadri terdapat tulisan berhuruf Arab gundul yang diukir di atas sebuah batu marmar.

Share | Tweet | WA | Email | Print! | Tag: , ,

Oleh Bambang Aroengbinang. Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kirim pesan ke BA lewat email, atau lewat WA jika ingin menjadi penulis di Aroengbinang. Diperbaiki 26 Mei 2017.

Lalu «
Baru » »