Masjid Al Wustho Mangkunegaran Solo

Letak Masjid Al Wustho Mangkunegaran Solo hanya sekitar 60 meter dari pertigaan jalan samping ke Puro Mangkunenaran, istana kuno yang saya kunjungi beberapa saat sebelumnya, namun terpaksa balik badan lantaran tutup pada hari libur nasional itu. Sebuah informasi penting yang tak saya ketahui sebelumnya.

Tembok dan gerbang masuk ke halaman Masjid Al Wustho Mangkunegaran persis di tepi Jalan Kartini di wilayah Banjarsari, Solo. Tembok luarnya tidak rata, tinggi rendah membentuk kuncup-kuncup daun besar kecil berselang-seling, sedikit lebih tinggi dari orang dewasa.

Mobil bisa masuk ke dalam halaman Masjid Al Wustho Mangkunegaran, namun ketika Jumatan dua hari kemudian di tempat ini kami hanya kebagian parkir di tepi jalan. Itupun pada lajur kedua. Di kompleks masjid seluas 4.200 m2 ini terdapat sebuah bangunan berbentuk bundar yang disebut maligen yang dibangun oleh Mangkunegara V untuk khitanan putra kerabat Mangkunegaran. Sejak Mangkunegara VII, maligen boleh digunakan oleh perkumpulan Muhammadiyah sebagai tempat khitanan masyarakat umum.

masjid al wustho mangkunegaran
Seorang ibu penjual sayur keliling tengah mendorong kereta dagangannya melintas di depan gerbang Masjid Al Wustho Mangkunegaran. Gerbang paduraksa ini dibuat pada 1917-1918, berhiaskan relief kaligrafi Arab.

Gapura paduraksa kedua yang lebih kecil dengan model sama terlihat tepat di depan serambi masjid. Menara tunggal Masjid Al Wustho Mangkunegaran setinggi 25 meter dan berdiameter 2 meter tampak di sebelah kanan. Menara Masjid Al Wustho Mangkunegaran dibangun pada 1926.

Nama Al Wustho pertama kali digunakan pada 1949 oleh Raden Tumenggung KH Imam Rosidi yang menjadi Penghulu Pura Mangkunegaran. Al-Wustho berarti tengah atau pertengahan, merujuk pada ukuran masjid yang tidak sebesar Masjid Agung Keraton Kasunanan Surakarta namun tidak sekecil Masjid Kepatihan.

masjid al wustho mangkunegaran
Pandangan pojok Masjid Al Wustho Mangkunegaran yang memperlihatkan atap masjid yang berbentuk tajug tumpang tiga dengan mustaka di puncaknya, khas Jawa, hasil rancangan ulang Herman Thomas Karsten, seorang arsitek Belanda, ketika dilakukan renovasi besar-besaran pada masjid ini atas prakarsa Mangkunegara VII.

Menempel pada dinding serambi yang ditopang 18 tiang adalah tengara yang ditulis dalam huruf dan bahasa Arab serta di sebelahnya dalam bahasa dan aksara Jawa. Lalu di atasnya terdapat tengara Cagar Budaya yang ditetapkan pada November 2012.

Pada serambi berukuran 22 x 11 meter itu juga terdapat sebuah bedug besar bernama Kanjeng Kyai Danaswara yang terlihat kulitnya masih baru dan kentongan kayu tinggi digantung di sisinya. Semua pintu masuk dari serambi terkunci, namun pintu samping yang berada di dekat tempat wudhu dibuka, sehingga saya bisa masuk ke dalam ruang utama masjid setelah mengambil air wudhu.

Masjid Al Wustho Mangkunegaran awalnya dibangun atas prakarsa Pangeran Sambernyawa atau KGPAA Mangkunegara I (7 April 1725 – 28 Desember 1795 ) sebagai Lambang Panatagama. Masjid itu sebelumnya berada di wilayah Kauman, Pasar Legi, lalu dipindahkan ke tempatnya yang sekarang oleh Mangkunegara II.

masjid al wustho mangkunegaran
Pandangan pojok pada ruang utama Masjid Al Wustho Mangkunegaran berukuran 24 x 22 m, memperlihatkan keelokan jajaran empat sakaguru dan 12 sakarawa (penyangga pembantu) yang juga menjadi ciri khas masjid di Jawa. Warna dominan adalah hijau dengan warna keemasan pada ornamen. Kaligrafi Arab menghiasi bagian bawah sakaguru.

Mimbar kayu berukir penuh dan indah dengan motif bunga dan suluran berada diluar mihrab, di sisi kanan. Bagian mihrab yang berbentuk kuncup juga dihias tulisan kaligrafi huruf Arab yang diukir pada kayu mengikuti lekuk lubang mihrab. Selain lampu gantung kristal di tengah, juga ada beberapa lampung gantung kristal yang lebih kecil pada keempat sisi.

Masjid Al Wustho Mangkunegaran

Alamat : Jl. Kartini, Banjarsari, Solo, Jawa Tengah. Lokasi GPS : -7.5655028, 110.8216344, Waze. Galeri : 11 foto. Rujukan : Tempat Wisata di Solo . Peta Wisata Solo . Hotel di Solo. Galeri (11 foto) Masjid Al Wustho Mangkunegaran : 1.Simetri ruang utama 2.Kaligrafi pada sokoguru, 3.Ukir indah pada mimbar 5.Tengara pada serambi 6.Tengara Cagar Budaya 7.Kentongan dan bedug 9.Menara masjid … s/d 11.Gapura paduraksa.

Share | Tweet | WA | Email | Print!
Home » Jawa Tengah » Solo » Masjid Al Wustho Mangkunegaran Solo

By Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email for newly published posts. Updated on 16 Juli 2017. Tag: ,

Tulisan sebelumnya : Mandala Wisata Wenara Wana Ubud Bali | Candi Muara Takus di Kampar | Petilasan Eyang Abiyoso Rahtawu Kudus | Kelenteng Kwan Tie Miaw Pangkalpinang | Bakso Lapangan Tembak Senayan JCC | 31 Peta Hotel Jakarta Timur | The Naked Person |